4 Dari 5 Saksi Yang Diperiksa Saat Sidang, 1 Saksi Bantah Keterangan di BAP

by -476 views
Sidang pemeriksaan 5 saksi kasus dugaan tindak pidana pemilu di Pengadilan Negeri (PN) Tanjungpinang
Sidang pemeriksaan 5 saksi kasus dugaan tindak pidana pemilu di Pengadilan Negeri (PN) Tanjungpinang
Iklan Banner

Tanjungpinang, (MetroKepri) – Sidang perkara dugaan tindak pidana Pemilu dengan terdakwa M. Apryandy kembali digelar di PN Tanjungpinang dengan agenda pemeriksaan saksi-saksi, Selasa (18/6/3/2019).

Sidang kedua ini telah memasuki pemeriksaan pokok perkara, setelah Majelis Hakim yang diketuai Acep Sopian Saur ini menolak eksepsi penasehat hukum terdakwa, yang disampakan pada persidangan sebelumnya.

Sebagaimana diketahui, dalam persidangan perkara pidana No: 182/Pid.sus/2019/PN.Tpg ini, M. Apryandy yang merupakan caleg Gerindra, didakwa melakukan tindak pidana money politic sebagaiamana dalam pasal 523 ayat (1) Jo pasal 280 ayat (1) UU No.7 Tahun 2017 ttg Pemilu.

Ketua Majelis Hakim Acep Sopian kemudian meminta Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejaksaan Negeri (Kejari) Tanjungpinang Zaldi Akri untuk mengahdirkan saksi.

Ada 10 saksi yang diajukan JPU, untuk sidang awal 5 orang saksi yang diperiksa. 4 orang bersamaan, 1 orang saksi terpisah hingga pukul 21.00 Wib.

Adapun ke-lima saksi yang dimintai keterangan, yaitu Sukoy De Komar dari Satreskrim Polres Tanjungpinang, dan 4 orang warga, Ipen, Yusrizal, Suyono bersama istrinya, Sri Setiawati.

Sukoy De Komar dalam keterangannya menceritakan kronologi pengungkapan dugaan politik uang. Sukoy mengatakan awalnya menerima informasi dari warga yang menyebut ada bagi-bagi uang ke warga dari seorang caleg melalui timnya bernama Agustinus Marpaung, di wilayah Perumahan Bukit Raya, Tanjungpinang Timur, Tanjungpinang.

Saat itu, Selasa (16/04/2019), sekira pukul 18.00 Wib, Dia bersama tim anggota Satreskrim yang salah satunya Bripka Juara Limbong, kemudian meluncur ke TKP, dan mendatangi rumah Agustinus Marpaung, yang ternyata menjabat Ketua RT 3 RW 11, di Kelurahan Pinang Kencana.

Saat ditanya, kata Sukoy, Agustinus Marpaung membenarkan membagi-bagi uang, dan menyebut sumber uangnya dari seorang caleg DPRD Kota Tanjungpinang bernama M Apriyandi. Uang juga dibagikan melalui Ipen, Dewi dan Yusrizal.

Tambah Sukoy, Agustinus pernah bertemu dengan M Apriayandi di kantor DPD Gerindra Kota Tanjungpinang, pada 10 April 2019, untuk mengambil 300 amplop yang berisi uang Rp 200 ribu per amplop. Agutinus datang bersama Ipen dan Yusrizal.

Namun hakim dan penasihat hukum terdakwa mempermasalahkan Sprint tugas tim Satreskrim saat mendatangi rumah Agustinus dan beberapa warga lainnya, namun penuntut umum tak bisa menunjukkan Sprint yang dimaksud dalam berkas perkara yang diajukan ke PN.

Selanjutnya, dua saksi yang yang terlebih dulu diperiksa, yaitu Suyono dan Sri Setiawati. Pasangan suami istri ini mengaku tidak mengenal sama sekali Apryandya.

“Kami tak pernah ketemu dan tidak kenal dengan Pak Apryandy,” jawab keduannya di persidangan.

Dalam keterangannya, keduannya menerima uang dari Agustinus, masing-masing Rp 300 ribu. Uang diberikan Agustinus untuk Sri (Istri Suyono) karena menjadi saksi, sedangkan buat Suyono untuk transportasi istrinya yang dijanjikan Agustinus.

Keduanya juga tidak tau menahu dari mana asal uang tersebut karena tidak pernah diberitahukan oleh Agustinus.

“Kami tak tau karena Pak Agustinus tak pernah ceritakan, dari siapa uang itu, dan tidak pernah menyuruh untuk memilih Pak Apryandy,” kata Suyono dan istrinya.

Setelah mendengar saksi tersebut, dilanjutkan mendengar kesaksian Peni alias Ipen. Dalam keterangan Ipen, Hakim dan JPU kurang memahami apa yang dikatakan Ipen karena selalu berubah-ubah saat ditanya hingga membuat hakim dan jaksa bahkan penasehat hukum terdakwa pusing.

Awalnya Ipen membantah keterangannya dalam  BAP, yang menyebut tidak pernah menerima uang dari Apryandy dalam bungkusan plastik warna hitam seperti keterangannya dalam BAP.

