Temuan Kapal Pukat Trawl sampai BBM Solar Subsidi Pun “Dimainkan”

by -882 views
Lokasi pemilik Kapal Pukat yang sekaligus menjual BBM jenis Solar Subsidi
Lokasi pemilik Kapal Pukat yang sekaligus menjual BBM jenis Solar Subsidi
Iklan Banner

Lingga, (MetroKepri) – Sejak awak media ini melaksanakan investigasi di lapangan, Kapal Pukat Trawl yang membuat nelayan di Kabupaten Lingga resah, ada juga masalah lainnya yang diduga ikut merugikan nelayan.

Sehari di Dabo, awak media ini terus menelusuri dugaan “Permainan” BBM Solar subsidi yang dijual di luar Harga Eceran Tertinggi (HET) yang sudah ditentukan pemeruntah.

Saat awak media ini ke salah satu yang diduga pemasok BBM Solar untuk operasi kapal Pukat Trawl di Kepulauan Posek mengatakan bahwa harga Solar subsidi yang ia jula dengan harga Rp7500.

Saat ditanya, harga subsidikan di harga Rp5150, ia mengelak bahwa dirinya membeli minyak ada upah angkut dan bayar gaji pekerja.

“Ongkos angkutnya aja sudah berapa bg. Belum bayar upah pekerja,” ujarnya kepada awak media ini, Kamis (03/12/2020).

Setelah mengetahui harga Solar subsidi yang diperjual belikan ke nelayan dengan harga di atas HET awak media ini pun segera meninggalkan pemilik Kapal Pukat Trawl itu yang diikuti sampai di luar lokasi.

Ia pun mengaku kepada awak media ini sebagai Koordinator Himpunan Melayu Raya (Hi-Melaya) Kecamatan Kepulauan Polsek.

Inilah Kapal Pukat Trawl yang diresahkan nelayan lokal atau pesisir di wilayah sekitar Bunda Tanah Melayu
Inilah Kapal Pukat Trawl yang diresahkan nelayan lokal atau pesisir di wilayah sekitar Bunda Tanah Melayu

Sebelumnya diberitakan, Kapal Pukat Trawl saat ini diduga merajalela di wilayah laut Kabupaten Lingga, nelayan lokal pun tak berdaya dibuatnya.

Pasalnya, jika kapal pukat trawl tersebut mengelilingi laut untuk menangkap ikan di wilayah Dabo dan sekitarnya, bubu milik nelayan lokal atau pesisir pun luluh lantak dibuatnya.

Hal ini dikatakan beberapa warga Kp Posek, Desa Posek Kecamatan Kepulauan Posek, Kabuten Lingga Provinsi Kepri.

“Habis bubu kami kalau lah datang kapal pukat trawl ini. Penghasilan kami nelayan pun jadi korbannya,” kata salah satu nelayan JU kepada awak media ini, Kamis (03/12/2020) pagi.

Selain itu, JU menjelaskan, semua jaring milik nelayan hancur dibuatnya. Akan hal itu ia berharap pemerintah dan pihak terkait membuka mata dan menindak pengusaha Kapal Pukat Trawl sesuai dengan UU yang berlaku.

“Kami ingin bekerja dengan tenang. Pengahsilan kami yang dulu kembali lagi. Kami ini hanya lah masyarakat kecil yang sehari-hari berpengahasilan dari laut,” ungkapnya.

“Pemerintah peduli lah sama kami ini nelayan pesisir. Jangan lah kami ini ditindas oleh pengusaha-pengusaha kapal pukat trawl ini. Kepada siapa lagi kamu mengadu,” timpal nelayan lainnya.

Menurut pantauan nelayan lokal atau pesisir yang dihimpun oleh awak media ini, diduga wilayah penangkapan Kapal Pukat Trawl itu beroperasi setiap malam di wilayah, peraiaran Alang Tiga, Cempa, Kentar dan Pulau Buaya.

Sementara itu, diketahui bahwa Kapal Pukat Trawl dan sejenisnya tidak diperbolehkan beroperasi dan hal itu tertuang dalam UU nomor 45 Tahun 2009 dan Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 71 Tahun Tahun 2016. (*)

Penulis: Novendra

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.