Cegah Lakalantas Remaja, Orang Tua Diharapkan Tidak Izinkan Anaknya Berkendara

by -152 views
Moni Septiani Mahasiswi STISIPOL Raja Haji Tanjungpinang
Moni Septiani Mahasiswi STISIPOL Raja Haji Tanjungpinang
Iklan Banner

Oleh : MONI SEPTIANI

Mahasiswi Ilmu Administrasi Publik STISIPOL Raja Haji Tanjungpinang

Opini, (MetroKepri) – Kecelakaan lalulintas (Lakalantas) sering menimpa anak remaja di Kota Tanjungpinang. Bahkan ada beberapa remaja yang meninggal dunia akibat kecelakaan lalulintas tersebut.

Angka kecelakaan yang menyebabkan korban meninggal dunia di Kota Tanjungpinang diketahui meningkat. Berdasarkan data dari Unit Lakalantas Polres Tanjungpinang angka kecelakaan di Kota Tanjungpinang saat ini telah mencapai sembilan orang.

Dari data yang diperoleh dari batam.tribunnews.com tahun 2018, angka Lakalantas di Tanjungpinang meningkat, sembilan orang meninggal dunia di jalan. Sejak Januari 2018 sampai Agustus 2018, ada sembilan orang meninggal dunia.

Data tersebut belum termasuk kecelakaan yang terjadi pada tahun 2019. Kecelakaan yang menimpa anak remaja tersebut bisa dikatakan karena kelalaian orang tua atau kelalaian dari si pengemudi kendaraan. Sayangnya, kenapa orang tua memperbolehkan anaknya yang belum memliki SIM mengendarai sepeda motor?

Disini saya bertanya – tanya kenapa orang tua membiarkan anaknya membawa sepeda motor? Apakah dikarenakan orang tua yang terlalu sibuk, sehingga tidak bisa mengantarkan anaknya untuk berpergian, misalnya pergi ke sekolah, pergi les, atau pergi kemana pun itu.

Apakah tidak sayang dengan anaknya? Apakah tidak takut apabila terjadi sesuatu dengan anaknya? Kita juga tidak pernah tahu kapan musibah itu datang.

Seharusnya, sebagai orang tua tidak memberikan izin kepada anaknya untuk mengendarai sepeda motor sebelum waktunya. Belakangan ini, kita mengetahui banyak terjadi kecelakaan yang didominasi oleh anak remaja. Seperti belum lama ini, ada seorang anak sekolah di SMA yang menjadi korban kecelakaan. Atas kecelakaan tersebut kita harus menyalahkan siapa? Sementara anak itu belum cukup umur untuk mengendari sepeda motor.

Orang tua seharusnya mengetahui tentang aturan untuk mengendari sepada motor, diantaranya adalah harus memiliki SIM C (surat izin mengemudi) untuk pengendara motor. Meski demikian, kenapa orang tua masih memberi izin kepada anaknya yang belum memiliki SIM?. Jika sudah terjadi kecelakaan, orang tua juga bisa disalahkan dan bukan hanya kepada anak yang memgendarai sepeda motor.

Sekarang kita bisa melihat di kota kita ini Tanjungpinang, masih banyak terlihat anak remaja yang mengedarai sepeda motor. Bahkan ada anak yang masih duduk di tingkat SMP sudah mengedarai sepeda motor.

Kita tidak mengerti maksud dan tujuan dari orang tua anak tersebut yang memberikan izin kepada anaknya yang masih SMP mengendarai sepeda motor. Begitu juga dengan pelajar SMA. Di Tanjungpinang, pelajar SMA terlihat paling banyak mengendarai sepeda motor pergi ke sekolahnya.

Kita juga mengetahui, sepeda motor adalah salah satu fasilitas penunjang dan transportasi bagi berbagai kalangan masyarakat. Salah satunya untuk berangkat kerja dan sekolah.

Kali ini, kita akan membahas penyimpangan terhadap pengendara motor berusia dibawah 17 tahun. Kasus penyimpangan ini banyak terjadi di kalangan sekolah SMP maupun SMA.

Pengendara dibawah umur sudah menjadi fenomena di masyarakat. Mulai di kota – kota besar hingga di pedesaan. Kita kerap disuguhkan dengan maraknya pengguna kendaraan, terutama pengendara motor dibawah umur. Para pengendara dibawah umur tidak sadar sebenarnya bahaya tengah menghampirinya.

Ia juga tidak peduli sedang melakukan sebuah pelanggaran. Mereka telah melanggar Undang – Undang No 22 Tahun 2009, tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan.

Bahayanya lagi, pengendara dibawah umur ini juga kurang mengindahkan kelengkapan pengaman berkendara, seperti helm standar. Selain itu, ada kecenderungan mengendarai kendaraan bemotor dengan kecepatan tinggi bahkan ugal-ugalan.

Kewajiban orang tualah yang seharusnya untuk memperhatikan anak – anaknya yang belum cukup umur agar tidak mengendarai motor atau mobil. Lantaran, usia muda identik dengan sikap emosional yang masih tinggi. Dengan demikian, ugal-ugalan di jalan besar kemungkinan terjadi.

Orang tua sangat berperan dalam mendidik dan menjaga keselamat anak mereka dari peristiwa yang tidak mereka inginkan terhadap anak – anak mereka. Terkadang orang tua terlalu memanjakan anak – anak mereka dengan memberikan hadiah sebuah sepeda motor pada saat ulang tahun atau juara di sekolah.

Kelalaian memberi hadiah seperti ini, berakibat fatal terhadap anak itu sendiri. Dengan sadar atau tidaknya orang tua telah membantu membunuh masa depan anak–anak mereka. Tanpa memperhatikan dan menjaga kemana dan dimana anak–anak mereka membawa sepeda motor.

Sayang terhadap anak, jangan membuat nyawa melayang memiliki banyak arti. Karena anak–anak kita yang merupakan penerus generasi bangsa ini. Disamping itu, orang tua yang kurang mematuhi dan mengetahui tentang peraturan berlalu lintas Undang – Undang No 22 Tahun 2009, merupakan salah satu penyebab orang tua membiarkan anak mereka mengendarai kendaraan di jalan raya.

Selain perhatian yang diberikan oleh orangtua kepada anaknya untuk membatasi, bahkan seharusnya melarang anaknya membawa kendaraan motor, juga perlu bantuan pihak sekolah untuk memperketat dan memberikan sanksi kepada siswanya yang membawa sepeda motor, serta sosialiasi dari pihak kepolisian. Sehingga siswa tidak akan berani untuk membawa kendaraan ke sekolah.

Diharapkan, pihak sekolah yang ada di Kota Tanjungpinang melarang keras siswanya membawa kendaraan ke sekolah, baik di tingkat SMA, SMK, maupun SMP. Hal itu guna menghindari terjadinya hal – hal yang tidak diinginkan di jalan raya.

Kemudian, agar siswa lebih disiplin dalam berkendara, para guru dan orang tua sebaiknya mengerti dan mengetahui tentang Undang – Undang No. 22 tahun 2009, dengan tujuan agar para siswa baik yang sudah memiliki SIM atau sebaliknya dapat mengerti aturan-aturan dalam berkendera di jalan raya.

Tidak ketinggalan, pihak kepolisian juga memberikan buku pedoman tentang Undang–Undang lalulintas dan berisikan rambu–rambu yang harus dipatuhi di jalan raya. Hal itu dilakukan ketika sosialisasi di sekolah atau pada saat pembuatan SIM. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.