Tanjungpinang, (MK) – Komunitas Bakti Bangsa (KBB) membangun tugu di tempat pelaksanaan program Gerakan Kepulauan Riau (Kepri) Mengajar. Pemasangan tugu itu juga sebagai bukti para pengajar muda KBB sudah pernah memberi pendidikan gratis kepada anak – anak kurang mampu.
“Tugu itu sebagai bukti pengabdian kami. Tetapi yang lebih penting, tugu ini diharapkan dapat mendorong organisasi kepemudaan, mahasiswa dan organisasi kemasyarakatan di Kepri melakukan kegiatan yang positif untuk kepentingan masyarakat,” ucap Ketua Komunitas Bakti Bangsa Kepri, M Mukhlis yang juga mahasiswa Fakultas Keguruan Ilmu Pendidikan Universitas Maritim Raja Ali Haji (UMRAH) ini, Jumat (11/3).
Hal senada juga dikatakan Sekretaris Komunitas Bakti Bangsa Kepri, Hartina Dhika Restu. Dia menambahkan, pengajar muda di organisasinya sejak tahun 2012 lalu dan hingga sekarang telah melaksanakan program Gerakan Kepri Mengajar.
“Pertama kali, kami (Pengajar muda) memberi pendidikan gratis di Desa Tanjung Kapur, Kabupaten Bintan. Kami mengajar anak – anak dari keluarga petani dan nelayan,” ujarnya.
Pengajar muda juga pernah mengajar anak – anak kurang mampu di Desa Wacopek, Bintan.
“Ada dampak positif yang didapat oleh pelajar SD yang diajar. Mereka semakin rajin belajar, berbuat baik dan beribadah,” katanya.
Sementara di Tanjungpinang, Ibu Kota Kepri, pengajar muda memberi pendidikan gratis di berbagai tempat seperti Sei Ladi, Sei Nyiri, Kampung Kelam Pagi, Batu 8, dan sekarang Kampung Bulang.
Anak – anak yang diajar kebanyakan berasal dari keluarga kurang mampu, yang orang tuanya bekerja sebagai pemulung, nelayan, petani dan buruh.
“Mereka memiliki semangat yang tinggi untuk menjadi pelajar berprestasi di sekolah,” ujarnya.
Sekretaris Koordinator Daerah Komunitas Bakti Bangsa, Raja Azwar mengatakan, tempat mengajar rata – rata di masjid atau di surau dan dilakukan setiap hari Minggu pagi.
“Sudah ratusan pelajar yang sudah mendapat pendidikan gratis ini,” katanya.
Dia mengatakan kader pengajar muda berjumlah puluhan orang. Sebagian dari mereka sudah bekerja setelah tamat kuliah.
“Setiap tahun selalu terjadi regenerasi kepengurusan. Ini sebagai wujud mendorong mahasiswa yang memiliki komitmen untuk mengabdi,” ucapnya. (ALPIAN TANJUNG)
