Ahok Tidak Menghina Al – Qur’an

by -101 views
by
Mantan-Ketua-Umum-PP-Muhammadiyah-Ahmad-Syafii-Maarif. Foto Repulika.co.,id
Mantan-Ketua-Umum-PP-Muhammadiyah-Ahmad-Syafii-Maarif. Foto Repulika.co.,id

Oleh: Prof Dr Ahmad Syafii Maarif (Mantan Ketua Umum PP Muhammdiyah)

Opini, (MK) – Sekiranya telah membaca secara utuh pernyataan Ahok di Pulau Pramuka, Kepulauan Seribu yang menghebohkan itu, Mantan Ketua Umum PP Muhammdiyah Prof. Dr. Ahmad Syafii Maarif menyampaikan, substansi tulisan ini semestinya sudah disampaikan saat Karni Ilyas, Presiden Lawyers Club mengundangnya pada 11 Oktober 2016 melalui studio Yogyakarta.

Karena semula audio – visual TV ONE dari Yogyakarta beberapa saat tidak berfungsi, sehingga dirinya tidak sempat mengikuti fatwa MUI yang juga dibacakan dengan penuh emosi malam itu.

Menurut Prf. Dr. Ahmad Syafii Maarif, baru belakangan ia dapat membaca isi fatwa itu melalui internet. Dalam fatwa itu jelas dituduhkan bahwa Ahok telah menghina Al – Qur’an dan menghina ulama dan harus diproses secara hukum.

Tetapi malam itu, akal sehatnya mengatakan bahwa Ahok bukan orang jahat yang kemudian ditanggapi beragam oleh berbagai kalangan. Yang menghujatnya cukup banyak, yang membela pun tidak kurang. Semua berdasarkan fatwa MUI yang tidak teliti itu.

Semestinya, MUI sebagai lembaga menjaga martabatnya melalui fatwa – fatwa yang benar – benar dipertimbangkan secara jernih, cerdas, dan bertanggungjawab.

Dari berbagai sumber yang dapat ditelusuri via internet, keterangan lengkap Ahok di Pulau Pramuka, Kepulauan Seribu pada 27 September 2016 adalah sebagai berikut: “Jadi jangan percaya sama orang. Kan bisa aja dalam hati kecil bapak ibu ga bisa pilih saya, karena dibohongin pakai surat Al – Maidah 51 macem – macem itu. Itu hak bapak ibu ya…

”Perhatikan dengan seksama kutipan ini, apakah memang terdapat penghinaan terhadap Al – Qur’an? Hanya otak sakit sajalah yang berkesimpulan demikian. Apalagi jika sampai menista Langit, jauh dari itu. Perkara dikesankan menghina ulama, saya tidak perlu bicarakan disini, karena memang dalam sejarah Muslim sering bermunculan ulama jahat, penjilat penguasa dengan fatwa – fatwa murahannya.

Pokok masalah disini adalah pernyataan Ahok didepan publik disana agar “Jangan percaya sama orang…Karena dibohongin pakai surat surat Al – Maidah 51”. Ahok sama sekali tidak mengatakan bahwa surat Al – Maidah 51 itu bohong. Yang dikritik Ahok adalah mereka yang menggunakan ayat itu untuk membohongi masyarakat agar tidak memilih dirinya.

Bung Zuhairi Misrawi dalam pembicaraan telepon dengan saya pada 3 Nopember 2016 mengatakan bahwa dibeberapa masjid di Jakarta sudah lama dikobarkan semangat agar rakyat tidak memilih Ahok dalam pilkada 2017 karena dilarang oleh ayat di atas.

Bagi saya, apakah Ahok terpilih atau tidak terpilih bukan urusan saya. Itu sepenuhnya urusan para pemilih DKI Jakarta. Saya tidak akan memasuki perang penafsiran tentang ayat itu. Pusat perhatian tulisan ini adalah bahwa tidak benar Ahok telah menghina Al – Qur’an berdasarkan kutipan lengkap keterangannya di Pulau Pramuka, Kepulauan Seribu. Fatwa gegabah MUI ini ternyata telah berbuntut panjang.

