Tingkat Inflasi YTD Sebesar 4,38 Persen, Kepri Terendah Se-Sumatera

by -87 views
Gubernur Kepulauan Riau H Ansar Ahmad
Gubernur Kepulauan Riau H Ansar Ahmad

Tanjungpinang, (MetroKepri) – Berdasarkan Berita Resmi Statistik BPS Kepulauan Riau yang dirilis pada Senin (1/8/2022), perkembangan Indeks Harga Konsumen (IHK) Provinsi Kepulauan Riau pada Juli 2022 tercatat 111,74 atau mengalami inflasi sebesar 0,61 persen.

Sedangkan tingkat inflasi tahun kalender/ year to date (ytd) Juli 2022 sebesar 4,38 persen, menjadikan Kepri Provinsi dengan tingkat inflasi YTD terendah se-Sumatera per Juli 2022.

Inflasi month to month (mtm) Kepri sebesar 0,61% pada Juli 2022 didominasi oleh kelompok administered prices. Inflasi kelompok administered prices didorong oleh kenaikan tariff angkutan udara sejalan dengan kenaikan harga avtur dan permintaan serta kenaikan harga rokok kretek filter.

Sementara itu, inflasi kelompok volatile food relatif mereda, didorong oleh deflasi pada minyak goreng dan perlambatan inflasi cabai merah dan bawang merah. Inflasi kelompok inti utamanya bersumber dari peningkatan upah asisten rumah tangga, harga kopi bubuk dan sabun detergen.

Menanggapi rilis BPS tersebut, Gubernur Kepri H. Ansar Ahmad komitmen bersama Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) Kepri untuk terus melanjutkan upaya-upaya menekan inflasi di Kepri.

“Tentunya dalam ranah yang sesuai kewenangan daerah untuk diintervensi. Karena bicara inflasi ada beberapa faktor yang tidak dapat diintervensi oleh daerah. Kita akan kerja maksimal mencari cara dan celah untuk menekan itu,” papar Gubernur Ansar, Jumat (5/8/2022).

Mengenai posisi Kepri yang berhasil menekan inflasi year to date (ytd) per Juli 2022 menjadi yang terendah se Sumatera, Gubernur Kepri H. Ansar Ahmad mengaku hal itu tak terlepas dari upaya-upaya yang dilakukan TPID Kepri mengendalikan inflasi.

“Diantaranya operasi pasar murah oleh TPID Pemprov Kepri untuk komoditas buah, sayur dan sembako serta TPID Kota Batam untuk komoditas aneka cabai dan telur ayam. Kemudian mendorong kerja sama antar daerah (KAD) dalam menjaga kestabilan stok bahan makanan yang memiliki andil terhadap inflasi yang tinggi, serta meningkatkan kapasitas produksi lokal melalui penguatan kelembagaan nelayan/ petani, perluasan dan implementasi teknik budidaya seperti proliga, urban/integrated/digital farming,” ucap Ansar. (Ian)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

No More Posts Available.

No more pages to load.