Dia juga mengatakan tak tahu menahu soal urusan Agustinus dan Yusrizal ke sekretariat Gerindra karena dia yang bertetangga dengan Agustinus dan Yusrizal, saat itu karena diajak keluar oleh Agustinus untuk minum kopi.

“Saya ikut saja BAP Pak Agustinus, karena saya nggak tau soal uang dalam amplop, saya juga tak tau urusan mereka (Agustinus dan Yusrizal) ke kantor DPD (Gerinda) itu, karena saya ikut diajak Pak RT Agustinus untuk ngopi-ngopi bukan ke Kantor Gerindra,” kata Ipen memberikan keterangan

Ipen dalam pengakuannya mengatakan, selama di kantor Gerindra saat itu dirinya memakai celana pendek hanya duduk saja di lantai bawah, dan tidak pernah bertemu Apryandy di Lantai 2.

“Jadi saudara saksi tidak ada bawa bungkusan plastik warna hitam saat pulang dari kantor Gerindra,” tanya hakim juga jaksa.

Ipen menjawab, “Tidak ada Pak, kan saya tak tau urusan mereka karena saya ikut karena diajak ngopi Pak RT Agustinus,” ujarnya sambil garuk-garuk kepala.

Tidak hanya hakim dibuat kesal, JPU juga sempat berang karena menyangkal keterangannya di BAP. Jaksa lalu memperlihatkan tandatangan saksi di BAP ke meja hakim, yang diikuti saksi Ipen dan kuasa hukum Apriyandy.

Namun, saat Hakim menjelaskann bahwa jika memberikan keterangan tidak jujur dan tidak sesuai dengan apa yang dikatakan dalan BAP akan dikenakan dugaan pemberian keterangan palsu, Ipen berbalik membenarkan keterangannya dalam BAP.

Lagi-lagi jaksa dibuat pusing karena tak mengakui menerima duit yang dimaksud dari Apryandy.

Dan, akhirnya seakan terdesak, Ipen kemudian membuat pengakuan menerima uang dari Apryandy dalam bungkusan plastik. Bahkan dia menyebut saat Apryandy memberikan uang sempat menyampaikan pengarahan ‘agar membagi-bagikan uang tersebut kepada tim dan relawan’.

Sementara, saksi Yusrizal membantah keterangan dalam BAP. Jawabannya sama dengan Ipen, ikut BAP Agustinus, mulai dari keterangan di Bawaslu hingga di polisi. Meski diancam bisa dikenakan pidana karena memberikan keterangan palsu, Yus kokoh mencabut laporannya di BAP.

Dihadapan persidangan, Yusrizal menceritakan bahwa benar dirinnya bersama Ipen dan Agustinus datang bersama-sama ke kantor Gerindra. Seperti pengakuan Ipen, Yusrizal menyebut Ipen memang tidak tau tujuan awalnya karena hanya diajak Agustinus untuk ngopi-ngopi.

Sedangkan yang mengajak Agustinus adalah Yusrizal sendiri setelah ia mendapat telepon dari seseorang bernama Rais yang meminta datang ke kantor Gerindra.

Mengenai uang dalam bungkusan plastik, Yus tidak menyangkal, tapi dia tidak terima soal jumlah 300 amplop yang masing-masing berisi Rp 200 ribu, yang jika dijumlahkan menjadi Rp 60 juta.

Yang benar, menurut Yus, adalah 50 amplop yang berisi Rp 200 ribu per amplop, atau sebesar Rp 10 juta. Uang itu diterima dari Rais bukan dari Apryandy yang dibuktikan dari kwitansi penerimaan yang kemudian ditunjukkan ke Majelis Hakim oleh penasihat hukum terdakwa.

Saat menerima uang tersebut, hanya Yus dan Agustinus, sedangkan Ipen berada di Lantai bawah kantor. Tujuan uang diterima, pesan Rais, untuk mencari saksi-saksi. Uang diletakkan diatas meja, lalu Agustinus turun memanggil Ipen untuk mengambil bungkusan tersebut dan membawa ke dalam mobil Agustinus.

“Kami terima uang dalam bungkusan plastik hitam dari Pak Rais di Lantai 2. Jumlah 50 amplop (Rp 200 ribu per amplop) Yang terima saya dan Agustinus sedangkan Ipen berada di Lantai 1,” demikian keterangan Yusrizal menjawab pertanyaan hakim maupun jaksa dan penasihat hukum terdakwa.

Keterangan Yus ini sekaligus menyangkal keterangan Ipen yang ikut bersama menerima uang. Yus bahkan menegaskan tidak ada pengarahan apapun dari terdakwa, termasuk yang menyebutkan: tolong uang ini dibagi-bagi untuk tim dan relawan sebagaimana pengakuan Ipen.

Dengan penacabutan keterangan Yusrizal di BAP, hakim memerintahkan jaksa untuk menghadirkan verbalisan (penyidik) ke persidangan.

“Penuntut umum agar mengadirkan saksi verbalisan pada sidang berikutnya, besok, Rabu (19/06) untuk dikonfrontir dengan saksi Yusrizal,” kata Ketua Majelis Hakim Acep Sopian Sauri. (*)

Penulis: Novendra

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.