Natuna, (MetroKepri) – Pembangunan Kabupaten Natuna sebagai salah satu beranda terdepan Indonesia tentu sejalan dengan prioritas visi – misi Presiden Joko Widodo dan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2015 – 2019.
Salah satu agenda prioritas pemerintah saat ini adalah pembangunan Indonesia dari pinggiran dengan memperkuat daerah – daerah dan desa dalam kerangka negara kesatuan.
Sebagai tindaklanjut kegiatan penggalian potensi Natuna pada tahun 2017 dalam kerangka SIDI (Small Island Development Intiative), Natuna merupakan pusat pengkajian dan pengembangan kebijakan multilateral.

Kementerian Luar Negeri kembali menyelenggarakan Kegiatan Forum Kajian Kebijakan Luar Negri (FKKLN) yang bertemakan “Kekayaan Alam Dan Budaya Kepulauan Natuna Sebagai Aset Diplomasi Maritim” yang dilaksanakan di Hotel Harmoni One Batam, Rabu (04/07/2018).
Sehari sebelumnya telah dilaksanakan juga pemaparan hasil penelitian di Natuna.
Dengan kegiatan yang dilakukan, FKKLN meninjau daerah Natuna dengan menyertakan Tim ESDM yang diperkuat Badan Geologi Nasional dari Universitas Padjajaran serta tim dari Kemenko Pembangunan Manusia dan Kebudayaan serta perwakilan Siemen Indonesia.
Pada kesempatan tersebut, Asisten Gubernur bidang ekonomi pembangunan, Dr. Samsul Bahrum mengatakan bahwa Natuna memiliki potensi baik potensi positif maupun potensi konflik, mengigat dinamika di laut Tiongkok Selatan saat ini.
Hal ini perlu disikapi dengan bijak secara komprehensif oleh pihak – pihak terkait di Indonesia.
Pengusulan Natuna untuk menjadi provinsi juga pernah digaungkan oleh Bupati Natuna demi menjaga daerahnya dan kedaulatan NKRI serta pengusulan Natuna sebagai salah satu Geopark Nasional dan Global Geopark UNESCO dengan segala konsepnya (cultural diversity, geology diversity dan eco – tourism) harus dikaji dengan baik, dikembangkan secara bersinambungan dan dapat disesuiakan dengan pengusulan anggaran dan penempatan SDM pemerintah daerah, serta program – program keikutsertaan masyarakat setempat untuk mendukung konsep geopark.
Kegiatan pengusulan konsep geopark dimaksud juga dapat didukung dengan kegiatan kreatif lainnya seperti pengembangan marine techno park dan marine eco park dengan merangkul instansi terkait termasuk lembaga riset wilayah sekitar Natuna lainnya.

Sementara itu Bupati Natuna, Drs. H. Abdul Hamid Rizal Msi yang diwakili oleh Dinas Pariwisata Natuna, Erson Gempa Afriandi menyampaikan bahwa kepulauan Natuna dan eksitensi warisan budaya didalamnya untuk memajukan kesejahteraan masyarakat Natuna serta memperkuat diplomasi maritim.
Pengembangan pariwisata Natuna dengan memajukan teknologi informasi dan media lainnya juga harus didukung dengan pelestarian keasrian lingkungan Natuna.
Walaupun terdapat beberapa kendala pengembangan potensi dimaksud khususnya terkait dengan keterbatasan SDM dan dana, namun Pemerintah Natuna berkomitmen memberikan dukungan bantuan baik materil maupun immaterial agar seluruh program pengembangan Natuna inisiatif Kementerian Luar Negri dapat berjalan lancar.
Kepala Geologi Nasional, Ir Rudi Suhendra dalam pemaparannya menjelaskan bahwa selain migas, Natuna juga memiliki potensi warisan alam berupa batuan geologi yang sangat unik keberadaannya.
Salah satu kawasan yang saat ini telah menjadi destinasi wisata bagi para turis diwilayah Natuna adalah Alif Stone Park. Secara keseluruhan, Pulau Natuna merupakan sebuah kawasan taman geologi (geopark) yang terbentang dikawasan perairan pantai sampai daratan.
Asisten Deputi Warisan Budaya Kementerian Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Dr. Pamuji Lestari menerangkan bahwa dalam mengelola dan melestarikan warisan budaya dan alam Indonesia penting untuk meningkatkan kesadaran publik dan mengikutsertakan penduduk lokal.
Program pengembangan potensi wisata daerah harus sejalan dengan program prioritas nasional.
Kegiatan ini dihadiri puluhan peserta yang terdiri dari mahasiswa, organisasi sipil masyarakat, pejabat pemerintah dan sektor wisata. (MANALU)
