Asa Diujung Utara, Poles Geopark Natuna Menuju UNESCO Global Geopark

by -129 views
Rambu Penunjuk arah bantuan dari CSR Migas sebagai salah satu sarana pendukung menuju UNESCO Global Geopark
Rambu Penunjuk arah bantuan dari CSR Migas sebagai salah satu sarana pendukung menuju UNESCO Global Geopark
Iklan Banner

Natuna, (MetroKepri) – Natuna salah satu kabupaten yang mempunyai kondisi geografis kepulauan diujung utara Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Dengan kondisi geografisnya yang unik, Natuna menyimpan sumber daya alam melimpah termasuk potensi wisatanya yang memiliki keragaman geologi, keanekaragaman hayati dan budaya.

Sejak ditetapkan menjadi Geopark Nasional dan diberi sertifikat dari Komite Nasional Geopark Indonesia pada 29 November 2018 lalu, Kabupaten Natuna diberi peluang dalam mengelola “Berlian” ini secara terpadu untuk keperluan konservasi, edukasi dan pemberdayaan ekonomi berkelanjutan.

Penetapan Natuna menjadi Geopark Nasional bukanlah tanpa alasan, karena terdapat 8 warisan geologi (Geoheritage) berdasarkan hasil kegiatan survey Badan Geologi yang berusia jutaan bahkan ratusan juta tahun yang lalu.

Sayangnya, akibat dari pandemi Covid 19 yang sedang terjadi saat ini, semua daerah termasuk Natuna mengalami kelesuan dari semua lini. Namun, kelesuan ini tidak membuat niat semua pihak dalam mendukung Natuna menuju UNESCO Global Geopark terhenti ditengah jalan.

Salah satu pihak, yakni CSR Migas, secara perlahan dan bertahap telah memberikan kontribusi dan melirik usulan-usulan dari pemerintah daerah dan masyarakat kepada pengembangan kelengkapan sarana pendukung dari geosite-geosite yang sudah ditetapkan dibeberapa titik.

Beberapa dukungan Hulu Migas dapat dilihat dari pembangunan Landmark, sosialisasi Geopark, pengembangan fasilitas umum dan pemasangan rambu-rambu Geopark.

 

Kawasan Geosite Pantai Batu Kasah

 

Momen liburan merupakan waktu yang dinantikan oleh banyak orang dalam mengisi waktu luangnya setelah melakukan rutinitas sehari-hari. Sebahagian momen ini dipakai oleh masyarakat untuk pergi ketempat-tempat wisata, baik yang sudah berkeluarga, berpasang-pasangan, jomblower dan para remaja.

Letaknya juga tidak terlalu jauh dari Kota Ranai, salah satu tempat wisata favorit di Kecamatan Bunguran Selatan, nama Pantai Batu Kasah sudah tidak asing lagi ditelinga masyarakat Natuna. Bahkan, nama pantai ini semakin mencuat dalam dunia pariwisata domestik sejak ditetapkan menjadi Geopark Nasional beberapa waktu lalu bersama tujuh Geosite lain yang tersebar dibeberapa lokasi seperti Pulau Akar, Pulau Setanau, Tanjung Senubing, Pulau Senua, Goa Kamak, Tanjung Datuk dan Gunung Ranai.

Menyisiri jalanan mulus yang sudah dilapisi aspal, dengan jarak tempuh kurang lebih 30 menit dari Kota Ranai dengan mengendarai sepeda motor maupun mobil, masyarakat sudah bisa sampai ke kawasan Pantai Batu Kasah. Lebih kurang 1.500 meter sebelum memasuki kawasan pantai ini, terpampang rambu penunjuk arah tempat kawasan Geosite ini berada. Rambu penunjuk arah ini juga memudahkan bagi para pengunjung untuk mengetahui arah pasti dari kawasan ini.

Begitu hendak memasuki kawasan, papan plang bertuliskan Pantai Batu Kasah berdiri tegak menyambut pengunjung. Di bawah tulisan Pantai Batu Kasah tertulis Kementerian Kelautan dan Perikanan yang menandakan ini merupakan bantuan dari kementerian terkait.