Demo 4 November 2016 adalah bentuk kongkretnya. Semoga demo itu akan berlangsung tertib, aman, dan damai. Tetapi jika terjadi insiden yang tidak diinginkan, MUI harus bertanggungjawab, karena gara – gara fatwanya, demo itu digelar.

Kelompok garis keras merasa dapat amunisi untuk tujuan duniawinya. Kekerasan telah jadi mata pencarian. Adapun beberapa politisi yang membonceng fatwa ini, itu bukan untuk mencari kebenaran, tetapi semata – mata untuk mendapatkan keuntungan politik kekuasaan dalam rangka Pilkada DKI Jakarta pada Febuari tahun 2017 mendatang.

Apakah kita mau mengorbankan kepentingan bangsa dan negara, itu akibat fatwa yang tidak cermat itu? Atau apakah seorang Ahok begitu ditakuti di negeri ini, sehingga harus dilawan dengan demo besar – besaran? Jangan jadi manusia dan bangsa kerdil!

Tulisan yang senada dengan ini dapat dicari di internet, seperti ditulis oleh Ahmed Zainul Muttaqien di bawah judul: “Soal Kalimat Ahok,” dan tiga artikel Zuhairi Misrawi dengan beberapa judul yang saling berkaitan.

Yogyakarta, 03 November 2016

Mungkinkah Menistakan Agama?

Kamis, 03 November 2016 | 13:00 WIB

Oleh: Sarlito Wirawan Sarwono (Gurubesar Psikologi Universitas Indonesia)

Demonstrasi dalam rangka membela Tuhan makin banyak. Hal ini membuat saya bertanya, “Mungkinkah membela Agama?”. Pertanyaan selanjutnya, “Sebegitu lemahkah Tuhan dan Agama sehingga memerlukan pembelaan dari umatnya?”

Pandangan saya mungkin tidak begitu populer, tetapi untuk saya, Islam dan Tuhan tidak perlu dibela. Anak – anak, perempuan, orang yang lemah dan tak berdaya, orang fakir dan yatim piatulah yang patut dibela, dan hal itulah yang sesuai dengan ajaran Islam.

Adanya kewajiban untuk membayar zakat dan sunah untuk bersedekah yang banyak sekali jenisnya adalah perwujudan perintah agama untuk membela umat yang memang perlu dibantu.

Setiap orang yang membela umat yang lemah dan menjalankan petunjuk – petunjuk Allah untuk berkeadilan, untuk saling menyayangi dan menghormati dan sebagainya, itulah yang disebut Islami, terlepas dia muslim atau bukan.

Karena itulah penelitian oleh Washington University (2011) menemukan bahwa negara yang paling Islami sedunia adalah Selandia Baru, disusul Luxemburg, dan seterusnya, Singapura pada urutan ke 7, AS ke 15, Israel 17, dan Malaysia 33, sedangkan Arab Saudi pada urutan 99, Indonesia 104, dan hampir semua negara OKI berada di urutan lebih rendah dari 100 (dari 208 negara yang disurvei).

Begitu juga sebuah survei oleh Maarif Institute (2015), membuktikan bahwa kota yang paling Islami di Indonesia adalah Denpasar (Disamping Bandung dan Yogyakarta).

Jika kita bandingkan antara Ahok dengan pemimpin – pemimpin lain yang mengaku Muslim, Ahok jelas bukan malaikat yang tanpa dosa. Namun dia meminta maaf, kalau melakukan kesalahan dan berterimakasih kalau dibantu. Dia (Ahok) memang berkata kasar, tetapi hanya kepada orang – orang yang tidak bekerja dengan baik.

Ibu Risma, Walikota Surabaya yang diidolakan orang (termasuk saya), sering berkata lebih kasar dari Ahok kepada pegawai yang tidak bertanggungjawab atau pemborong yang ingkar janji. Namun tidak ada yang menggugat Risma. Malah Risma didorong – dorong untuk melawan Ahok di DKI Jakarta.

