Laksamana Pertama Sulistiyanto Lahir Dari Keluarga Sederhana

by -662 views
by
Danlantamal IV Tanjungpinang, Laksamana Pertama TNI AL Sulistiyanto
Danlantamal IV Tanjungpinang, Laksamana Pertama TNI AL Sulistiyanto
Danlantamal IV Tanjungpinang, Laksamana Pertama TNI AL Sulistiyanto
Danlantamal IV Tanjungpinang, Laksamana Pertama TNI AL Sulistiyanto

Profil, (MK) – Komandan Pangkalan Utama TNI AL (Danlantamal) IV Tanjungpinang Laksamana Pertama TNI AL Sulistiyanto, ternyata lahir dari keluarga yang sangat sederhana di Jogyakarta pada 02 Oktober 1961 silam.

Orang nomor satu di Pangkalan Utama TNI AL (Lantamal) IV Tanjungpinang ini juga anak dari seorang ibu yang berasal dari Kendal Jawa Tengah (Jateng) dan ayahnya berasal dari Jogyakarta.

Kepada metrokepri.co.id, Danlantamal IV Tanjungpinang ini menyampaikan, pada tahun 1964 kedua orang tuanya hijrah dari Jogyakarta ke Jakarta.

“Ayahnda saya bekerja di Departemen Perdagangan dan Ibunda saya seorang Bidan di Rumah Sakit swasta yang selalu berpindah – pindah,” ucap Laksamana Pertama TNI AL Sulistiyanto, Rabu (20/1).

Dari kehidupan selalu berpindah – pindah, sejak tugas sang ibunda di RS Fatmawati sampai terakhir di komplek Perdagangan Bintaro, Tanah Kusir dan akhirnya memasuki usia pensiun.

“Memasuki usia pensiun, Ibunda saya buka praktek Bidan disamping rumah yang dibangun klinik bersalin,” katanya.

Dia mengutarakan, dirinya mempunyai lima saudara kandung yakni empat laki – laki dan satu perempuan. Mereka terlahir dari keluarga yang biasa – biasa saja dan saat ini kedua orang tuanya sudah tiada sejak berada di Jakarta.

“Saya besar dan bersekolah di Jakarta, mulai dari SD, SMP sampai lulus SMA pada tahun 1980. Setelah lulus, saya lanjutkan untuk mengikuti tes AKABRI dan alhamdullilah langsung diterima pada saat itu,” kenangnya.

Sebenarnya, kata Sulistiyanto, dari kecil tidak mempunyai cita – cita untuk masuk AKABRI, namun seiring berjalannya waktu dirinya harus memilih ketika disuruh milih Matra.

“Saya pilih yang paling dekat dengan keluarga besar yaitu yang ada di Jogyakarta, AAU dan Magelang, AKMIL. Tetapi waktu penjurusan Matra, saya dimasukkan ke Matra laut (AAL) pada waktu itu sempat bingung juga karena tidak punya saudara disana tetapi setelah tinggal ternyata ada beberapa saudara dari bapak dan ibu di Surabaya,” ungkapnya.

Setelah masuk AAL, kenang Sulistiyanto, dirinya merasa bersyukur dapat masuk di Matra Laut. Setelah merasakan latihan berlayar barulah dirinya merasakan betah.

“Selain pengalaman baru yang unik di laut, saya juga pada waktu itu tahan terhadap ombak yang kadang – kadang membuat orang mabuk,” katanya.

Dari pengalaman itulah, kata Sulistiyanto lagi, dirinya masuk TNI AL mungkin semuanya sudah diatur oleh Tuhan Yang Maha Kuasa. Dia juga merasa bersyukur sudah diberikan pilihan Matra terbaik oleh Tuhan Yang Maha Esa buat dirinya.

“Alhamdullilah, selama 32 tahun berdinas dan selama 16 tahun dinas di kapal 10 KRI dan dan sisanya 16 tahun bertugas di staf atau satker darat,” paparnya.

Oleh karena, Sulistiyanto sangat bersyukur kepada Allah SWT karena bisa masuk TNI AL. Sejak pendidikan AAL, dirinya sudah diberikan kesempatan pelayaran muhibah ke luar negeri dengan KRI Dewa Ruci dan pelayaran Kartika Jala Krida pada tahun 1983 silam.

“Selama pelayaran, saya sampai juga mengunjungi Manila Ibukota Negara Filipina, Osaka dan Kyoto di Jepang. Setelah lulus kesempatan ‘Joint The Navy to Sea The World’ semakin terbuka lebar. Selain itu, saya pernah diberikan kesempatan mengawaki kapal Fregat Kri Ahmad Yani dari Den Helder Belanda yang berlayar dari Eropa ke tanah air dengan menyinggahi beberapa negara Eropa, Afrika dan Asia,” ucapnya.

Dari pengalaman itu, Sulistiyanto pernah bertugas sebagai Millitary Observer di Unikom yang merupakan orang dibawah PBB diperbatasan antara Iraq – Quwait selama lebih kurang 13 bulan dan pernah bertugas sebagai Atase Laut di KBRI Kuala Lumpur, Malaysia.

“Pendidikan dan kursus di luar negeri juga pernah saya alami, yaitu pendidikan AL di India, Belanda, Singapura, Malaysia dan Australia,” ujarnya.

Pada penugasan operasi di dalam negeri, Sulistiyanto mengaku sudah tidak terhitung jumlahnya hampir semua pelabuhan besar dan menengah di tanah air sudah dikunjunginya. Bahkan, pasca jejak pendapat Tim – Tim, kerusuhan sosial di Maluku, angkutan transmigrasi, angkutan lebaran, pergeseran pasukan, latihan TNI AL, latihan gabungan dan latihan bersama dengan angkatan bersenjata negara sahabat sudah sering dialaminya.

“Semua itu akan menjadi pengalaman yang sangat berharga bagi saya, untuk menyarankan kepada pimpinan dan mengambil keputusan didalam komando yang saya pimpin dan saya pertanggungjawabkan kepada kedinasan,” katanya.

Sebelum mengakhiri wawancara, Sulistiyanto yang dulunya mempunyai cita – cita menjadi seorang insinyur ini agar mendapatkan gaji yang besar, karena pada waktu itu menjadi seorang insinyur tamatan ITB sangatlah ngetop tetapi karena menyadari hidupnya dari keluarga yang sederhana kehidupan di laut dijalaninya dengan sabar dan tabah.

“Tapi, saya bersyukur selama pendidikan empat tahun pada waktu itu tanpa biaya. Setelah lulus langsung bekerja dengan gaji yang cukup walaupun tidak untuk hidup mewah, sampai akhirnya dan seiring dengan berjalannya waktu. Hasil pendidikan, penugasan, pengalaman serta jabatan, kenaikkan pangkat saya meningkat secara bertahap sampai dengan saat ini menjabat sebagai Danlantamal IV Tanjungpinang,” imbuhnya. (NOVENDRA)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

No More Posts Available.

No more pages to load.