Semakin Langka, LSM LPSDP Kampanyekan Pelestarian Penyu Kepada Masyarakat

by -66 views
Pelepasan Anak Penyu di Pantai
Pelepasan Anak Penyu di Pantai
Iklan Banner

Natuna, (MetroKepri) – Pulau Serasan mempunyai dua kecamatan yakni Kecamatan Serasan dan Kecamatan Serasan Timur. Pulau ini juga merupakan salah satu tempat favorit bagi Penyu Laut untuk berkembangbiak.

Secara geografis, pantai berpasir di Pulau Serasan dan pulau-pulau kecil disekitarnya menjadi kesukaan Penyu betina sebagai tempat bertelur.

Berbicara mengenai Penyu laut, Ketua Lembaga Swadaya Masyarakat Lembaga Pengelola Sumber Daya Pesisir (LSM LPSDP), Cherman mengatakan, LSM – nya ini bergerak pada perlindungan dan pelestarian Penyu laut dan sudah berdiri sejak tahun 2012 silam.

Cherman mengungkapkan banyak suka duka dialami selama melakukan aktifitas konservasi Penyu laut di Serasan. Rasa suka itu dialami ketika berhasil melepaskan anak Penyu untuk menempuh hidupnya di laut bebas. Rasa duka dialami karena populasi Penyu semakin berkurang di Serasan.

Beberapa tahun belakangan ini, konservasi terhadap satwa Penyu laut di Pulau Serasan menghadapi kendala. Kendala ini berupa anggaran sehingga kondisinya ibarat “hidup segan, mati tak mau”.

Meski demikian, sampai hari ini pihaknya tetap melakukan sosialisasi dan mengkampanyekan untuk melindungi penyu kepada masyarakat.

Dengan hanya berjumlah delapan personil, Cherman merasa kesulitan untuk melakukan kontrol kendali terhadap pulau – pulau di sekitar Serasan. Siapa yang mau menjaganya?. Kalau untuk Pantai Sisi masih bisa dikendalikan.

Pulau – pulau banyak disekitar Serasan dan setiap pulau ada Penyu yang bertelur. Penyu efektif bertelur pada Mei – September dan terdapat dua jenis Penyu di Serasan yakni Penyu Hijau dan Penyu Sisik.

Ada pulau yang harus ditempuh dengan waktu 3 – 6 jam dengan menggunakan pompong seperti Pulau Serayak, Pulau Merendam, Pulau Semuluh dan Murik. Sementara pulau yang dekat yakni Pulau Perhantu, Pulau Genting, Pulau Sempadi, Pulau Sedua Besar dan Kecil, Pulau Bungin, Pulau Cepala, Pantai Sisi, Pulau Pasir Pandan dan Pulau Karang Haji. Sesekali mereka awasi.

“Saya desak juga pihak kecamatan dan desa untuk konservasi Penyu. Telur Penyu dikasih masyarakat kepada kami dan kami mau menampungnya, tapi lahan tidak ada untuk konservasi, biaya pakan juga tidak ada. Kami tidak sanggup. Kami tidak punya support anggaran. Dari provinsi hanya dibantu fasilitas, tapi dana untuk operasionalnya tidak ada. Telur yang sudah diberikan, kami balikkan lagi ke kecamatan maupun desa,” ucapnya saat dijumpai di salah warung, Jumat 12 Juli 2019.

Beberapa tindakan telah dilakukan Cherman beserta rekan-rekannya untuk mengatasi keterbatasan anggaran. Diantaranya melakukan konservasi manual. Cara ini dilakukan secara alami, dimana Penyu bertelur, maka disitulah ditetaskan.

“Konservasi manual ini, harus kami pantau dan awasi setiap saat. Tapi itulah, kami juga kan harus mencari nafkah untuk hidup. Disaat kami tidak awasi, banyak ancaman yang datang terhadap telur Penyu ini seperti hewan hewan pemakan telur, masyarakat dan lain-lainnya,” ujar Cherman.

LSM LPSDP juga pernah menghimbau, pemilik lahan dari tempat Penyu – Penyu ini bertelur untuk melakukan konservasi. Tapi, hal yang sama juga dirasakan oleh pemilik lahan, mereka tidak sanggup untuk melakukan konservasi karena biaya pakannya.

“Setiap tahun, pihak kecamatan dan desa selalu melepaskan tukik (anak Penyu) ke laut. Masalahnya, begitu dilepas ke laut bebas, tukik ini masih rentan dan gampang mati. Selain itu, banyak ancaman seperti ikan, burung elang dan jaring nelayan. Jadi konservasinya tidak mudah,” paparnya.

Cherman menceritakan, untuk daerah Tarempa dan Bintan, konservasi Penyu sudah dibantu oleh Bank Dunia dan PPBB. Disana, satu pulau khusus disewa untuk konservasi Penyu dan pulau itu tidak bisa diganggu oleh siapapun. Pengoperasian konservasi dilakukan oleh LSM setempat, sampai tukik ini bisa dilepas ke laut bebas dengan kemampuan hidup yang cukup.

“Saat ini, LSM LPSDP hanya diarahkan oleh provinsi untuk melakukan berupa himbauan dan upaya konservasi semampu kami. Beberapa waktu lalu, kami dapat bantuan dari provinsi dan kementerian berupa papan plang,” kata Cherman.

Sampai hari ini, kata Cherman, Serasan masih menunggu titik terang dan meminta kepada Pemerintah Kabupaten Natuna untuk serius mengusulkan Serasan sebagai salah satu titik konservasi Penyu kepada Kementerian Kehutanan.

“Selain itu, saya mendesak provinsi dan pemerintah pusat untuk menetapkan Pulau Serasan, terutama Pantai Sisi sebagai titik konservasi karena sudah ditetapkan sebagai destinasi pariwisata dan memiliki sumber daya Penyu. Dari segi wisata, kalau tidak ditetapkan, dikhawatirkan populasi Penyu berkurang dan habis dimasa yang akan datang. Saya sudah laporkan secara rutin ke Kementerian Kelautan dan Perikanan, Penyu semakin berkurang di Serasan apalagi sekarang susah cari sarang Penyu di Pantai Sisi,” ucapnya. (Manalu)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.