Untungnya Mega masih cukup cerdas untuk menunggu sampai saat terakhir dan mengambil keputusan yang tepat. Bandingkan, capaian Ahok dengan capaian gubernur – gubernur sebelumnya yang semuanya muslim. Baru sekarang orang bisa memancing di Kali Ciliwung dan mendapat ikan. Yang sebelumnya, hanya dapat sepatu.

Dulu, banjir di Jalan Thamrin – Sudirman dan Kemang bisa sehari – semalam, sekarang 2 – 3 jam surut. Beberapa daerah yang dulu langganan banjir, sekarang kering. Jalan – jalan tol, MRT, kereta bawah tanah dibangun terus (padahal ditangan gubernur – gubernur sebelumnya mangkrak semua).

Selama saya bersama tim Prodi Perkotaan, Sekolah Kajian Global dan Srategik Universitas Indonesia, meneliti rusun – rusun di DKI. Saya menyaksikan sendiri sudah berapa Kepala Dinas Perumahan distafkan oleh Ahok gara – gara bekerja tidak benar! Distafkan begitu saja, tanpa ampun.

Sudah juga menjadi rahasia umum, walaupun tidak pernah disiarkan di media massa bahwa Ahok mengalokasikan dana untuk perbaikan – perbaikan masjid – masjid di DKI dan sudah banyak takmir masjid se – DKI yang diumrohkan oleh Ahok dengan dana Pemprov DKI Jakarta.

Dia gusur Kalijodo, tuntas! Tanpa bekas dan tanpa kekerasan, semua menyingkir dengan sendirinya, walaupun sebelumnya rebut – rebut. FPI sendiri yang sering membuat takut masyarakat dengan sweeping – sweeping yang menakutkan, malah tidak pernah sekalipun berhasil menuntaskan masalah lokalisasi.

Sekarang, cobalah bandingkan dengan pemimpin – pemimpin lain yang misalnya, terkait KPK. 90 persen mereka muslim, bahkan ada yang perempuan juga. Mereka menghadiri sidang pengadilan lengkap dengan jilbabnya. Bahkan ada Menteri Agama dan Ketua PKS juga tersangkut KPK, baik yang mengorupsi pencetakan Al – Quran maupun memanipulasi perdagangan daging sapi. Namun kenapa tidak ada yang mendemo KPK?

“Bubarkan KPK. Tangkap pimpinan KPK, karena telah menzalimi pimpinan dan tokoh Islam!”. Bukankah, kalau ditangkapi semua, lama – lama umat Islam kehabisan pemimpin? Dimana logika kita beragama?

Islam Agama Rasional

Akhir – akhir ini Surat Al Maidah Ayat 51 menjadi sasaran tembak untuk menuding Ahok sebagai penista Agama. Inti surat itu adalah melarang kaum muslim untuk memilih pemimpin yang beragama Nasrani dan Yahudi, karena “Sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain”.

Maksudnya, setiap golongan sudah ada pemimpinnya masing – masing. Kalau kita memilih pemimpin Nasrani atau Yahudi, kita akan menjadi bagian dari mereka. Bukan bagian dari umat Islam lagi.

Ayat Al – Quran ini sangat logis, masuk akal dan sesuai dengan teori dasar sosiologi tentang ­in – group dan out – group dan berlaku untuk setiap kelompok apapun.

Sebagai contoh, kalau massa pelajar sebuah sekolah, misalnya sekolah X sedang saling lempar batu dan mengayun kelewang dengan massa sekolah yang lain, misalnya sekolah Y, dan tiba – tiba ada sebagian siswa dari selolah X yang menyeberang ke sekolah Y atau sebaliknya dari Y ke X, sudah barang tentu mereka yang menyebrang itu langsung akan dianggap memihak lawan dan akan dijadikan sasaran lemparan batu.