Di dalam kawasan, juga terpampang plang informasi yang bertuliskan “Kawasan Situs Geosite Pantai Batu Kasah” dan tertata dengan rapi tempat parkir untuk kendaraan roda dua dan roda empat. Kumpulan pohon, didominasi pohon nyiur, melambai ditiup angin laut menyambut para pengunjung menambah suasana teduh dan damainya kawasan geosite ini.

Kawasan Geosite Pantai Batu Kasah
Kawasan Geosite Pantai Batu Kasah

Keindahan dan kealamian kawasan ini semakin mempesona dengan gundukan batu granit yang berdiri kokoh dibeberapa lokasi bibir pantai.

Dengan luas kurang lebih 8 hektar dengan tujuh orang pemilik lahan, kawasan geosite ini menyediakan kuliner sederhana seperti mi rebus, mi goreng, bakso, soto dan gorengan dengan minuman khas air kelapa muda, membuat para pengunjung betah berlama-lama menikmati keindahan langit yang seakan-akan bisa dijamah. Pantai berwarna hijau kebiru-biruan serta hamparan pasir yang menggoda untuk dipermainkan.

Bagi para pengunjung yang ingin mendapat tempat khusus, 10 unit gazebo telah tersedia untuk disewakan. Selain gazebo, sarana dan prasarana lain seperti Musholla, kamar mandi, pondok informasi wisata bahari dan snorkeling telah tersedia di kawasan geosite ini.

”Satu unit gazebo disewakan Rp20.000 dengan waktu tiga jam. Tapi namanya kearifan lokal, kadang lebih dari tiga jam kami tidak minta sewanya lagi,” ucap Abdillah sambil tersenyum saat dijumpai di kawasan Geosite Pantai Batu Kasah beberapa waktu lalu.

Pria berkacamata dan merupakan salah seorang pengelola terpadu kawasan geosite Pantai Batu Kasah ini menjelaskan, beberapa sarana pendukung telah dibangun dari bantuan dana CSR Migas untuk memantapkan langkah Natuna menuju Unesco Global Geopark.

“Alhamdulillah, dukungan kepada Natuna untuk menuju UNESCO Global Geopark selalu ada. Hulu Migas, salah satu pihak yang sangat mendukung sekali hal ini. Untuk sarana pendukung, tahun kemaren melalui CSR Migas dibantu rambu penunjuk arah, letaknya di simpang yang jaraknya lebih kurang 1500 meter dari sini, terus didalam kawasan dibantu plang informasi. Yang harus diingat, sarana pendukung yang dibangun jangan sampai mengganggu kawasan inti, jadi kealamian kawasan harus terjaga dan tidak boleh diganggu,” katanya sambil menunjukkan letak plang informasi berada.

Saat ini, sarana pendukung yang ada masih kurang dalam mendukung Pantai Batu Kasah untuk mencapai UNESCO Global Geopark. Untuk tahun ini, ia menjelaskan, pihak pengelola kawasan sudah mengusulkan bak penampungan air bersih, karena mengingat sudah biasa bulan dua dan tiga akan terjadi kemarau dan sulit mendapatkan air bersih. Selain itu, pengelola juga mengusulkan kamar bilas, WC, panel surya serta penambahan beberapa unit gazebo.

“Tapi gara-gara pandemi Covid 19, kami tidak tahu lagi informasi apakah usulan kami ini akan dibantu atau tidak melalui CSR Migas,” ucap pria yang telah merintis kawasan geosite ini sejak tahun 2003 lalu.

Ia melanjutkan, para pengunjung yang berkunjung ke geosite Pantai Batu Kasah bukan hanya dari Kabupaten Natuna saja, tetapi juga berasal dari luar Natuna dan luar negeri.

”Kalau wisatawan lokal dari luar Natuna pasti kelihatan dari logat bahasanya. Untuk bule, tahun lalu ada yang datang satu-satu. Itulah manfaat rambu penunjuk arah bantuan dari CSR Migas, wisatawan dari luar Natuna bisa tahu arah geosite ini. Saya dengar beberapa geosite yang lain juga telah dibuat rambu penunjuk arah dan plang informasi. Mudah-mudahan pihak migas tetap komitmen dan mendukung Natuna menjadi UNESCO Global Geopark,” katanya sambil meminta ijin pamit untuk mengawasi para pengunjung yang sudah mulai ramai.

