Warisan Geologi di Ujung Utara Indonesia

by -80 views
Salah satu Warisan Geologi (Geoheritage) di Kabupaten Natuna, Tanjung Senubing
Salah satu Warisan Geologi (Geoheritage) di Kabupaten Natuna, Tanjung Senubing
Iklan Banner

Natuna, (MetroKepri) – Didalam Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Nomor 1 tahun 2020 tentang pedoman penetapan warisan geologi (geoheritage), yang dimaksud dengan warisan geologi adalah keragaman geologi (geodiversity) yang memiliki nilai lebih sebagai suatu warisan karena menjadi rekaman yang pernah atau sedang terjadi di bumi yang karena nilai ilmiahnya tinggi, langka, unik dan indah sehingga dapat digunakan untuk keperluan penelitian dan pendidikan kebumian.

Keragaman geologi adalah gambaran keunikan komponen geologi seperti mineral, batuan, fosil, struktur geologi dan bentang alam yang menjadi kekayaan hakiki suatu daerah serta keberadaan, kekayaan penyebaran dan keadaannya yang dapat mewakili proses evolusi geologi daerah tersebut.

Sedangkan istilah situs warisan geologi (geosite) merupakan objek warisan geologi dengan ciri khas tertentu baik individual maupun multiobjek yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari sebuah cerita evolusi pembentukan suatu daerah.

Penetapan warisan geologi bertujuan melindungi dan melestarikan nilai warisan geologi sebagai rekaman sejarah geologi yang pernah atau sedang terjadi dan sebagai objek penelitian, pendidikan kebumian dan geowisata. Selain itu, bertujuan sebagai dasar pengembangan geopark.

Warisan geologi di Kabupaten Natuna terbagi menjadi beberapa kelompok berdasarkan karakteristiknya. Objek warisan geologi memiliki keunikan tersendiri dilihat dari aspek geologi dengan berbagai keragaman geologi seperti jenis batuan, fosil, pantai dan kepulauan.

Secara Geomorfologi (Ilmu yang mempelajari tentang bentuk alam dan proses yang membentuknya), Kepulauan Natuna dibatasi oleh tiga cekungan regangan (rift) yang berumur oligosen yaitu cekungan Malay-Natuna Barat di bagian barat, cekungan Laut China Selatan dibagian utara dan cekungan Natuna Timur di sebelah timur.

Kepulauan Natuna relatif berarah utara-selatan terletak pada busur tinggian batuan dasar Natuna yang merupakan bagian dari Paparan Sunda yang tersusun oleh sedimen klastik laut dalam berumur Jura-Kapur dari Formasi Bunguran yang terlipat kuat dan batuan gunung api dengan radiolarian, chert, gabro dan peridotit yang terserpentinit dan sangat mirip dengan Formasi Danau di Kalimantan (Bothe 1928) yang di intrusi oleh granit berumur Kapur Akhir, salah satunya membentuk gunung yang paling tinggi yakni Gunung Ranai dengan ketingggian 1035 mdpl di Pulau Bunguran.

Penelitian terdahulu, dilakukan oleh Dinas Pertambangan dan Energi Kabupaten Natuna Tahun 2013, berhasil mengidentifikasi setidaknya 7 satuan geomorfologi yakni :

