Oleh: DIAN FADILLAH, S.Sos
Ketua Sanggar Lembayung Provinsi Kepri
Opini, (MK) – Apabila kita bertanya kepada semua orang di dunia, apakah kamu menyukai kehidupan yang tenang dan tidak ada marah – marah serta penuh dengan keharmonisan? Jawabannya adalah “Yes. yes yes”.
Untuk apa kita hidup harus marah – marah saja dan apa alasan sebenarnnya harus marah? Pasti kita akan menjawab kalau ada yang marah – marah apalagi tidak ada juntrungannya, ya tinggalkan saja dia sendiri.
Untuk apa kita kalau sedang enak duduk terus datang dimarah – marahi.. Apalagi kita tidak pernah tahu apa permasalahannya (ujung pangkalnya). Benar adanya sahabat – sahabatku tercinta, bahwa dalam situasi apapun kita harus dapat menciptakan suasana yang membuat kita nyaman dan benar – benar kondusif agar orang mau berkomunikasi dan jalan komunikasi yang kita lakukan sampai pada tujuan yang diharapkan.
Marah secara Kamus Umum Bahasa Indonesia (KUBI) dapat diartikan ”Sangat tidak senang (karena merasa dihina, diperlakukan tidak sepantasnya, dan sebagainya) dalam literatur lain, marah juga dapat diasumsikan dengan berang; gusar akan sesuatu yang menghambat perasaan.
Kalau marah tidak diantisipasi dan dibatasi sejak saat ini dan sebaik mungkin maka kita harus siap – siap akan terkena penyaklit mematikan yaitu penyakit darah tinggi dan akhirnya “mati”.
Mengapa kita tidak merobah pola marah seperti itu menjadi ramah karena itu dapat diasumsikan dengan baik hati dan menarik dalam budi bahasanya; manis tutur kata dan sikapnya; suka bergaul dan menyenangkan dalam pergaulan.
Mungkin itu better untuk dibuat sekarang daripada marah – marah terus yang akan membuat kita kehilangan kawan dan saudara.
Analisa kedokteran menerangkan tentang orang yang cepat marah ………….
Marah merupakan emosi yang sehat seperti halnya menangis atau tertawa. Jika seseorang marah, penyebabnya bisa karena kecewa, takut, tersinggung atau merasa terlukai hati dan perasaannya.
Namun, jika menemukan orang terdekat (wanita) marah secara berlebihan, selidiki dulu apakah ia dalam pengaruh pengobatan atau menderita suatu penyakit.
Menurut Dr. Helen Stokes Lampard dari Royal College of General Practitioners mengatakan, ada 8 (delapan) kondisi medis dan obat – obatan yang dapat menyulut kemarahan seseorang yang sering dilaporkan terkait tingkat kemarahan diantara pasien :
- Hipertiroidisme
Hal ini terjadi karena kelenjar tiroid memproduksi hormon tiroid terlalu banyak. Kondisi ini biasanya banyak dialami para wanita. Menurut Dr. Neil Gittoes, seorang ahli endokrinologi di University Hospitals Birmingham and BMI the Priory Hospital, Birmingham, hormon tiroid mempengaruhi sistem metabolisme Anda. Hal ini akan meningkatkan kegelisahan, gugup, serta sulit berkonsentrasi.
Ketika tiroid terlalu aktif, ini dapat menjadi alasan mengapa mudah berteriak secara keras kepada anak – anak, suami, atau orang lain.
- Obat kolesterol
Statin yang diresepkan sebagai obat kolesterol tinggi menimbulkan efek samping yang menyebabkan seseorang mudah kehilangan kesabaran. Dalam sebuah studi yang dilakukan para peneliti dari Universitas California, statin akan membuat serotonin lebih rendah, yang menyebabkan peningkatan depresi dan kematian.
- Diabetes
Seorang penderita diabetes yang kekurangan gula darah akan meningkat kemarahannya. Ketidakseimbangan kadar gula pada tubuh dapat menyebabkan ketidakseimbangan serotonin dalam otak. Akibatnya, sesorang menjadi lebih agresif, kebingungan, marah berlebihan dan bahkan sering kali mendadak mendapat serangan yang membuat panik.
- Depresi
Menurut Paulus Blenkiron, seorang psikiater di Bootham Park Hospital, York, akibat depresi seseorang dapat merasa sangat marah, gelisah serta menyebabkan perasaan tidak berharga, malu atau merasa bersalah dalam situasi – situasi tertentu sehingga sedikit saja bisa langsung cepat bereaksi.
