RDP, PT Haikki Gren Harus Selesaikan Masalah Limbah Karbit

by -104 views
Suasana Rapat Diruang Komisi III DPRD Kota Batam. Foto JIHAN
Suasana Rapat Diruang Komisi III DPRD Kota Batam. Foto JIHAN
Iklan Banner

Batam, (MetroKepri) – Komisi lll DPRD Kota Batam menggelar rapat dengar pendapat (RDP) bersama instansi terkait di ruang komisi tersebut. Rapat itu juga terkait limbah karbit yang dijadikan batako di dalam kawasan pengumpul limbah industri (KPLl) yang ada di daerah Kelurahan Kabil, Kecamatan Nongsa.

Selain itu, PT Haikki Gren sudah terlalu lama dan Gakum sebagai penegak hukum dari Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) sudah turun.

“Maka dengan ini, Haikki Gren harus menyelesaikan masalah itu sebagai kewajibannya. Karena dari pengumpul sudah merekomendasikan PT Haikki Gren sebagai transportasi pengumpul pemusnah,” papar Ketua Komisi lll DPRD Kota Batam, Nyanyang Harris kepada MetroKepri di ruang rapat, Rabu (12/12/2018).

Akan tetapi, kata dia, kenapa sampai tahun ini bahkan sudah sampai plus tahun belum selesai – selesai. Ada apa?. Maka dengan ini, sesuai dengan Gakum yang diberikan kepada penegak hukum kepada Dinas Lingkungan Hidup dan juga PT Haikki Gren itu harus mengklaim up di tahun 2019.

“Didalam aturan juga harus, limbah itu seharusnya diekspor,” ujarnya.

Dia mengutarakan, limbah atau limbah karbit itu harusnya dikeluarkan dari Kota Batam ini dan limbah karbit itu seharunya dikirim keluar negeri yakni ke Malaysia atau ke Bekasi.

“Sedangkan masalah proses pembuatan batako dari limbah karbit itu. Itu hanya PT Haikki Gren saja. PT lain tidak ada,” ucapnya.

Sementara, kata Nyanyang, BP Kawasan menyediakan lahan saja dan PT Haikki Gren sebagai pengelola diatas lahan tersebut.

“Itu sudah ada kordinasi antara PT Haikki Gren bersama BP Kawasan dari hasil limbah tersebut,” katanya.

Sementara itu, Manager PT Haikiki Gren, Leni Puspita mengatakan limbah karbit yang dikumpulkan tersebut bukan mereka tidak mau mengirimnya keluar dari Kota Batam. Tetapi karena biayanya cukup mahal, akhirnya membuat limbah tersebut menjadi batako.

“Sebenarnya kami masih bingung, karena harus ada tindaklanjut klaim up. Limbah tersebut kami mau kirim kemana, kalau kita kirim keluar dari Kota Batam ini biayanya cukup tinggi dan juga kami sudah kordinasi masalah itu bahwa limbah itu akan kami kirim ke Malaysia karena biayanya mahal sekali,” ucapnya. (*)

Penulis : JIHAN

Editor   : ALPIAN TANJUNG

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.