Tanjungpinang, (MK) – Upaya membangun basis ekonomi kreatif pada tahun 2020 mendatang, Dinas Pariwisata Provinsi Kepulauan Riau akan menggandeng dan memperdayakan usaha kecil menengah dan koperasi.
“Hal itu memang tidak mudah, tetapi kalau ada kemauan kuat dan didukung infrastruktur yang memadai, saya yakin bisa,” ucap Kepala Dinas Pariwisata Kepri, Guntur Sakti, Minggu (8/5).
Dia mengutarakan, Kepri sudah punya dasar sebagai salah satu daerah berbasis ekonomi kreatif. Peluang pasar internasional juga terbuka lebar karena posisinya hanya seperlemparan bola ke Singapura, Malaysia, Thailand dan negara – negara Asean lainnya.
“Koperasi dan UKM yang ada kita ajak kerjasama melakukan pelatihan usaha ekonomi kreatif. Bagi yang kredibel kita ajak mengikuti kunjungan kerja ke daerah lain yang mempunyai usaha ekonomi kreatif lebih maju. Dengan demikian usaha ekonomi kreatif di Kepri akan makin maju pesat, dan menjadi terobosan baru dalam pengurangan angka pengangguran,” ujarnya.
Selain itu, ekonomi kreatif telah disepakati sebagai sektor strategis dalam pembangunan nasional ke depan, karena terbukti memberikan kontribusi signifikan terhadap perekonomian. Sektor ini memberikan kontribusi 7,5 persen terhadap PDB, menyerap sekitar 12 juta tenaga kerja atau 10,72 persen dari total tenaga kerja nasional, menciptakan 6 juta usaha atau 9,68 persen dari total jumlah usaha nasional, serta berkontribusi terhadap devisa negara Rp120 triliun atau 5,8 persen dari total ekspor nasional.
Khusus Provinsi Kepulauan Riau, pertumbuhan tahun 2015 mulai berkembang cukup baik. Ekonomi kreatif dapat menciptakan nilai tambah dengan basis pengetahuan, warisan budaya, dan teknologi dari inovasi sampai ide kreatif menjadi karya yang dapat digunakan dan memiliki pasar.
Karya kreatif dari Kepri yang telah mengangkat provinsi ini ke pasar nasional dan internasional, antara lain Batik Gonggong, Kek Pisang Villa, Teh Prenjak, Teh Bunga Rosella, dan sebagainya.
Seperti yang dikutib Pipnews, Guntur menyebutkan, terdapat tujuh isu strategis yang menjadi potensi maupun tantangan yang perlu mendapatkan perhatian para pemangku kepentingan dalam pengembangan ekonomi kreatif di Kepri.
Ketujuh isu tersebut antara lain ketersediaan sumber daya kreatif yang profesional dan kompetitif, ketersediaan sumber daya alam yang berkualitas, industri kreatif yang memiliki daya saing, ketersediaan pembiayaan yang mudah diakses, perluasan pasar bagi produk kreatif, ketersediaan infrastruktur dan teknologi, serta kelembagaan yang mendukung ekonomi kreatif.
Diperlukan pendekatan holistik dan koordinasi yang efektif agar industri kreatif dapat berkembang pada masing – masing bidang sehingga dapat terjadi sinergi antar sektor dan membuat industri kreatif dapat menggerakkan sektor lain.
“Oleh karena itu, kita akan menyusun program dan strategi yang melibatkan semua unsur terkait dalam pengembangan industri kreatif,” papar Guntur.
Guntur menambahkan, instansinya tengah menyusun rencana pembangunan jangka menengah periode 2015 – 2020 untuk pengembangan ekonomi kreatif di Kepri. Ini bertujuan untuk mempercepat pengembangan ekonomi kreatif pada lima tahun ke depan sehingga perlu dilakukan sinergitas dan koordinasi dengan seluruh pemangku kepentingan ekonomi kreatif.
“Upaya ini perlu, supaya ekonomi kreatif menggeliat dan menjadi salah satu sektor ekonomi yang mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” katanya.
Fokus pengembangan subsektor ekonomi kreatif pada periode 2015 – 2020 adalah peningkatan daya saing industri kreatif dengan pemanfaatan iptek (ilmu pengetahuan dan teknologi) secara optimal dan pengembangan kreatifitas. (Red)
