Pecandu Ponsel (NOMOPHOBIA)

by -47 views
Mahasiswa Program Studi Ilmu Administrasi Publik STISIPOL Raja Haji Tanjungpinang, IZHAR
Mahasiswa Program Studi Ilmu Administrasi Publik STISIPOL Raja Haji Tanjungpinang, IZHAR
Iklan Banner

Oleh: IZHAR

Mahasiswa Program Studi Ilmu Administrasi Publik STISIPOL Raja Haji Tanjungpinang

Opini, (MetroKepri) – Penyalahgunaan smartphone saat ini memang sangat umum terjadi, yang bisa kita sebut dengan Pecandu Ponsel/ Nomophobia (no mobile phone phobia) dalam istilah psikologi yang berasal dari Inggris.

Ini merupakan salah satu bentuk phobia atau ketakutan yang terjadi bagi seseorang akan stres bila tidak memegang handphone. Namun terlebih dikalangan generasi di era Revolusi Industri 4.0 yang mana perkembangan inovasi teknolgi yang begitu sangat maju dan bisa mengakses apapun, kapanpun dan dimanapun dengan mudah.

Tanpa disadari, hal ini bisa mempengaruhi kehidupan sosial seseorang dalam dunia kehidupan dan lupa akan tujuan utamanya.

Nomophobia didefinisikan sebagai ketakutan dunia modern yang digunakan untuk menguraikan ketidaknyamanan atau kecemasan yang diakibatkan oleh tidak tersedianya smartphone, komputer atau perangkat komunikasi maya lainnya, menurut King (2013).

Menurut beberapa ahli yaitu Pavithra, Madhukumar dan Murthy (2015) nomophobia adalah rasa takut berada diluar kontak ponsel yang mengacu pada ketidaknyamanan, kegelisahan, gugup atau kesedihan disebabkan karena tidak terhubung dengan smartphone.

Dalam sebuah penelitian psikologi, para ahli Psikolog melakukan penelitian kepada para pelajar tentang penyakit nomophobia ini. Menurut hasil penelitian sekitar 72% dari hampir 1.000 pelajar sudah memiliki ponsel atau smartphone sendiri.

Kisaran umur mereka diantara 11 – 12 tahun. Para pelajar tersebut biasanya menghabiskan waktu untuk bermain ponsel rata – rata 5 – 6 jam sehari. Dari hasil tersebut terungkap 25% para pelajar menunjukan gejala penyakit nomophobia ungkap penulis Sunarto (Acel Sebastian)/ Kepala Bagian Umum Itjen Kemendikbud.

Dan dari hasil penelitian tersebut, gejala ini juga tidak memiliki pengecualian dan bahkan juga bisa mengindikasi orang dewasa tanpa memandang usia. Kita bisa lihat pola masyarakat kehidupan sosial saat ini menggunakan media sosial sebagai alat komunikasi. Tanpa disadari, kita telah menjauhkan yang dekat dan mendekatkan yang jauh.

Rasa empati kita menjadi berkurang terhadap lingkungan sekitar kita. Belum lagi dengan adanya game online yang begitu merajai kalangan remaja saat ini yang telah menjadikan game sebagai rutinitas utama mereka dan menyebabkan candu yang begitu sangat kronis.

Bahkan hal ini tidak hanya menyebabkan satu permasalahan, bisa menimbulkan gejala lain seperti yang paling umum terjadi adalah gejala Insomnia. Insomnia merupakan gejala dimana penderitanya memiliki permasalahan dengan pola tidurnya yang tidak baik dan berkelanjutan secara terus-menerus.

Jika tidak dibatasi atau dipandang serius oleh penggunanya, penggunaan ponsel ini akan menjadi bumerang bagi penggunanya.

Ada beberapa indikasi seseorang menderita kecanduan ponsel/ smartphone yang bisa kita lihat disekitar kita. Masing-masing mereka selalu membawa ponsel kemana pun mereka pergi seperti ke pasar, kebun, sungai, toilet atau bahkan tempat yang tidak lazim sekalipun. Sehingga sangat kurang bersosialisasi di dunia nyata.

Ciri lainnya ialah mereka lebih senang bermain ponsel daripada makan terlebih dahulu, bahkan mereka lebih suka mengabadikan foto untuk disebarkan kepada media sosial dan kemudian pada waktu proses pembelajaran mereka lebih mengutamakan ponsel daripada buku pelajaran akibat adanya kekhwatiran apabila tidak membuka ponsel.

Pecandu nomophobia akan terus mengecek ponsel mereka dalam waktu yang singkat secara terus-menerus bahkan ketika sedang bersama teman, orang tua, tempat kerja dengan atasan sekalipun. Ponsel telah dijadikan sebagai pelarian oleh orang yang sangat anti sosial, sebagai hal untuk menghindar dari rasa malu terhadap lingkungan.

Ketika berkumpul bersama teman juga sangat jarang sekali terjadi kontak mata dan tidak ada proses yang terjadi selain dari media sosial atau bahkan game online yang mereka gunakan.

Jika dilihat dari sisi kesehatan dan psikologi akibat penggunaan ponsel dapat mengakibatkan dampak yang sangat tidak baik. Seperti bahaya radiasi ponsel, merusak mata jika penggunaannya tidak tepat, insomnia bahkan obesitas.