- Autisme
Gangguan perkembangan ini bisa mempengaruhi pertumbuhan otak secara normal serta ketrampilan sosial dan komunikasi. Banyak hal yang menstimulasi sensorik dapat meningkatkan kemarahan penderita autisme.
- Alzheimer
Penyakit ini merupakan bentuk demesia atau kepikunan yang mempengaruhi fungsi otak termasuk perilaku emosional dan kepribadian seseorang yang dapat menyebabkan ledakan kemarahan.
- Obat tidur
Jangan membiasakan mengkonsumsi obat tidur kalau belumlah ngantuk betul. Obat – obat tidur seperti Benzodiazepin memang cepat bereaksi akan tetapi juga bekerja memperlambat berbagai fungsi otak sehingga bisa mempengaruhi eskalitas kemarahan seseorang.
- Sindrom pra menstruasi
Sindrom pra menstruasi (PMS) pada wanita terjadi karena tidak seimbangnya hormon seperti estrogen dan progesteron. Wanita menjadi lebih mudah marah tanpa alasan yang jelas.
Menurut American College of Obstetrics and Gynecology, mood wanita bisa berubah selama dua minggu terakhir siklus menstruasi atau dua minggu sebelum menstruasi.
Sebenarnya dalam situasi bagaimanapun kita tidak perlu marah, kita tidak perlu membentak untuk yang tidak kita senangi karena hal itu tidak akan memperbaiki keadaan (malah memperburuk dan memperkeruh) sehingga makna dan momentum pertemuan itu tidak dapat kita ciptakan kembali untuk kesempatan berikut.
Waktu itu sangat berharga kawan. Kita belum tentu akan berjodoh ketemu dengan orang yang sama pada waktu yang tepat. Mungkin orang itu berhalangan datang karena ada kegiatan lain, sakit, atau meninggal sehingga kita tidak dapat bertemu kembali.
“The righ man and the right place. Beberapa waktu lalu saya pernah sudah lama tidak ketemu dengan seorang kawan, persisnya pada hari Raya Idul Fitri dan ternyata pada saat tertentu ingin bertemu kembali ternyata dia sudah almarhum sudah meninggal duluan menghadap Illahi rabbi. Allahu Akbar. Apa kita harus kita ucapkan? Apa yang harus kita lakukan..
Tentunya tidak ada yang harus dibicarakan lagi karena kita tidak akan pernah punya kesempatan berjumpa kembali di dunia dikarenakan orang itu sudah almarhum atau almarhumah.
Unpredicable… kita tak dapat prediksi apa yang akan terjadi 1 detik – 1 jam – 1 hari – 1 bulan – dan 1 tahun kedepan termasuk kehidupan kita. Dengan melihat penyebab di atas, kita dapat mengerti bahwa kemarahan orang yang dicintai belum tentu berasal dari ego dirinya sendiri.
Bisa jadi karena penyakit yang dideritanya serta mungkin berasal dari pengaruh obat – obatan yang dikonsumsi sehingga secara tidak langsung mempengaruhi serotonin di otak dan menjadi memicu kemarahan yang terkadang terjadi secara tidak wajar.
Langkah apakah yang sebenarnya harus dilakukakan saat ini untuk menghadapi permasalahan kehidupan yang terkadang membuat muka memerah, darah naik sehingga semuanya jadi tegang dan menegangkan yaitu berpikirlah positif dengan percaya diri penuh, amati bahasa tubuh sendiri, lakukan kontak mata pada saat bicara, tersenyumlah, tunjukkan minat melalui bahasa tubuh, dan berusahalah menjadi pendengar yang aktif.
Ingatlah bahwa ini bukanlah perubahan yang terjadi seketika tapi perlu proses. Kita harus memposisikan diri untuk saat ini akan berubah menjadi sosok yang menyenangkan dan ramah tamah. Kematangan jiwa dalam bergaul dari waktu ke waktu dapat terhindar dari penyakit yang membahayakan.
Mari berupaya membuat hidup sehat di masa Idul Fitri ini dengan meluangkan selebar lebarnya pintu maaf untuk diri sendiri dan orang lain dan memberikan yang terbaik kepada orang sekitar karena dengan demikian hidup yang kita jalankan akan ringan untuk masa depan.
Selamat lebaran 1437 Hijriah. Semoga alam kebaikan kita semua diterima oleh Allah SWT dan dapat kembali ke Fitrah. (*)
