14 Hari Pemutus Rantai Penyebaran Covid-19

by -66 views
Mahasiswa Program Studi Administrasi Publik Stisipol Raja Haji Tanjungpinang, WAHYU WARDHANA PUTRA
Mahasiswa Program Studi Administrasi Publik Stisipol Raja Haji Tanjungpinang, WAHYU WARDHANA PUTRA
Iklan Banner

Oleh : WAHYU WARDHANA PUTRA

Mahasiswa Program Studi Administrasi Publik Stisipol Raja Haji Tanjungpinang

Opini, (MetroKepri) – Kebijakan dari beberapa negara yang terpapar wabah virus corona atau Covid-19 untuk memutus penyebaran virus tersebut berbagai macam. Virus corona atau Covid-19 yang sudah terlanjur menyebar ke manusia ini juga penyebarannya sangat cepat kesesama manusia dengan cara lewat cairan yang dihasilkan oleh orang seperti batuk dan bersin dan semua benda atau barang yang dipegang oleh orang yang dinyatakan positif virus corona atau COVID-19 tersebut.

Pemerintah Indonesia menerapkan suatu tindakkan yang berharap nantinya dapat mengurangi atau memutus penyebaran virus corona atau COVID-19.

Kemudian setelah munculnya virus corona atau COVID-19 di Indonesia ini, masalahnya adalah kurangnya rumah sakit khusus untuk menampung pasien positif terpapar virus corona atau COVID-19.

Akan hal itu, pemerintah berencana akan membangun rumah sakit di Pulau Galang, Batam, Kepulauan Riau. Kota Tanjungpinang merupakan salah satu bagian dari Negara Republik Indonesia yang harus ikut serta menerapkan aturan pemerintah pusat. Seperti yang diketahui bersama, maraknya penyebaran wabah virus corona atau COVID-19 yang telah melibatkan ODP atau Orang Dalam Pengawasan ada sebanyak 54 orang PDP atau Pasien Dalam Perawatan 11 orang pertanggal 21 Maret 2020 khusus di wilayah Kota Tanjungpinang.

Tidak menutup kemungkinan jika pemerintah tidak melakukan tindakan yang cepat, tepat, dan akurat maka penyebaran virus corona ini akan semakin luas.

Tindakan pemutus rantai penyebaran virus corona atau COVID-19 telah dilakukan pemerintah dimulai dengan upaya memberikan edukasi kepada masyarakat untuk tidak keluar rumah dalam waktu kurang lebih 14 hari.

Untuk pendidikan yang ada di Indonesi seperti Sekolah Dasar, Sekolah Menengah Pertama, Sekolah Menengah Atas, kampus swasta maupun negeri kegiatan belajar mengajar dilakukan dirumah masing-masing siswa siswi atau mahasiswa mahasiswi selama waktu yang telah ditentukan melalui sistem digital yaitu dengan memanfaatkan jaringan internet untuk belajar via online.

Indonesia perlu memperlakukan cara pencegahan seperti negara lain jika langkah awal belum bisa membuat kasus angka virus corona atau COVID-19 menurun. Sebagai contoh dari Negara Korea. Pejabat Korea Selatan berbagi pengalaman mereka dalam melawan wabah dengan mengatakan, isolasi kota sebagaimana diterapkan China di Wuhan, sulit dilaksanakan dalam sebuah masyarakat terbuka.

Lalu negara China juga memberlakukan jarak sosial yang ketat, pemantauan warga secara meluas, dan memastikan kepatuhan mereka pada tindakan pencegahan dengan memberlakukan hukuman dan penghargaan yang mengakibatkan penurunan signifikan dalam jumlah kasus baru.

Pemerintah Indonesia juga bisa memberlakukan peraturan yang sama seperti kedua negara tersebut agar terputus rantai penularan wabah virus corona atau COVID-19 di Indonesia.

Masyarakat Indonesia sebaiknya mematuhi peraturan pemerintah agar tidak banyak lagi orang yang terpapar virus corona atau COVID-19. Indonesia juga bisa melakukan lockdown sementara sampai benar-benar tidak ada lagi orang yang keluar masuk wilayah Indonesia. Seperti yang diterapkan oleh beberapa negara seperti negara China (Provinsi Hubei), Italia, Irlandia, Denmark, Prancis, Filipina, Spanyol.

Penerapan sistem lockdown ini juga sangat membantu Indonesia dalam hal mengurangi resiko penyebaran virus corona atau COVID-19 karena sistem lockdown juga bisa membantu mengurangi penyebaran virus corona atau COVID-19 selain mengurung diri dirumah dalam waktu 14 hari.

Akan tetapi, hal itu dirasa pecuma kalau kita berada didalam rumah namun masih ada warga negara lain yang bolak balik masuk ke Indonesia atau warga negara kita sendiri yang keluar masuk untuk liburan ke negara lain.

Oleh karena itu, kita juga bisa menerapkan cara seperti negara China yang memberi sanksi atau hukuman bagi masyarakat yang melanggar aturan pemerintah.

China merupakan negara pertama yang melakukan lockdown virus corona atau COVID-19 yang awal mulanya berasal dari negara ini tepatnya di Wuhan Provinsi Hubei. China kini bangga dengan pencapaian kebijakan mereka. Lewat kebijakan yang diambil dengan gaya birokrasi top-down tanpa toleransi terhadap perbedaan pendapat, ternyata angka penularan virus corona bisa ditekan.

Di Indonesia dengan diambilnya keputusan 14 hari tanpa keluar rumah sudah efektif untuk mencegah sekaligus mengetahui apakah orang tersebut terkena virus corona atau COVID-19. Kita yakin masyarakat Indonesia bisa kompak menyikapi masalah seperti ini tanpa harus ada hukuman dan sanksi.

Semoga masyarakat Indonesia sudah sadar akan besarnya dampak yang didapat ketika terpapar virus corona atau COVID-19 ini. Akan tetapi jika pada masa isolasi mandiri selama 14 hari belum cukup, bisa jadi akan ditambah sesuai kebijakan pemerintah.

Semuanya ada ditangan Pemerintah Indonesia dan juga kita sebagai masyarakat harus wajib mengikuti langkah apa yang diberikan pemerintah. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.