Namun siapa tahu yang menyeberang itu melihat adiknya atau tetangganya sendiri sedang bertempur di pihak sana, padahal sehari – hari mereka saling bergaul, saling bersahabat dan saling berbincang, kok sekarang jadi bermusuhan?

Boleh jadi yang menyeberang hanya bermaksud melindungi adik atau tetangganya agar tidak terkena lemparan batu atau sabetan kelewang. Jelas si penyeberang tidak bermaksud untuk berganti kelompok. Karena itu pemahaman tentang ­in – group dan out – group harus dilakukan secara kontekstual.

Begitu juga dengan surat Al Maidah. Diluar konteks keimanan, tidak ada salahnya kita berteman, bertetangga, bekerjasama, atau bahkan bekerja pada seseorang Nasrani atau Yahudi, atau penganut agama apapun lainnya (Buddha, Hindu dan Konghucu tidak disebut dalam Al Maidah, apakah boleh kita pilih sebagai pemimpin?).

“Diluar konteks keimanan, tidak ada salahnya kita berteman, bertetangga, bekerjasama, atau bahkan bekerja pada seseorang Nasrani atau Yahudi, atau penganut agama apapun lainnya”

Allah tidak menciptakan manusia seragam, seperti Allah menciptakan semua malaikat yang tahunya hanya menyembah Allah, atau seperti setan yang hanya mau mengikuti hawa nafsunya sendiri.

Allah menciptakan manusia sebagai mahluk yang beragam, dan berlain – lainan golongan. Dalam kondisi yang berbeda – beda, menurut ajaran Agama masing – masing, banyak hal yang bisa kita jadikan contoh bahwa umat manusia selalu bisa bekerjasama.

Ketika kita naik bus, misalnya, kita ikut saja dan percaya bahwa sopirnya mahir dan profesional menjalankan bisnya. Ketika kita menjadi penumpang bis itu, sopirnya adalah pemimpin dari seluruh penumpang harus menaati petunjuk – petunjuknya. Ketika kita naik bis itu, kita tidak bertanya agama sopirnya apa, kan? Yang penting kita yakin bahwa dia memang sopir, bukan tukang bakso.

Jadi kenapa ketika kita akan memilih gubernur, kita sibuk mengurusi agama calon gubernur? Kita juga naik motor, menelpon dengan HP, atau membersihkan tangan pakai dengan tisu tanpa mau repot – repot mempermasalahkan siapa dan apa agamanya dari orang – orang yang membuat benda – benda itu.

Percaya atau tidak, sajadah – sajadah murah tetapi bagus, yang dijual di Mekkah dan selalu dijadikan oleh – oleh oleh mereka yang baru pulang dari Umroh atau Haji, adalah buatan Cina, yaitu negara ‘kafir’ asal – usulnya Ahok.

Ketika Jokowi menjadi calon Presiden, dia juga dimusuhi dan dirusak, malah lebih dahsyat lagi ketimbang nasib Ahok yang dianggap non – pribumi dan Nasrani. Namun Jokowi yang pribumi dan muslimpun difitnah dulu sebagai non – pri (lengkap dengan nama Cinanya) dan Nasrani, untuk kemudian dirusak sebagai non – pri dan Nasrani. Bahkan pembawaan Capres Jokowi sebagai orang Solo asli yang selalu adem, tidak pernah ngomong keras, apalagi kasar tidak menyebabkannya diperlakukan lebih baik dari pada Cagub Ahok, yang orang Bangka – Belitung dan berperangai berangasan.

Jadi, sebetulnya bukan Ahok yang menista Agama Islam, tetapi pihak – pihak yang menuduh Ahok sebagai penista Islam lah yang sedang menista Ahok. Tentu saja karena Ahok manusia biasa, bukan malaikat, apalagi Tuhan, ia bisa saja sewaktu – waktu dinista oleh siapa saja dan dimana saja.