  1. Satuan Pedataran, menempati sekitar 34,90 % Kabupaten Natuna dengan kemiringan lereng berkisar 0-2% dan tersusun oleh litologi berupa pasir, batupasir serta granit.
  2. Satuan Pedataran Berombak, menempati sekitar 28,19 % Kabupaten Natuna dengan kemiringan lereng berkisar 3-7% dan tersusun oleh litologi batupasir, rijang, basalt, dan granit dengan tutupan lahan berupa belukar, hutan, rawa, padang rumput, pemukiman dan perkebunan.
  3. Satuan Pedataran Bergelombang, menempati sekitar 21,83 % Kabupaten Natuna dengan kemiringan lereng berkisar 8-13% dan tersusun oleh litologi berupa batupasir, rijang, basalt dan granit dengan tutupan lahan berupa hutan, rawa, padang rumput, kebun dan pemukiman.
  4. Satuan Perbukitan Bergelombang, menutupi sekitar 7,78 % Kabupaten Natuna dengan kemiringan lereng yang agak curam berkisar 14-20% dan tersusun oleh litologi berupa batupasir, rijang, basalt dan granit dengan tutupan lahan berupa hutan dan kebun.
  5. Satuan Perbukitan dengan luasan sekitar 6 % Kabupaten Natuna dengan kemiringan lereng 21-55 % dan tersusun oleh litologi berupa batupasir, basalt dan granit dengan tutupan lahan berupa hutan dan kebun.
  6. Satuan Pegungunan Curam dengan luasan sekitar 1,23 % Kabupaten Natuna dengan kemiringan lereng sekitar 55-140 % dan tersusun oleh litologi berupa batupasir, basalt dan granit dengan tutupan lahan berupa kebun dan hutan.
  7. Satuan Pengunungan Sangat Curam dengan luasan sekitar 0,05 Kabupaten Natuna dengan kemiringan lereng lebih dari 140 % dan tersusun oleh litologi granit dengan tutupan lahan berupa hutan dan hanya dijumpai di Pulau Bunguran tepatnya di Gunung Ranai.

Secara Stratigrafi (studi mengenai sejarah, komposisi dan umur relatif serta distribusi perlapisan batuan dan interpretasi lapisan-lapisan batuan untuk menjelaskan sejarah bumi), berdasarkan Peta Geologi Regional lembar Teluk Buton dan Ranai (Hakim dan Suryono,1994), urutan stratigrafi dari tua ke muda terdiri atas Batuan Mafik/Ultra Mafik, Formasi Bunguran, Granit Ranai, Formasi Pengadah, Formasi Raharjapura dan aluvial.

Sedangkan Stratigrafi lembar Natuna Selatan dari tua ke muda terdiri atas Kompleks Seraya, Batuan Gunung Tebeian, Batuan Plutonik Serasan, Formasi Balau, Formasi Kutei, Formasi Teraya, Batuan Gunungapi Midai, Terumbu Karang dan Endapan Pantai.

Contoh terbaik mewakili keragaman geologi yang ada di Kabupaten Natuna dengan nilai sains tertinggi terdapat di Pulau Serasan karena memiliki fitur geologi yang unik dan berbeda dari geosite lainnya. Selain Pulau Serasan, geosite yang memiliki nilai tinggi lainnya yakni, Tanjung Senubing, Alif Stone, Pulau Akar, Gunung Ranai, Pulau Midai, Kepulauan Pulau Tiga dan Pulau laut.

Berdasarkan hasil penilaian geosite dan keragaman geologi metode Pusat Penelitian Geologi pada Tahun 2017, geosite yang berada di Geopark Natuna memiliki tema keragaman geologi yang menarik. Keragaman tersebut yaitu Subduksi pada Kraton Sundaland yang ditandai dengan adanya batuan yang ada di Natuna.

Kawasan Natuna sendiri merupakan bagian dari busur akibat adanya proses subduksi. Intrusi Granit Ranai merupakan bukti adanya vulkanisme, akibat subduksi ini membentuk monolith yaitu Gunung Ranai. Proses subduksi ini berlangsung hingga Kapur Akhir.

Setelah berhentinya subduksi, terjadi keruntuhan kerak akibat gravitasi yang menyebabkan adanya fase pemekaran yang membentuk Laut Cina Selatan (Natuna Utara) dan cekungan-cekungan yang kaya akan minyak bumi seperti cekungan Natuna Barat.

Objek warisan geologi yang memiliki karakteristik batuan granit umumnya terdapat di Pulau Bunguran bagian timur. Di bagian pantai, batuan granit ini membentuk morfologi yang unik yaitu batuan granit membentuk bongkahan dengan bekas pelapukan sehingga batuan menjadi berbentuk unik. Morfologi unik ini disebut bentang alam tor.

Objek warisan geologi yang memiliki karakteristik batuan ultrabasa umumnya terdapat di Pulau Bunguran dan Kepulauan Pulau Tiga. Batuan ini merupakan sisa bukti subduksi yang pernah terjadi di Natuna dan merupakan batuan tertua yang ada di daerah ini. Batuan ini terbentuk pada Kala Jura Awal hingga Kapur Awal.

