Tanjungpinang, (MK) – Ketua Komisi II DPRD Kepri Ing Iskandarsyah menyebutkan, sudah saatnya generasi muda bangkit, berinovasi dan berkarya menghasilkan teknologi yang dapat membangun Kepri.
“Melihat kondisi geografis, Kepri harus dikelola dengan sentuhan teknologi agar lebih efisien, murah, dan efektif,” papar Iskandarsyah saat mengisi materi seminar yang diselenggarakan Komunitas Bakti Bangsa di SMKN I Tanjungpinang, Jumat (19/8).
Iskandarsyah menyontohkan kondisi Singapura pada 40 – 50 tahun yang lalu mirip dengan Pelantar I dan Pelantar II Tanjungpinang sekarang. Kini negara tersebut memiliki bangunan pencakar langit yang megah dan kokoh.
“Singapura, negara yang bertetangga dengan Kepri ini dibangun dengan sentuhan teknologi,” ujarnya.
Legislator Partai PKS Dapil Karimun ini juga mengatakan, Pemerintah Singapura menggunakan teknologi tinggi untuk membangun negara itu.
“Bagaimana dengan Kepri? Kepri masih lambat mengenal, menggunakan teknologi. Maka kini saatnya generasi muda bangkit, dan berkarya menghasilkan teknologi yang dapat membangun Indonesia, khususnya Kepri,” ucapnya.
Dikesempatan yang sama, Kepala Bidang Sumber Daya Alam dan Teknologi Tepat Guna Perdesaan Badan Pemberdayaan Masyarakat Desa Kepulauan Riau (BPMD Kepri) Bertha De Jurisal menyampaikan, masyarakat harus melek teknologi, dan mampu memanfaatkannya secara positif.
“Pengembangan teknologi, tantangan yang harus mampu dijawab oleh generasi muda. Mereka harus mampu berinovasi, melahirkan ide – ide baru menciptakan teknologi yang berguna bagi masyarakat,” katanya.
Dia mengemukakan pelajar dan mahasiswa sebaiknya mengisi waktu dengan kegiatan positif. Bagi yang tertarik di bidang teknologi harus mendalami pengetahuan soal itu, dan berani berinovasi.
“Kepri membutuhkan pelajar dan mahasiswa yang berani berinovasi, menciptakan teknologi baru yang dapat menambah nilai produk,” paparnya.
Dia mengutarakan, pada tahun 2015 lalu ada dua pelajar berasal dari Dabo Singkep, Kabupaten Lingga berhasil menemukan teknologi sederhana, alat pemisah timah.
“Tahun ini, mereka berhasil juara dua dalam ajang bergengsi di Taiwan,” ujarnya dalam seminar yang mengangkat tema “Memanfaatkan Iptek Secara Maksimal Menggunakan Teknologi Untuk Kepentingan Bangsa” tersebut
Bertha juga menampilkan karya Novirman, seorang pelaku usaha kecil dan menengah yang menjadi juara pertama dalam Teknologi Tepat Guna Kepri tahun 2016.
“Novirman berhasil menemukan alat pengopek (pengupas) kacang yang sederhana,” katanya.
Dalam rekaman video tersebut tampak alat pengopek kacang bekerja efisien mengupas kulit kacang. Cara konvensional membutuhkan waktu selama 4 hari untuk mengupas 50 kg kacang, sementara dengan menggunakan alat yang diciptakan Novirman hanya 1 jam 14 menit.
“Novirman menciptakan alat untuk memudahkan kerjaannya, tetapi hasilnya dapat membantu masyarakat, lebih efisien, mudah dan efektif,” ujarnya.
Dalam seminar yang dihadiri sekitar 150 orang pelajar dan mahasiswa itu, narasumber lainnya, Mahmud Hidayaturahmad, mahasiswa fakultas Teknik Universitas Maritim Raja Ali Haji yang tahun ini akan diwisuda juga menampilkan karyanya berupa alat pengukur suhu air.
Alat yang sudah diteliti di berbagai laboratorium itu dibutuhkan untuk mengembangkan peternakan ikan.
“Saya persembahkan hasil penelitian saya itu untuk kampus, dan dapat dikembangkan untuk kemajuan perikanan di Indonesia, khususnya Kepri,” ujarnya yang juga aktivis Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) ini.
Dia menyerukan para generasi muda tidak hanya memanfaatkan media sosial untuk pamer, melainkan sarana komunikasi yang positif dalam pengembangan pengetahuan.
“Fasilitas gratis yang tersedia di internet juga seharusnya dapat dimanfaatkan untuk mengunduh berbagai kegiatan yang menambah pengetahuan, memotivasi agar berani berinovasi,” ucapnya.
Sementara, Dosen Fakultas Teknik UMRAH, Hendra Kurniawan, yang juga narasumber dalam seminar itu mengatakan sekolah dan kampus memiliki kewajiban untuk menciptakan generasi muda melek teknologi.
“Pengetahuan tentang teknologi juga harus disosialisasikan kepada masyarakat sehingga dapat dimanfaatkan. Dosen juga memiliki tanggungjawab menyalurkan ilmu, salah satunya terkait teknologi. Mau atau tidak mau, perguruan tinggi harus berinovasi dengan mengembangkan dan menggunakan teknologi, tidak boleh gunakan cara konvensional,” katanya. (ALPIAN TANJUNG)