Namun Islam sebagai Agama yang rasional, bukan lah Agama tukang menista. Islam yang rahmatan lil alamin adalah Agama yang penuh damai, dan penuh pemaafan. Inilah yang akhir – akhir ini, di era teknologi informasi dan globalisasi yang sangat rentan akan suasana penuh konflik dan fitnah ini, timbul ketertarikan yang makin lama makin kuat dari orang – orang yang tergolong intelektual yang mencari pesan – pesan spiritual yang menyejukkan hati untuk makin mendalami Islam dan mengupas sisi – sisi baiknya dari Agama kita – kita yang muslim.

Sedangkan diantara yang non – muslim makin lama makin banyak yang berkonversi untuk menjadi muslim. Disisi lain, kondisi umat Islam sendiri di Indonesia sangat awam, tidak kritis dan tidak kreatif, mudah terpengaruh dan sangat emosional. Mereka ini sangat mudah diprovokasi, karena mereka bermain dengan emosi.

“Disisi lain, kondisi umat Islam sendiri di Indonesia sangat awam, tidak kritis dan tidak kreatif, mudah terpengaruh dan sangat emosional”. Maka ketika Ahok dilantik jadi gubernur, kaum pembenci Ahok yang mengatas namakan Islam, juga melantik “Gubernur” mereka sendiri, lengkap dengan seragam putih – putih dan peci hitam, diiringi dengan pekik takbir yang akhirnya lenyap begitu saja dibawa angin lalu.

Dari Rasional Menjadi Rasionalisasi

Inilah yang sekarang terjadi. Karena umat yang mayoritasnya adalah awam dan tidak kritis, Islam mudah sekali diintervensi dari Agama yang rasional (mencari kebenaran), menjadi agama rasionalisasi (mencari pembenaran). Salah satu contohnya adalah apa yang dilakukan Prof. Dr. Amien Rais, tokoh akademik, Guru Besar Ilmu Politik dari UGM yang kemudian menjadi politisi, mendirikan partai PAN, dan pernah menjadi Ketua MPR.

Sebagai Ketua MPR dan penggagas poros tengah, Amien Rais pernah menggagalkan Megawati untuk menjadi Presiden RI, walaupun PDIP adalah pemenang Pemilu 1999 dengan perolehan kursi terbanyak di DPR, yaitu dengan memanfaatkan berbagai dalil agama Islam dari Al – Qur’an dan Hadist yang intinya adalah mengharamkan umat Islam untuk memilih perempuan sebagai pemimpinnya, termasuk sebagai Presiden. Maka Gus Dur, yang digadang – gadang oleh Amien Rais, sukses dilantik menjadi Presiden RI keempat.

Namun tidak sampai dua tahun kemudian (dari periode masa jabatan yang seharusnya lima tahun), Ketua MPR Amien Rais, berulah lagi, yaitu ingin menjatuhkan (meng – impeach) Presiden Abdurahman Wahid.

Lagi – lagi, mantera yang digunakannya adalah ayat – ayat suci Al – Qur’an dan hadist – hadist Nabi, yang kali ini sengaja dipilihkan yaitu yang membolehkan perempuan jadi Presiden, menjadi pemimpin, karena Presiden bukan pemimpin Agama.

Suatu argumentasi yang sama sekali jauh dari rasional, tetapi sangat bermuatan rasionalisasi (mencari pembenaran). Jadi benarlah apa kata suatu hadist, yaitu bahwa kalau kita mau duduk diam manis saja, seluruh dunia akan berubah menjadi lebih Islami dengan sendirinya, seperti kasus Selandia Baru dan Kota Denpasar yang keduanya dibuktikan paling Islami disamping Ahok yang sudah Islami, walaupun belum Islam.

Masyarakat – masyarakat itu sendiri yang akan mengislamkan dirinya sendiri. “Jadi benarlah apa kata suatu hadist, yaitu bahwa kalau kita mau duduk diam manis saja, seluruh dunia akan berubah menjadi lebih Islami dengan sendirinya” Sarlito Wirawan Sarwono. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

No More Posts Available.

No more pages to load.