Oleh: DR Jaya Wardhana, SE.,SH.,MM
Opini, (MetroKepri) – Sebagai pemerhati kebijakan publik saya tergugah untuk membuat semacam ringkasan opini barangkali lebih familiar dikatakan dengan sebutan pendapat pribadi terkait situasi sistem perpolitikan, bahkan yang juga akan mengulas fenomena sosial akibat kekeliruan penerapan peraturan dan kebijakan yang mungkin masih belum tepat sasaran.
Menurut pendapat saya konsep komunikasi politik yang disampaikan oleh beberapa tokoh politik dan para elite politik, para intelektual, akademisi dan pengamat poitik, para intelektual masih saja sebatas perdebatan yang entah kapan bisa terwujud dan dirasakan oleh seluruh lingkungan kehidupan sosial masyarakat yang adil dan berkemakmuran sesuai dengan pancasila dan UUD 1954.
Sepertinya saya tidak akan mampu membendung revolusi, modernisasi serta arus globalisasi zaman, akan tetapi, saya akan terus berupaya memberikan pemahaman dan pendidikan politik kepada masyarakat atau orang disekeliling saya sesuai dengan disiplin ilmu dan pengetahuan yang saya miliki, saya berharap masa depan masyarakat memiliki formula berfikir dan berpendapat lebih baik dan berintegritas dengan tetap berdasarkan kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Berhentilah untuk saling menyalahkan dan mendramatisasi keadaan dengan fiksi, saya berharap para tokoh politik, elite partai politik, para pemangku kekuasaan mari kita benahi Republik ini dengan gagasan dan inovasi dengan metode konstruktif yang berkepastian dan bertujuan demi keadilan sosial. Ingat sejarah perjuangan para pahlawan bangsa yang menitipkan cita-cita mereka kepada kita di masa ini. Berhentilah saling memburukkan satu dengan yang lain kecerdesan anak bangsa dibutuhkan untuk terus bisa menjaga kemajemukan dan perbedaan yang ada dengan cara-cara yang lebih baik dan bermartabat.
Sepertinya pemerintah seakan tidak pernah belajar dari sejarah..!! Budayakan membaca buku-buku tentang 30 tahun Indonesia merdeka sebagai referensi untuk mengelola sistem yang lebih baik, bahkan buku sejarah perekonomian Indonesia juga banyak memberikan bagaimana cara membangun sistem perekonomian. Saya sarankan untuk membaca buku sejarah perekonomian dimasa transisi pada tahun 1968 sampai periode pertama PELITA.
Wahai para pembaca apabila memiliki keinginan belajar dan mencermati setiap peristiwa sejarah pada masa transisi terberat sebenarnya masa itu dirasakan oleh mantan presiden Soeharto, pada masa kepemimpinan beliau sejarah mencatat terjadinya peralihan kepemimpinan fundamental.
Soehato adalah presiden kedua Republik Indonesia yang dipaksa turun dan meletakkan jabatan nya bahkan mantan RI kedua itu mewarisi utang yang cukup besar, bahkan utang yang barangkali tidak pernah terpikirken oleh Soeharto pada masa itu. Soeharto juga dihadapkan dengan berbagai persoalan politik, ekonomi sampai pada akhirnya mengharuskan dirinya untuk melepaskan jabatan presiden sebelum masa jabatannya selesai. Saya berharap kepada empat pilar kebangsaan beserta seluruh elemen bangsa, para tokoh, elite politik dan para ketua parpol, akademisi, para intelektual untuk mementingkan kepentingan pribadi dan kelompok.
Sebagai pemerhati kebijakan publik saya akan terus memberikan pelajaran politik yang baik dan bermartabat sesuai amanat konstitusi berbangsa dan bernegara.
Saya juga berharap kepada pemerintah sebaiknya dapat menjadikan sejarah Soeharto sebagai bahan pertimbangan untuk memperbaiki dan membenahi berbagai persoalan yang kini dialami oleh bangsa. Mari sama sama kita ulas sejarah mantan presiden Soeharto dalam menghadapi proses pemulihan nasional menjelang tahap pertama sekali program PELITA.
Saya sudah membaca beberapa literatur- yang beraliran kiri maupun kanan akan tetapi hingga saat ini belum saya temukan fakta hukum yang mengatakan mantan presiden Soeharto bersalah dengan tuduhan yang selama ini dialamatkan kepadanya.
Sebagai putra bangsa saya berharap konsep dramatisasi terhadap pelaku sejarah seperti mantan presiden Soeharto dan yang lainnya agar dapar dihentikan dan mengganti isu-isu yang dialamatkan kepadanya dengan isu-isu prestasi selama beliau menjalankan roda pemerintahan kala itu. Alat pembuktian begitu dari sumber, terus dialamatkan kepada Soeharto, tidak begitu lama setelah reformasi saya mendapatkan informasi dari beberapa sumber bilamana ada skenario besar yang sengaja dirancang untuk menjatuhkan pemerintahan di zaman Soeharto.
Menurut saya mantan presiden Soeharto adalah bapak bangsa yang patut kita teladani, mungkin saja jejak digital sekitar tahun 1968 saya lupa tanggal dan juga hari nya, Soeharto berpidato untuk mengajak seluruh elemen bangsa untuk menatap masa depan dengan gagasan dan program PELITA-nya. Saya berharap untuk berhenti merekayasa sejarah dengan menjadikan kekeliruan masa lalu sebagai bahan untuk tujuan dan kepentingan suatu kelompok tertentu.
Mari kita berfikir dan berpendapat dengan cara cerdas dan berintegritas demi bangsa dan negara dan melahirkan regenerasi tangguh dan berintegritas yang mungkin akan bermanfaat bagi para penerus bangsa untuk mencatat sejarah setiap peristiwa sejarah tanpa merekayasa fakta sejarah yang sebenar nya.
Semoga, mereka yang dulu keliru menceritakan kebenaran dari fakta sejarah dapat kembali kejalan yang baik dan benar sesuai keyakinan dan keagamaan, ntah apakah mungkin SALAH ASUPAN, ataukah SALAH DIDIKAN, atau barangkali SALAH DILAHIRKAN, generasi-generasi sesudah SOEHARTO malah JAUH LEBIH KONYOL. Lebih konyol kalau kenyataan pada hari ini MERUPAKAN DOSA-DOSANYA PEMERINTAH SEBELUMNYA. Lihatlah para penghamba-penghambanya, Penjilat, Pemuja pemerintah yang berkuasa. Dengan sangatlah begitu enteng melimpah dosa-dosa sekarang ini kepada pemimpin-pemimpin sebelumnya. KONYOL MEMANG KONYOL, mereka tidak mengerti kalau berbangsa itu, kalau bernegara itu sebagai suatu TANGGUNGJAWAB KOLEKTIF. (*)