Menurut salah seorang psikolog, Anna Surti Ariani S.Psi,Msi,Psi ketergantungan orang dewasa terhadap ponsel biasanya karena keperluan tertentu. Sehingga ponsel tidak bereaksi negatif, sepanjang ia tahu cara menggunakannya dengan baik dan tidak berlebihan. Berbeda jika masuk dalam kategori pecandu ponsel, akan ada pengaruhnya terhadap sosialisasi dan relasinya dengan orang lain. Dapat berpengaruh juga dengan abai terhadap anak bagi orang tua saat ini.

Patricia Greenfield, seorang profesor di bidang psikologi dari University of California Los Angeles (UCLA) mengatakan kecanduan pada ponsel mampu menghilangkan kemampuan seseorang dalam memahami emosi orang lain. Greenfield telah mengamati karakter sejumlah remaja di sebuah sekolah di Amerika Serikat yang dijauhkan dari ponsel, tv dan perangkat digital lainnya selama lima hari. Hasilnya, kemampuan mereka dalam membaca emosi jauh lebih baik daripada remaja di sekolah yang sama, yang dibiarkan terpapar ponsel setiap harinya.

“Begitu banyak orang hanya melihat hal positif dari penggunaan ponsel sehingga melupakan hal negatifnya,” ujar Greenfield, mengingatkan kita semua.

Di lansir WebMD, sebuah studi di Harvard Business School dan melibatkan 1.600 manajer dan profesional menemukan bahwa 70% mengatakan setiap jam mereka mengecek ponselnya, 56% mengecek ponsel satu jam sebelum tidur, 48% mengecek ponsel sepanjang akhir pekan, termasuk hari Jum’at dan Sabtu malam, 51% mengatakan saat berlibur selalu mengecek ponsel, 44% mengatakan bahwa mereka akan merasakan cemas jika ponsel mereka hilang dan tidak menemukannya.

Sementara di Ofcoms, Inggris, kecanduan ponsel sudah mencapai proprsi epidemik. Sebanyak 37% orang dewasa di inggris mengaku mereka sangat kecanduan dengan ponsel. Selain itu dikutip dari Life Hack, hampir setengah responden dalam penelitian tersebut mengatakan menggunakan ponsel untuk bersosialisasi, seperempat menggunakan ponsel saat jam makan dan seperlimanya menggunakan ponsel pada saat sedang di kamar mandi.

Langkah – langkah dalam mengatasi kecanduan penggunaan ponsel dalam Journal of  Personal and Ubiquitous Computing. Para peneliti hal yang membuat seseorang menjadi pecandu ponsel ialah kebiasaan mengecek.

Pertama, hindarilah kebiasaan sering mengecek ponsel karena manusia cenderung terobsesi mengecek ponsel saat sedang waktu kosong yang berlebih. Gunakan seperlunya saja serta carilah kesibukan lain agar bisa melakukan aktifitas dan rutinitas dengan santai, terlebih saat sedang bersama keluarga dan teman-teman. Lakukanlah pendekatan terhadap aktifitas sosial.

Kedua, belilah ponsel sesuai kebutuhan dan keperluan dan tidak perlu membeli ponsel yang memiliki banyak fitur atau bahkan aplikasi media sosial. Cukup memilih ponsel yang sesuai kebutuhan anda saja dalam penggunaannya.

Ketiga, install sedikit aplikasi. Semakin banyak aplikasi, semakin banyak kinerja ponsel anda dan baterainya juga akan cepat habis. Umumnya orang akan menggunakan 5-10 aplikasi secara teratur. Bunyi atau lampu notifikasi dari aplikasi juga dapat mengganggu fokus anda.

Keempat, tinggalkan ponsel anda di ruangan lain. Jika anda sering mengecek ponsel anda, sebaiknya tinggalkan ponsel anda di ruangan lain atau di dalam tas. Jadi anda akan terhindar dari keinginan untuk mengeceknya.

Kelima, jangan gunakan telepon saat sedang berbicara dengan orang lain. Jika bukan dalam kedaan penting kita perlu mengangkat panggilan masuk. Disaat kita sedang berbicara dengan orang lain dan pesan masuk, lalu anda melihat ponsel anda atau mengetik pesan meskiun hanya sebentar, kondisi tersebut dapat memberikan dampak negatif terhadap hubungan dengan lawan bicara anda. Dampaknya juga dapat mempengaruhi produktivitas anda.

Dari perkembangan teknologi yang begitu maju saat ini juga memajukan berbagai perkembangan kehidupan sosial. Begitu banyak yang ditawarkan dalam penggunaan teknologi. Terutama penggunaan ponsel dalam kegiatan kehidupan sosial kita. Memberikan kita kemudahan untuk melakukan sesuatu dan mengenal dunia yang bahkan bisa diakses dengan mudah saat ini, memberikan kreatifitas asalkan penggunaanya sesuai pada tempatnya dan tidak berlebihan dalam menggunakannya.

Namun jika salah dalam memanfaatkan teknologi ponsel ini dapat memberikan pengaruh yang signifikan bagi kehidupan, baik di kalangan anak-anak, remaja, maupun orang tua. Ketahuilah terlebih dahulu dampak negatif penggunannya yang dapat mengubah perilaku dan emosional dan bahkan kesehatan seseorang, baik dari sisi sosial maupun psikologi atau kejiwaannya. Sehingga kita bisa meminimalisir dampak yang tidak baik dari penggunaan ponsel tersebut. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.