Banjir, Antara Anugerah Dan Bencana

by -14 views
Nico Saputra
Nico Saputra
Iklan Banner

Oleh : Nico Saputra

Mahasiswa Jurusan Ilmu Administrasi Negara, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Maritim Raja Ali Haji

Opini, (MetroKepri) – Memasuki awal tahun 2021, hujan deras disertai angin kencang yang mengguyur Kota Tanjungpinang menyebabkan banjir dan tanah longsor di beberapa titik di wilayah Kota Tanjungpinang.

Belum genap setengah bulan, fenomena tersebut telah terjadi sebanyak dua kali yakni pada 2 Januari 2021 dan 10 Januari 2021. Kondisi ini diperparah dengan air laut yang pasang tinggi menyebabkan debit air naik drastis dan memperlambat pembuangan dari drainase yang bermuara ke sungai yang dialiri air pasang.

Dikutip dari kepripedia.com, bertumbuhnya pemukiman baru dan tidak teraturnya penimbunan di titik resapan air menjadi satu diantara pemicu terjadinya banjir di ibu kota Provinsi Kepulauan Riau ini.

Curah hujan yang tinggi dalam durasi waktu yang panjang dapat menjadi peringatan dini akan potensi terjadinya banjir. Hal tersebut tidak menjadi masalah apabila daya dukung alam terpenuhi, seperti kapasitas sungai yang cukup dan kawasan resapan air yang memadai.

Saat ini yang terjadi ialah sebaliknya, kapasitas sungai dan kawasan resapan telah berkurang, budaya menjaga lingkungan juga belum melekat dalam masyarakat karena masih banyak di antara kita yang kurang peduli terhadap kondisi lingkungan dan kebersihan dengan membuang sampah sembarangan, pembangunan yang mengabaikan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL), hilangnya resapan air karena penimbunan dan lain-lain.

Akibatnya, terjadi ketidakseimbangan atau perbedaan debit air yang datang dari curahan hujan dan tidak tersalurkan sehingga air mencari jalan sendiri untuk meluap ke tempat yang lebih rendah dan terjadilah banjir.

Sebenarnya, banjir datang tidak serta merta karena kehendak alam. Manusia juga mempunyai andil besar untuk mencegah datangnya banjir. Maka, ada beberapa hal yang dapat dilakukan, dalam hal ini Pemerintah Kota Tanjungpinang seperti membangun bendungan-bendungan yang berkemampuan menampung curahan air dari aliran sungai, curah hujan, dan lain sebagainya, memetakan daerah-daerah rendah yang rawan terkena genangan air dan kemudian membuat kebijakan pelarangan pembangunan pemukiman di wilayah-wilayah tersebut, membangun kanal-kanal baru atau resapan agar air yang mengalir di daerah tersebut bisa dialihkan alirannya, atau bisa diserap oleh tanah secara maksimal.

Lalu, membangun kanal, sungai buatan atau saluran drainase untuk mengurangi dan memecah penumpukan volume air, atau untuk mengalihkan aliran air ke daerah lain yang lebih aman. Secara berkala, harus dilakukan pengerukan lumpur-lumpur di sungai atau daerah aliran air, agar tidak terjadi pendangkalan.

Penjagaan bagi kebersihan sungai atau kanal juga harus dilakukan untuk mencegah tangan-tangan yang hendak mengotori atau mencemari sungai atau kanal. Membangun sumur-sumur resapan di kawasan tertentu juga bisa menjadi alternatif, selain bisa berfungsi sebagai tandon air yang sewaktu-waktu bisa digunakan terutama pada musim kemarau.

Fenomena curah hujan yang tinggi sebenarnya juga kita butuhkan untuk memenuhi berbagai kebutuhan air. Jadi, banjir dan hujan sebenarnya adalah anugerah alam, karena banjir juga membawa kemakmuran dan kesuburan tanah.

Karena itu, fenomena banjir dari curah hujan tadi tidak semestinya kita lenyapkan, melainkan harus dikendalikan agar dampak resiko kerugian dari fenomena tersebut dapat ditekan sekecil-kecilnya. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.