Mata Rantai Stunting Ancam Karir Dan Masa Depan Anak

by -138 views
Sekretaris Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana Kabupaten Natuna, Urai Damahnita Saat Ditemui Diruang Kerjanya
Sekretaris Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana Kabupaten Natuna, Urai Damahnita Saat Ditemui Diruang Kerjanya

Natuna, (MetroKepri) – Sekretaris Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana Kabupaten Natuna, Urai Damahnita mengatakan stunting sangat merugikan pada generasi – generasi penerus bangsa. Karena para penerus bangsa tidak tumbuh secara optimal.

Hal ini berpengaruh kepada kesempatan – kesempatan karir seperti masuk ke TNI – Polri, berlaga di arena olahraga, begitu juga kesempatan kerja lain yang membutuhkan penampilan fisik dan tinggi badan yang baik. Kesempatan untuk meraih cita – cita menjadi hilang dan tidak terwujud.

“Stunting ini perlu perhatian khusus, sangat berpengaruh pada masa depan anak, kesempatan dalam berkarir dan bekerja menjadi pupus. Kepada rekan – rekan wartawan, saya harap diinformasikan kepada masyarakat bagaimana pentingnya memutus mata rantai stunting,” papar Urai Damahnita saat dijumpai di ruang kerjanya, Senin 11 Februari 2019.

Urai Damahnita menjelaskan, stunting adalah keadaan tubuh yang sangat pendek, dilihat dengan standar baku WHO – MGRS (Multicentre Growth Reference Study), atau dengan kata lain, stunting adalah masalah kurang gizi kronis yang disebabkan oleh kurangnya asupan gizi dalam waktu yang cukup lama, sehingga mengakibatkan gangguan pertumbuhan pada anak yakni tinggi badan anak lebih pendek (kerdil) dari standar usianya atau dengan kata lain gagal tumbuh.

Penyebab stunting yakni kurangnya pengetahuan ibu mengenai kesehatan gizi pada masa seribu hari pertama dari kehidupan anak. Kurangnya akses ke makanan bergizi, hal ini dikarenakan makanan bergizi di Indonesia mahal seperti susu, keju, daging dan yang lainnya.

Selain itu, terbatasnya layanan kesehatan termasuk layanan kesehatan untuk ibu pada masa kehamilan dan pembelajaran dini yang berkualitas, serta kurangnya akses air bersih dan sanitasi.

“Di Ranai, hampir 90 % bayi lahir dengan panjang badan kurang dari 52 cm, ini menandakan dan mengancam dari gagal tumbuh anak untuk tumbuh tinggi optimal. Dari lahirnya, bisa diduga terjadi stunting atau tidak. Ibu – ibu muda, jika melahirkan anaknya, ditanya langsung sama bidannya berapa panjang anaknya. Jika panjangnya dibawah 50 cm, artinnya ayah dan ibunya harus segera intervensi dengan memberi asupan gizi yang ekstra buat sang buah hatinya,” ujarnya.

Masih kata dia, kebijakan pemerintah pusat untuk penanggulangan stunting di seluruh pelosok nusantara adalah dengan memutus mata rantainya, karena kalau tidak diputus mata rantainya, stunting ini bisa beregenerasi.

Contohnya, saat ini seorang remaja sudah mengalami stunting, remaja ini sudah harus diintervensi untuk memutus stuntingnya, jangan sampai anak dan cucunya juga mengalami stunting. Jadi semacam gen yang diturunkan secara terus menerus pada keluarga.

“Intervensi melalui ibu hamil masih tetap gencar kami lakukan. Selain itu, remaja juga kami intervensi sehingga 20 tahun kedepan, anak – anaknya sudah tumbuh secara optimal, otomatis kecerdasan anaknya juga bertambah cerdas dengan asupan gizi yang baik. Anak – anak inilah yang akan membangun daerahnya kedepan,” ucapnya.

Sebelum masa menjelang pernikahan, remaja ini sudah diintervensi untuk memperhatikan asupan gizinya. Sekarang ini, action dari Kementerian Kesehatan adalah memberikan tablet penambah darah sekali seminggu, khusus ke sekolah – sekolah menengah atau untuk menjaga anak – anak remaja kekurangan zat besi.

Selain kurangnya gizi, faktor kebersihan juga sangat mempengaruhi faktor terjadinya stunting. Walaupun stunting bukan penyakit menular, tapi kurangnya kebersihan membawa berbagai macam wabah yang mengancam keseimbangan pertumbuhan anak. Walau demikian, ini tidak menjadi pemutus mata rantai stunting.

“Ini sudah menjadi kebijakan pemerintah daerah untuk menanggulangi stunting, kami tidak ingin ada lagi stunting di Kabupaten Natuna. Dibuat bertahap, karena pekerjaan ini tidak semudah membalikkan telapak tangan. Peran serta semua unsur diharapkan mampu memutus mata rantai stunting dan membawa kemajuan pada daerah, dari generasi – generasi yang sehat dan kuat,” imbuhnya. (*)

Penulis : MANALU

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

No More Posts Available.

No more pages to load.