“Berlian Domestik”, Rasa Lelah Terbayar Dengan Pesona Indah Desa Teluk Buton

by -123 views
Mengabadikan momen diatas bongkahan batu sedimen fluvial sambil menatap indahnya suasana di Geosite Tanjung Datuk
Mengabadikan momen diatas bongkahan batu sedimen fluvial sambil menatap indahnya suasana di Geosite Tanjung Datuk
Iklan Banner

Natuna, (MetroKepri) – Pergi menelusuri kawasan wisata Geosite Tanjung Datuk yang terletak di Kecamatan Bunguran Utara, tepatnya di Desa Teluk Buton membawa kenangan tersendiri dalam menikmati indahnya karunia dari Sang Pencipta di Ujung Utara Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Sejak ditetapkan menjadi salah satu Geopark Nasional, Geosite Tanjung Datuk menjadi salah satu “Berlian Domestik” bersama tujuh geosite lainnya yang berada di Kabupaten Natuna dan tersebar di beberapa lokasi seperti Pulau Akar, Pulau Setanau, Tanjung Senubing, Pulau Senua, Goa Kamak, Pantai Batu Kasah dan Gunung Ranai.

”Berlian Domestik” ini mempunyai peranan penting dalam mendongkrak pariwisata yang akan dikelola secara terpadu untuk keperluan konservasi, edukasi dan pemberdayaan ekonomi berkelanjutan.

Tak puas hanya menjadi “Berlian Domestik”, semua pihak berharap agar Geopark Natuna menjadi “Berlian Internasional” yang bisa dikenal secara luas oleh masyarakat dunia.

Pemandangan Geosite Tanjung Datuk
Pemandangan Geosite Tanjung Datuk

Berangkat bersama teman, menunggangi sepeda motor dari Kota Ranai dengan cuaca cerah di kala siang itu, memacu adrenalin untuk segera melakukan perjalanan.

Dengan persiapan seadanya, hanya membawa air mineral dan makanan ringan serta alat perlengkapan berupa Hand Phone dan Gimbal, perjalanan dimulai dengan mengisi minyak kendaraan di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) yang terletak di Jalan DKW Moh Benteng.

Jalanan mulus yang dilalui, memudahkan perjalanan ke kawasan ini. Dengan waktu tempuh lebih kurang 1 jam 30 menit, untuk tiba di lokasi. Ada empat desa yakni Desa Sepempang, Desa Tanjung, Desa Kelanga dan Desa Pengadah dari dua kecamatan yakni Kecamatan Bunguran Timur dan Kecamatan Bunguran Timur Laut yang harus dilalui.

Selama perjalanan, rasa bosan yang ada bisa dihilangkan dengan menikmati pemandangan pesisir pantai yang banyak ditumbuhi pohon kelapa, bakau dan indahnya langit di laut bebas.

Langit yang semula ceria dari Kota Ranai, mendadak berubah mendung disertai hujan gerimis di perbatasan Desa Pengadah dan Desa Teluk Buton.

Hujan yang semakin deras, memaksa untuk menghentikan laju kendaraan bermotor dan segera berteduh di sebuah pondok yang sudah tidak ditempati lagi, tepatnya di simpang jalan menuju lokasi geosite.

Tak menunggu lama, sekitar 15 menit langit yang tadinya tidak bersahabat kini mulai cerah dan mendukung untuk kembali melakukan perjalanan.

Di simpang jalan menuju geosite, berdiri tegak sebuah rambu penunjuk arah bantuan dari CSR Migas yang menginformasikan lokasi geosite berjarak lebih kurang 400 meter. Jalan yang sudah disemenisasi menuju lokasi, memudahkan para pengunjung untuk tiba dengan cepat.

Perasaan takjub dan heran bercampur menjadi satu saat memasuki kawasan ini. Takjub karena kawasan ini menyajikan pesona menawan dan heran karena medan yang akan ditempuh untuk sampai ke lokasi berupa patahan-patahan batu dan tanah yang menurun kebawah, menyerupai anak tangga yang tidak tersusun dengan rapi.

Hujan yang sempat mengguyur, membasahi tiap patahan batu dan tanah di seluruh kawasan geosite sehingga diperlukan kehati-hatian di tiap langkah.

Dengan nafas sedikit memburu, sesekali pandangan melihat kedepan, pantai dan laut lepas menebarkan pesonanya. Selain pantai dan laut, dapat dilihat juga Pulau Panjang dan Pulau Pendek yang terpisah daratan, menambah rasa penasaran untuk dikunjungi.

Bongkahan batuan sedimen fluvial di kawasan Geosite Tanjung Datuk
Bongkahan batuan sedimen fluvial di kawasan Geosite Tanjung Datuk

Setelah melewati berbagai patahan, hamparan batuan kapur bercampur dengan tanah dan pasir membentuk kawah-kawah kecil menjadi tumpuan kaki untuk melangkah lebih jauh lagi melihat Batuan Sedimen Fluvial yang berusia lebih kurang 38-5,1 juta tahun lalu. Bongkahan batu di bibir pantai disertai hempasan ombak disaat air laut surut semakin terlihat jelas.

Berhenti sejenak sambil beristirahat, kemudian mengabadikan momen dengan berselfi ria dan mengambil video singkat, pandangan tertuju pada tebing yang dipenuhi guratan-guratan alam, dibawahnya terdapat bongkahan-bongkahan batu sedimen fluvial yang menjorok ke laut.

Tidak menunggu lama, dengan langkah bergegas, tebing yang dihiasi guratan alam ini sudah di depan mata. Rasa penasaran yang tinggi, membuat tangan menyentuh guratan alam dan batuan disekitar tebing, seketika rasa takjub dan ucapan syukur kepada Sang Pencipta atas pesona alam yang sudah diberikan terucap didalam hati.

Puas menyentuh dan mengabadikan momen ini dengan berselfi ria dan mengambil video singkat, beristirahat diatas bongkahan batu sambil menikmati air mineral dan makanan ringan terasa begitu nikmat, ditambah suasana yang hening dan tenang membuat kawasan ini begitu damai.

Tidak terasa kurang lebih dua jam menikmati pesona Geosite Tanjung Datuk, waktu telah beranjak sore dan langit mulai menghitam, saatnya pulang. Medan yang harus dilalui berupa patahan batuan dan tanah yang menanjak keatas, terbayang rasa lelah yang akan merasuki tubuh. Sesampainya diatas, rasa lelah dengan nafas sedikit terengah-engah menjadi hal yang harus diterima.

Tapi, setelah mengingat kembali momen di kawasan geosite, membuat rasa lelah yang ada, terbayar dengan pesona alam yang indah. (*)

Penulis : Manalu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.