Tanjungpinang, (MK) – Angka kejadian virus HIV/ Aids masih cukup tinggi di Kota Tanjungpinang. Maka upaya pencegahan penularan harus ditingkatkan. Salah satu yang wajib dicegah adalah penularan HIV/ Aids dari ibu kepada bayinya.
Dinas Kesehatan dan Pengendalian Penduduk Kota Tanjungpinang telah beberapa tahun mengembangkan program pencegahan penularan dari ibu ke anak yang disebut program pencegahan penularan HIV/ Aids dari ibu ke anak (PPIA).
“Tahun 2014 telah diperiksa sebanyak 1978 ibu hamil dan ditemukan positif HIV 10 orang. Pada tahun 2015 diperiksa sebanyak 2.442 ibu hamil dan ditemukan positif HIV sebanyak 8 Ibu hamil, tahun 2016 diperiksa sebanyak 3.236 ibu hamil dan ditemukan positif HIV 11 orang serta tahun 2017 diperiksa 2.985 ibu hamil dan ditemukan positif HIV sebanyak 5 orang,” papar Kepala Dinkes dan Pengendalian Penduduk Kota Tanjungpinang, Rustam kepada awak media ini melalui WhatsAppnya, Kamis (30/11/2017).
Rustam mengutarakan, dari data yang ada para ibu hamil yang dideteksi HIV positif setelah mengikuti program terapi yang dilakukan tim layanan HIV dan dapat melahirkan bayi/ anak yang negatif dari HIV/ Aids.
“Selain para ibu hamil, Dinkes PP bersama KPA dan stakeholder juga melakukan pencegahan penularan pada kelompok beresiko lainnya, antara lain kelompok seks sesama jenis maupun kelompok seks lain Heni’s,” ujar Rustam.
Upaya ini, masih kata Rustam dilakukan berdasarkan data yang ada selama ini yaitu penularan HIV sebagian besar terjadi akibat hubungan seks yang beresiko.
“Pada kelompok beresiko diharapkan dapat mengakses layanan yang ada sehingga bisa mengetahui status HIV yang bersangkutan apakah positif atau negatif. Bagi yang masih negatif tentunya harus disyukuri dan segera beralih ke arah perilaku seks yang aman,” katanya.
Rustam menghimbau, bagi yang nantinya diketahui telah positif HIV harus segera mengikuti standar terapi yang telah disediakan agar kondisi kesehatannya tetap sehat dan tidak jatuh pada kondisi Aids.
“Untuk itu, bagi yang positif juga harus melakukan seks yang aman, seperti memakai alat kontrasepsi agar menghindarkan orang lain dan pasangannya dari penularan HIV olehnya,” ucap Rustam.
Sementara itu, sebuah paradigma baru dalam pengobatan HIV telah dikembangkan dan berubah 180 derajat dari paradigma sebelumnya. Dimana selalu dikatakan HIV/Aids tidak ada obatnya. Saat ini, dikatakan bahwa HIV/ Aids ada obatnya walaupun tidak menyembuhkan, tetapi dapat menjamin kesehatan pengidap HIV asal.
“Asal melakukan pengobatan seumur hidup. HIV/ Aids dalam paradigma baru sekarang sudah dianggap sama dengan penyakit kronis lainnya seperti hipertensi dan diabetes,” imbuhnya. (NOVENDRA)
