Aktivis Perempuan Dilatih Tangkal Penyebaran Radikalisme

by -27 views
Kadis Pemberdayaan Perempuan dan Anak Provinsi Kepri, Misni saat berikan kata sambutan
Kadis Pemberdayaan Perempuan dan Anak Provinsi Kepri, Misni saat berikan kata sambutan
Iklan Banner

Tanjungpinang, (MetroKepri) – Para aktivis perempuan di Provinsi Kepri dilatih trik menangkal penyebaran radikalisme dan terorisme di kalangan masyarakat melalui pendekatan lunak.

Pelatihan tersebut digelar BNPT dan FKPT Kepri di Hotel CK Tanjungpinang, Kamis (16/5/2019) pagi.

Kegiatan pelatihan itu, panitia menghadirkan dua pembicara yakni
Muhammad Lutfi S.IP,. M.Si sebagai Kasi Pemulihan Korban BNPT dan Kepala Badan Pemberdayaan Perempuan Provinsi Kepri Misni.

Menurut Sekretaris FKPT Kepri Drs. Indra Syaputra saat pembukaan, selama ini banyak perempuan menjadi korban konflik, hingga semua harus bisa mengupayakan pendidikan bagi perempuan sebagai pendidik keluarga.

Lanjut Indra, perempuan perlu dilibatkan dalam pencegahan teroris dan radikalisme ini karena perempuan mampu menyuntikkan nilai-nilai perdamaian dan toleransi.

“Peran keterlibatan perempuan sangat penting karena umumnya perempuan taat kepada suaminya, hingga bisa menepis ajakan-ajakan radikal yang bisa saja dilakukan oleh suami kepada istrinya,” terangnya.

Selain itu, Indra menjelaskan, para Ibu juga memiliki waktu yang lebih banyak bersama anak dibandingkan ayahnya hingga kaum ibu merupakan orang yang cocok untuk dilibatkan dalam pencegahan teroris.

“Kasus bom sudah banyak terjadi di Indonesia hingga pemutusan mata rantai radikalisme tidak bisa berjalan hanya di pusat saja namun mesti dilakukan serentak,” ungkapnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Anak Provinsi Kepri Misni, menyebutkan, pada kasus teroris yang beberapa kali di Indonesia, wanita dan anak merupakan korban dari teror itu sendiri meski mereka terlibat sebagai pelaku.

“Anak anak dan perempuan tidak akan mau ikut hal hal yang membahayakan itu tanpa bujukan suami atau pihak lain. Jadi tetap saja anak dan perempuan menjadi korban. Dalam Beberapa studi menyatakan selalu ada hubungan antara terorisme dan radikalisme,” ujarnya.

Lebih lanjut “Kerentanan terorisme dapat menjadi humus dalam perkembangan radikalisme dan terorisme dan perempuan selalu memiliki kolerasi yang signifikan terkait dengan radikalisme dan terorisme,” papar Misni.

Orang tua, sambung Misni mesti terus memantau pertumbuhan anak-anaknya.

“Saat anak mengurung diri di kamar, mesti diajak komunikasi untuk mencari jalan keluar dari masalah yang kemungkinan sedang dialami oleh si-anak,” pungkasnya. (*)

Penulis: Novendra

Print Friendly, PDF & Email

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.