
Tanjungpinang, (MK) – Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Kepulauan Riau, Panusunan Siregar menyebutkan hasil ekspor udang dan ikan di Kepri tidak terlalu menggembirakan dari waktu ke waktu.
“Pada tahun 2010, Kepri mendapatkan 11 Juta U$. Kita bisa mendapatkan devisa, kemudian 2011 naik, 2012 sempat turun, 2013 turun sampai sekarang 2016,” papar Panusunan sambil menunjukan grafik di kantornya, Senin (09/1).
Jadi, menurutnya, dengan performas seperti ini seharusnya program pemerintah dari level provinsi sampai ke kabupaten/ kota diarahkan menggarap potensi perikanan.
“Kita bersama – sama tahu, Kepri ini 94 persen adalah lautan. 6 persen daratan, laut kita banyak ikan tapi ditangkapi orang – orang lain gitu,” ujarnya.
Dia mengutarakan, pasar utama ikan dan udang di Kepri ini adalah Singapura diikuti Malaysia kemudian Hongkong, Jepang dan Thailand.
“Jadi ada 5 pasar potensial produksi udang dan ikan kita. Maka tak heran negara mereka sering mencuri ikan ke kita,” ucapnya.
Dia mengemukakan, dilihat dari komoditas yang diekspor, bagian terbesar adalah ikan laut segar dan dingin.
“Pada tahun 2016 yakni Januari – Oktober sebanyak 78,38 persen adalah ikan segar, yang didinginkan kedua diantaranya adalah ikan kerapu hidup. Jadi kita mengekspor ikan kerapu hidup,” katanya.
Dikatakannya, kalau sudah tau potensi perkembangan perikanan, bagaimana mendorong potensi agar lebih maju lagi. (RUDI PRASTIO)
