Tanjungpinang, (MK) – Wali Kota Tanjungpinang, Lis Darmansyah membuka dialog keagamaan yang digagas oleh Forum Pemberdayaan Pesantren (FPP) Kepulauan Riau, di Gedung Arsip Daerah Tanjungpinang, Selasa (23/8).
Disela – sela membuka dialog tersebut, orang nomor satu di Tanjungpinang ini tampak bersemangat menyampaikan pandangannya mengenai radikalisme yang mulai marak diperbincangkan di tengah – tengah masyarakat.
“Tingkat toleransi yang sangat tinggi, menjadikan paham radikalisme berkembang subur ditengah – tengah masyarakat. Kehidupan sosial masyarakat kita sangat mudah menerima sesuatu hal yang baru,” ucap Lis.
Oleh karena itu, Lis berharap peran seluruh elemen masyarakat untuk membentengi diri dan lingkungan dari paham radikal.
Hal yang sama juga disampaikan Ketua FPP Kepulauan Riau, Rizaldy Siregar, MA.
Dia mengatakan munculnya paham radikal dapat merongrong keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
“Tindakan radikal dan teror sangat ditentang keras oleh Islam. Saat ini ‘Islam Rahmatan Lil Alamin’, terusik oleh arus radikalisme yang mengatasnamakan Islam. Maka, peran seluruh elemen masyarakat diharapkan untuk mengkampanyekan Islam rahmatan lil alamin,” kata Rizaldy.
Jika semua bergerak, terutama ormas Islam dan kelompok – kelompok agama lainnya, maka hal ini menurut Rizaldy akan mampu menghadang arus gerakan radikal dan transnasional yang mengancam keutuhan NKRI.
Dalam kegiatan tersebut, FPP menghadirkan narasumber dari berbagai lintas organisasi serta TNI dan kepolisian. Hadir sebagai narasumber dari Kanwil Kementrian Agama Kepulauan Riau, Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kepulauan Riau, Korem 033 Wira Pratama, Kepolisian Resor Tanjungpinang serta dari kalangan akademisi.
Hadir mewakili MUI Kepulauan Riau, Drs. Edi Safrani mengatakan terorisme tidak disematkan kepada kelompok agama tertentu. Semua tindakan serta aksi brutal yang menakut – nakuti apapun agamanya patut disebut sebagai teroris.
“Islam bukan teroris. Ketika seseorang membuat teror yang mengatasnamakan agama, hal ini bukanlah kesalahan dari agamanya. Namun mutlak kesalahan dari pribadinya,” katanya.
Saat radikalisme memasuki pola pikir, maka ia akan menjelma menjadi fundamentalisme, namun ketika radikalisme menjadi sebuah aksi dan tindakan nyata, maka ia akan menjadi seorang teroris.
“Cara yang ampuh untuk menangkal radikalisme adalah memperdalam kembali pemahaman kegamaan, keimanan dan ketaqwaan, dengan bersandar kepada Al Qur’an dan Hadist,” paparnya.
Tanjungpinang memiliki track jaringan teroris di Indonesia, hal ini ditunjukan dengan keberadaan Imam Samudra yang pernah tinggal di Kota Tanjunpinang selama 3 (tiga) bulan dan Slamet Bin Kastari hampir 6 (enam) bulan di Tanjungpinang. (ALPIAN TANJUNG)