Waktu telah menunjukkan pukul 15.30 WIB, pengunjung yang datang semakin ramai. Senyum dan gelak tawa menghiasi wajah mereka. Seakan ingin melepas semua penatnya aktifitas sehari-hari, sebagian pengunjung, baik tua dan muda, langsung menuju pantai untuk bermain dengan riak air laut.

Anak-anak dengan santai berlari kecil dengan temannya dan sesekali menjamah pasir. Sebagian pengunjung memanfaatkan momen ini dengan berswafoto bersama keluarga, teman, pasangan maupun selfie. Sebagian lagi duduk di gazebo, rerumputan dan batuan kecil disekitar pantai sambil menyantap kuliner, bernyanyi dan tertawa sembari menikmati indahnya secuil surga di laut sakti rantau bertuah.

 

Geosite Pulau Akar

 

Tidak jauh dari Geosite Pantai Batu Kasah, dengan waktu tempuh lebih kurang 5 menit dengan kendaraan roda dua maupun roda empat, dapat dikunjungi salah satu geosite lainnya yakni Geosite Pulau Akar.

Hal yang sama dijumpai ketika hendak masuk ke kawasan ini. Di simpang jalan menuju geosite, terpampang rambu penunjuk arah yang memberitahukan jarak menuju lokasi lebih kurang 100 meter. Selain itu juga, terdapat plang informasi yang bertuliskan “Kawasan Situs Geosite Pulau Akar” bantuan dari CSR Migas.

Karena letaknya agak menjorok kedalam, terdapat pelantar kayu yang menghubungkan pulau kecil ini dengan daratan. Di geosite ini hanya terdapat dua gazebo dengan pemandangan unik dan alami. Dikatakan unik, karena Geosite Pulau Akar dikelilingi oleh bebatuan berusia ratusan juta tahun lalu dan tersusun dengan alami tanpa campur tangan manusia.

Sayangnya, kawasan geosite ini tidak bisa menampung banyak pengunjung karena luasnya kecil, lebih kurang 50 meter persegi.

Selain bebatuan, beberapa pohon hidup dengan subur di geosite ini, mayoritas ditumbuhi Pohon Setigi. Beberapa pengunjung yang datang ketempat ini mengabadikan momen dengan berswafoto dan beristirahat di gazebo.

”Lumayan terbantu lah dengan adanya rambu penujuk arah ini bang, pas di simpang mau masuk lokasi wisata, jadi mata kita langsung bisa melihat disini ada tempat wisata,” ucap Dian, salah satu pengunjung Geosite Pulau Akar.

Menurutnya, dengan adanya rambu penunjuk arah dan plang informasi ini, kawasan geosite jadi mempunyai jati diri, mudah dicari orang, baik pengunjung dari kecamatan lain maupun pengunjung yang baru pertama kali datang ke Natuna.

“Sarana pendukung seperti ini sangat diperlukan, mudah-mudahan wisata di Natuna terus maju dan berkembang,” katanya sambil berlalu dan kemudian berswafoto di salah satu bebatuan.

Dari delapan geosite, dua geosite telah dikunjungi, bukan isapan jempol apabila Geopark Natuna dikatakan “Berlian” diujung utara NKRI dengan segala keindahan alamnya yang membentang luas, serta memiliki pesona keanekaragaman hayati dan budayanya. Setelah sukses ditingkat nasional, kini Natuna layak diperjuangkan ketingkat internasional. Tentunya peran semua pihak sangat dibutuhkan untuk mendukung Natuna menuju UNESCO Global Geopark.

Salah satu pihak yakni, Hulu Migas telah menyatakan secara pasti untuk mendukung penuh hal ini. Tahap demi tahap bantuan sarana pendukung kepada delapan Geosite merupakan bukti nyata untuk mewujudkannya. Kedepannya, asa ini bisa terkabul dan sukses dengan dijadikannya Natuna menjadi warisan yang bisa dinikmati oleh masyarakat dunia hingga ratusan tahun kedepan. (*)

Penulis : MANALU

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.