Pada gugus Pulau Tiga, pulau-pulau yang ada tersusun oleh batuan ultrabasa ini seperti Pulau Setai, Hantu dan Setanau. Umumnya lautan sekitar pulau ini merupakan laut dangkal sehingga merupakan habitat yang baik bagi terumbu karang.

Objek warisan geologi yang memiliki karakteristik batuan endapan laut dalam terdapat di Pulau Bunguran dan Pulau Laut. Umumnya endapan laut dalam ini telah menjadi meta sedimen.

Contoh singkapan terbaik batuan ini ada di Pulau Laut seperti di Pantai Barak dan Gunung Paku. Umumnya, batuan endapan laut dalam berupa rijang yang berwarna merah. Karena proses tektonik yang intens, terdapat pula kekar-kekar yang memotong batuan ini.

Umumnya kekar yang besar terisi oleh mineral kuarsa berwarna putih sehingga apabila dilihat batuan di pulau ini berwarna merah dan putih seperti Bendera Indonesia.

Sementara objek warisan geologi berupa pulau sangat banyak di Natuna, masing-masing pulau memiliki keunikan tersendiri. Pulau Midai merupakan gunung api purba, Pulau Serasan memiliki batuan penyusun granit dan granodiorit yang berbeda dengan granit di Pulau Bunguran, Pulau Sedanau kaya akan budaya dan budidaya yang memiliki nilai ekonomi tinggi, Pulau Tiga dengan gugus kepulauan dengan batuan penyusun batuan ultrabasa dan lautnya cocok digunakan untuk wisata bahari, Pulau Laut dengan batuan dari dasar samudra. Selain keragaman tersebut, ada pula keragaman berupa pasir putih di tepian pulau.

Berdasarkan hasil penelitian awal dan verifikasi warisan geologi (geoheritage) di Pulau Bunguran oleh Badan Geologi, ditetapkan 8 lokasi geosite sebagai warisan geologi yakni, Tanjung Datuk, Goa Kamak, Gunung Ranai, Tanjung Senubing, Pulau Senua, Batu Kasah, Pulau Akar, dan Pulau Setanau.

Tanjung Datuk, dikelilingi oleh laut di ketiga sisinya, disekitar kawasan ditemukan singkapan Batupasir dengan warna segar orange dan warna lapuk kecoklatan. Batuan memiliki besar butir pasir halus dengan struktur sedimen parallel dan cross laminasi. Pada beberapa titik ditemui offset batuan. Batuan pada geosite ini masuk ke dalam Formasi Pengadah.

Gua Kamak, Gua yang terbentuk akibat erosi air laut yang berhadapan langsung dengan lepas pantai. Gua memiliki warna yang unik yaitu putih kekuningan dan orange dibeberapa bagian. Beberapa meter dari gua ini ditemui pantai berpasir putih dengan air laut jernih. Gua dan beberapa singkapan batuan di geosite ini tersusun atas batupasir dengan warna segar putih kekuningan – orange dan warna lapuk abu-abu kecoklatan. Ukuran butir pasir halus dengan struktur sedimen parallel dan cross laminasi. Batuan termasuk Formasi Pengadah dan berumur lebih kurang 38-5,1 juta tahun yang lalu.

Gunung Ranai, gunung ini memiliki air terjun dengan tinggi lebih kurang 10 meter dengan kondisi air yang kurang deras saat musim kemarau. Batuan penyusunnya berupa granit dengan kekar-kekar yang ditemui di beberapa tempat. Batuan granit ini berwarna segar putih berbintik kehitaman dan warna lapuk abu-abu gelap kemerahan. Batuan granit pada air terjun memiliki 2 tekstur dimana salah satunya memiliki tekstur lebih kasar (afanitik). Kandungan mineral berupa kuarsa, plagioklas, k-feldspar dan biotit.

