Ditetapkan Sebagai Tempat Obsevasi, Masyarakat Natuna Resah

by -74 views
Ribuan masyarakat berkumpul untuk menolak WNI dari Wuhan yang akan diobservasi di Natuna
Ribuan masyarakat berkumpul untuk menolak WNI dari Wuhan yang akan diobservasi di Natuna

Natuna, (MetroKepri) – Ribuan masyarakat Natuna berkumpul menjadi satu di Kantor DPRD Natuna. Kehadiran masyarakat ke gedung DPRD tersebut untuk menolak kedatangan WNI yang berada di Kota Wuhan, China untuk di observasi di Kabupaten Natuna, Sabtu 1 Februari 2020.

Masyarakat yang sudah merasa sangat resah semakin bertambah resah setelah Kabupaten Natuna ditetapkan secara pasti oleh Pemerintah Pusat sebagai tempat observasi.

“Kami tidak ingin jika kedatangan WNI dari Wuhan tersebut justru membawa Virus Corona ke wilayah ini dan menjangkit ke masyarakat setempat. Karena seperti diketahui bersama, saat ini di Kota Wuhan China sedang marak adanya virus corona yang mematikan bagi manusia,” papar salah seorang warga ketika menunggu Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan Menteri Kesehatan.

Setelah menunggu lama, kedatangan Kepala BNBP Letnan Jenderal Doni Monardo disambut dengan teriakan protes oleh masyarakat yang sudah menunggu. Suasana yang semula kondusif berubah menjadi tegang saat sang Jenderal memasuki ruang paripurna DPRD Natuna.

“Saya sampaikan kepada masyarakat disini, mereka yang dari Wuhan tersebut adalah masyarakat NKRI dan mereka yang pulang ini adalah warga Indonesia yang sehat. Sebelum masuk pesawat, tim medis akan memeriksa mereka. Intinya, orang yang ada di pesawat tidak mau untuk tertular,” ujar Letnan Jenderal Doni Monardo saat berada di ruang rapat paripurna DPRD Natuna yang disambut teriakan protes dari masyarakat yang hadir.

Setelah ditenangkan oleh Ketua DPRD dan anggota, masyarakat yang sebelumnya rusuh kembali tenang.

“Sebelum masuk wilayah observasi, mereka akan disemprot cairan desinfektan. Kabupaten Natuna dipilih karena salah satu pangkalan Lanud terbesar ada disini,” kata Letjen Doni yang kembali membuat masyarakat berteriak dan tersulut emosi.

Suasana tegang dan protes dilayangkan oleh masyarakat ketika berdialog dengan Kepala BNBP Letnan Jenderal Doni Monardo di ruang rapat DPRD Natuna
Suasana tegang dan protes dilayangkan oleh masyarakat ketika berdialog dengan Kepala BNBP Letnan Jenderal Doni Monardo di ruang rapat DPRD Natuna

Sementara itu Ketua DPRD Natuna, Andes Putra ingin mendengarkan komitmen dari Menteri Kesehatan untuk langsung mendengarkan saran dan kritik yang ingin disampaikan sebelum warga WNI dari Wuhan sampai di Natuna dan membutuhkan keputusan saat ini juga.

“Ada dua opsi yang kami buat, pertama adalah kami menolak, kedua adalah evakuasi di laut dan langsung ke KRI,” kata Andes Putra.

Sementara itu, masyarakat kembali meneriakkan untuk WNI dari Wuhan dikembalikan langsung ke Jakarta dan dikembalikan ke keluarganya masing-masing.

“Jangan kami dibohongin dan banyak alasan, akan lebih banyak massa yang akan datang, kami terusik dan tidak perlu penjelasan. Satu saja yang terjangkit virus ini, kami akan mengambil sikap,” ucap warga dengan berapi-api.

Setelah bertemu dengan masyarakat dan mendengar protes dari masayarakat, Letjen Doni akan menyampaikan saran dan protes masyarakat ke Menteri Kesehatan sehingga nanti ada keputusan.

“Sabar ya, minta waktu. Saya akan menghubungi Menteri Kesehatan dan menunggu kedatangan beliau di bandara,” ucapnya.

Setelah itu, Kepala BNPB, Ketua DPRD dan perwakilan masyarakat pergi ke bandara untuk menunggu Menteri Kesehatan. Ribuan masyarakat tetap bertahan di Kantor DPRD Natuna untuk menunggu kedatangan Menteri Kesehatan dan mendengar keputusan yang diambil.

Lebih kurang sejam, Menteri Kesehatan Letnan Jenderal TNI (Purn) Dr Terawan Agus Putranto hadir di halaman Kantor DPRD Natuna dan disambut masyarakat dengan teriakan “tolak” “tolak” “tolak”.

“Saudara – saudara kita yang ada di Wuhan terkurung disana. Mereka sehat dan tidak sakit. Menurut peraturan dari WHO, yang sehat boleh keluar dari sana. Saya ini dokter, jadi saya tahu. Kalau tidak sehat tidak akan dijemput dan tidak boleh keluar dari sana,” kata Dr Terawan ditengah kerumunan masyarakat.

Dr Terawan meyakinkan masyarakat, bahwa sampai detik ini, Negara Indonesia belum terkena Virus Corona dan WNI dari Wuhan ini adalah saudara sebangsa dan setanah air yang sehat.

“Pertama yang harus diingat, ini bukan karantina melainkan observasi. Kami tidak akan sembarangan melakukan observasi karena harus menurut peraturan WHO. Bangsa kita adalah bangsa yang kuat. Kedua, saudara kita ini akan ditempatkan di komplek militer, ketiga, saya sendiri akan mendampingi mereka ketika tiba di Natuna. Kenapa saya dampingi mereka? Karena saya tahu ini aman, mereka sehat. Saya juga punya anak istri sama seperti semua yang ada disini,” kata Dr Terawan.

Walapun sudah dijelaskan oleh menteri, masyarakat tetap menolak penjelasan yang diberikan dan bersikukuh menolak kedatangan WNI dari Wuhan.

Akhirnya, Andes Putra memberikan dua opsi yang sudah disampaikan tadi ke Kepala BNPB kepada Menteri Kesehatan yakni, pertama menolak, kedua boleh mendarat disini tapi di observasi di laut bersama KRI.

Usai mendapat opsi, Menteri Kesehatan akan melakukan rapat internal di Lanud RSA untuk mengambil keputusan selanjutnya.

Dari pantauan media ini, hingga malam masyarakat tetap bertahan untuk menunggu keputusan yang diambil. (Manalu)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

No More Posts Available.

No more pages to load.