Krisis Ekonomi Ditengah Pandemi, Apakah Kebijakan New Normal Sudah Tepat?

by -3 views
Puja Lestari
Puja Lestari
Iklan Banner

Oleh : Puja Lestari Sitopu

Mahasiswi Jurusan Administrasi Negara, FISIP, UMRAH

Opini, (MetroKepri) – Semenjak diumumkannya infeksi kasus Covid-19 secara resmi oleh Bapak Presiden Joko Widodo pada 2 Maret 2020 lalu, semakin hari angka penularan terus mengalami peningkatan.

Hingga hari ini perkembangan kasus positif Covid-19 masih lebih besar dibandingkan dengan jumlah penyembuhan.

Menyikapi hal ini, pemerintah mengeluarkan kebijakan yang menjelaskan bahwa masyarakat harus melakukan Sosial Distancing, dimana masyarakat dihimbau untuk tetap berada di rumah (stay at home) dan juga pembatasan sosial berskala besar (PSBB) merupaka alternatif terbaik yang dilakukan untuk memutus rantai penyebaran Covid-19.

Dalam pelaksanaannya, muncul fenomena yang besar berdampak pada masyarakat dimana terjadi gelombang krisis finansial dan membutuhkan perhatian dari pemerintah dengan penurunan yang signifikan dalam pertumbuhan ekonomi dibeberapa lapisan masyarakat karena banyak aktifitas masyarakat terhenti karena masyarakat disarankan untuk melakukan social distancing dan berdampak pada penurunan pendapatan.

Banyak juga masyarakat yang kehilangan pekerjaan akibat adanya PHK besar besaran oleh perusahaan dan juga kesulitan dalam menjalankan usaha bagi wiraswasta.

Menanggapi hal tersebut, pemerintah pun mengambil langkah strategis dengan mengeluarkan kebijakan untuk menjalani kehidupan dengan pola ‘’New Normal’’.

Hal ini didasari dengan diterbitkannya Surat Edaran No.12 tahun 2020 oleh Kementerian Perdagangan tentang pemulihan aktifitas perdagangan yang dilakukan pada masa pandemi Covid-19 dan New Normal.

Dan juga berdasarkan Surat Edaran Nomor 58 tahun 2020 tentang sistem kerja Aparatur Sipil Negara (ASN) dalam tatanan New Normal.

Dengan penerapan New Normal ini, aktifitas masyarakat dapat dibuka dengan catatan tetap mematuhi protokol kesehatan sesuai standart WHO. Karena kesehatan harus didahulukan.

Diberlakukannya New Normal ini, aktifitas perdagangan, jalur transportasi baik itu darat, laut, maupun udara, kawasan wisata dan lain sebagainya akan beroperasi kembali. Dan diharapkan dengan upaya ini dapat mengembalikan nilai beli masyarakat menjadi stabil dan produktif masyarakat dapat tetap terlakasana ditengah Pandemi Covid-19.

Dalam penerapan New Normal ini, hal yang pertama didahulukan adalah bagaimana protokol kesehatan menurut WHO dapat terlaksana. Yaitu dimana setiap masyarakat diwajibkan selalu menggunakan masker, penyediaan fasilitas tempat cuci tangan atau Hand Senitizer, cek suhu tubuh dengan termometer dan juga selalu menjaga jarak antar individu 1 sampai 2 meter jangan sampai ada perkumpulan.

Apakah kebijakan New Normal sudah tepat?. Hal ini pun menjadi polemik untuk pemerintah dan juga masyarakat, sebab sejak diberlakukannya kehidupan dengan pola New Normal, lonjakan pertumbuhan jumlah kasus infeksi Covid-19 pun mengalami peningkatan yang cukup signifikan, bahkan dalam beberapa minggu terakhir, setiap harinya terjadi penambahan lebih 1000 kasus per hari.

Ini merupakan jumlah yang cukup besar dan jika tidak ditangani dengan segera, dikhawatirkan akan menambah populasi infeksi Covid-19 dan semakin sulit untuk memutus rantai penularan.

Dalam pelaksanaan kehidupan dengan pola New Normal, kebijakan ini masih perlu untuk kembali direvisi, karena dalam pelaksanaannya justru berpengaruh besar pada kesehatan masyarakat dan bagaimanapun kesehatan adalah poin yang paling utama yang harus didahulukan.

Diharapkan pemerintah dapat menyeimbangkan antara kesehatan dan juga pertumbuhan ekonomi masyarakat yang terdampak.

Mengingat ketidakpastian kapan akan berakhirnya wabah virus Covid-19 ini, pemerintah membutuhkan kebijakan yang dapat diberlakukan dalam jangka panjang dan konsisten dengan mengutamakan penanganan di bidang kesehatan dan juga di bidang ekonomi, karena melihat keadaan yang sekarang sangat dikhawatirkan akan terjadinya krisis moneter 1998 gelombang kedua. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.