Tanjung Senubing, batuannya berjenis granit dan morfologi tor granit. Bagian bawah ditemui pantai berpasir putih. Granit memiliki ciri berwarna segar putih dengan bintik kehitaman dan warna lapuk merah muda kecoklatan. Tekstur batuan faneritik dengan kandungan mineral sama dengan Gunung Ranai. Terbentuk pada zaman kapur tengah – akhir dan berumur sama dengan batuan Gunung Ranai, lebih kurang 125 – 65 juta tahun yang lalu.

Pulau Senua, pulau tak berpenghuni yang terletak di barat pulau utama. Batuan penyusunnya berupa batulanau termalihkan yang terbentuk pada Zaman Jura Akhir – Kapur Tengah dan berumur lebih kurang 163 – 88,5 juta tahun yang lalu.

Batu Kasah, pantai berpasir putih dengan air laut yang jernih dengan bongkah-bongkah batuan granit dengan berbagai ukuran. Granit pada geosite ini memiliki warna segar putih dengan bintik kehitaman dan warna lapuk abu-abu gelap. Tekstur afanitik dengan kandungan mineral berupa kuarsa, k-feldspar, plagioklas dan biotit. Pada tubuh batuan ditemui xenolith berupa batuan beku bejenis basa, batuan bertekstur gneissic dan batuan beku asam bertekstur afanitik (kemungkinan ryolit). Batuan termasuk dalam Granit Ranai yang berumur Kapur Tengah – Akhir.

Pulau Akar, pulau berukuran cukup kecil yang tersusun atas bongkahan-bongkahan batuan yang berwarna hitam gelap. Pulau hampir tidak memiliki pasir sebagai perantara dengan air laut. Batuan yang ditemukan pada pulau ini adalah batuan beku mafik berwarna hitam yakni Basalt, memiliki warna segar hitam dan warna lapuk kecoklatan. Tekstur batuan afanitik dengan kandungan plagioklas dan piroksen. Pada beberapa batuan ditemui jejak-jejak mineralisasi pirit yang berwarna keemasan. Batuan ini termasuk kedalam Batuan Mafik/Ultramafik yang terbentuk pada zaman Jura Tengah – Akhir dan berumur lebih kurang 188 – 144 juta tahun yang lalu.

Pulau Setanau, Pulau tak berpenghuni dengan pantai berupa pasir putih hasil pecahan cangkang. Di sekitar pantai merupakan laut dangkal yang merupakan habitat terumbu karang dan ikan kecil. Batuan penyusun pulau ini adalah gabbro. Gabbro merupakan bagian dari Formasi Batuan Ultrabasa yang terbentuk pada Zaman Jura Tengah – Kapur Akhir.

Akan tetapi hasil verifikasi ini belum final karena pihak Badan Geologi belum melakukan survey verifikasi secara menyeluruh di seluruh wilayah Kabupaten Natuna, masih banyak lokasi geosite yang berpotensi untuk ditetapkan sebagai warisan geologi, terutama pulau-pulau di luar Pulau Bunguran.

Beberapa lokasi geosite yang mempunyai potensi tinggi sebagai warisan geologi yakni, Batu Alif, Batu Takek, Pulau Sahi, Pengunungan Sekunyam, Batu Catur, Pantai Sisi, Goa Lubang Hidung, Metasedimen Simpak Pulau Laut, Pulau Serapi, Konglomerat Batubi (formasi yang sama diperkirakan mengandung tektite) dan Pantai Pasir Marus (berupa batuan Peridotit dan Gabro).

Warisan geologi di kawasan Kabupaten Natuna yang diunggulkan dan berpotensi menjadi warisan geologi berkelas dunia dilihat dari keunikan secara geologi dan geologi sejarahnya yakni batuan yang berkaitan dengan subduksi di Natuna.

Sementara warisan geologi berskala nasional di kawasan Kabupaten Natuna didominasi situs dengan geomorfologi pantai, titik pandang dan pulau kecil yang memiliki batuan unik dengan menonjolkan keindahan alam dan keunikan batuan yang ada.

Untuk mencapai warisan geologi berkelas dunia dibutuhkan pengelolaan yang baik di setiap site mulai dari kelengkapan amenitas hingga kelengkapan informasi. Selain itu, riset berskala nasional maupun internasional sangat diperlukan agar Natuna dapat dikenal di mata dunia. (Manalu)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.