Batam, (MK) – Anggota DPRD Provinsi Kepulauan Riau, Asmin Patros menyebutkan, pemberlakukan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Batam diharapkan mampu meningkatkan iklim investasi.
“Batam harus siap menghadapi Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) 2016 ini. Maka, keran investasi harus dapat ditingkatkan,” papar Asmin dalam seminar ekonomi di Kampus Ibnu Sina Batam, Kamis (24/3).
Seminar yang mengangkat tema “KEK Batam Dan Dampaknya Bagi Pembangunan Daerah” ini juga digagas oleh Lembaga Study Kawasan Perbatasan dan Pembangunan Kepri (LSKP2K) bersama Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) STT ibnu Sina Batam ini, Asmin juga mengatakan, Dewan Kawasan (DK) dibentuk karena telah terjadi perlambatan pertumbuhan perekonomian di Batam.
“Batam sebagai kawasan perdagangan dan pelabuhan bebas mengalami perlambatan pertumbuhan ekonomi. Maka, keberadaan Dewan Kawasan diharapkan mampu menggairahkan kembali iklim investasi Batam,” kata Asmin.
Dalam seminar yang menghadirkan narasumber Anggota DPRD Kepri, Surya Makmur Nasution, Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI) Kepri serta Hendri Li Youzong, dari anggota Kadin Kepri, Asmin juga memaparkan, selain sebagai daerah yang strategis, Batam diharapkan mampu memberikan kepastian hukum dan jaminan berinvestasi bagi para investor.
“Batam memiliki dua instansi yang kewenangannya perlu disinergikan. Ada Pemko Batam dan BP Batam. Dua pintu birokrasi ini perlu diatur dengan baik,” ujarnya.
Asmin menyebut, keberadaan dua instansi yang sulit berkoordinasi akan menghambat program penyelenggaraan pemerintahan daerah. Sebagai Kawasan Ekonomi Khusus (KEK), maka ada beberapa keunggulan diantaranya daya tarik (competitive advantage), investasi asing meningkat cepat (Industri utama/ besar), pertumbuhan industri atau jasa pendukung (multiplier-effect), pertumbuhan kegiatan ekonomi tidak langsung (spin-over-effect) serta peningkatan pasokan seperti hasil pertanian, peternakan, perikanan, bahan baku industri dan lain – lain dari sekitar Pulau Bintan.
“Kita berharap ikhtiar ini mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat Batam khususnya dan Kepri umumnya,” katanya.
Hal senada disampaikan Surya Makmur Nasution. Dia menilai Batam memiliki lokasi yang sangat strategis. Berhadapan dengan negara – negara maju seperti Malaysia dan Singapura.
“Maka perlu diupayakan untuk menambah nilai jual Batam untuk menyaingi negara – negara tersebut.
Sementara, narasumber lainnya, Gita Indrawan menyebutkan, Kawasan Ekonomi Eksklusif (KEK) adalah strategi untuk meningkatkan investasi serta daya saing perdagangan internasional.
“Sebaiknya, pengembangan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Batam tidak menghilangkan fasilitas yang berlaku pada kawasan FTZ,” ucapnya.
Dia mengemukakan, KEK Batam jangan menghapus fasilitas yang ada di FTZ. Belajar dari sukses pengembangan SEZ di China yang juga menggandeng Singapura.
“Pola kerjasama seperti itu akan diaplikasikan di Indonesia. Saat ini Indonesia memberlakukan SEZ bagi Batam dengan menghapus status FTZ. Tidak seperti halnya China yang telah sukses mengembangkan SEZ dengan tidak menghapus FTZ yang berada dalam kawasan SEZ itu sendiri,” paparnya dihadapan sekitar 150 mahasiswa dari berbagai kampus di Batam.
Hal ini, menurut Gita, dilakukan agar upaya peningkatan pertumbuhan ekonomi bergerak dengan cepat. Tujuan penerapaan KEK dan FTZ adalah sama – sama menarik investasi asing sebanyak – banyaknya, mengerakkan roda perekonomian serta menciptakan lapangan pekerjaan.
“Tujuannya sama, maka sebaiknya FTZ jangan dihapus. Jika dihapus, akan berimbas pada perjanjian – perjanjian kerja perusahaan yang masih menerapkan konsep FTZ,” katanya.
Dia mengutarakan, penerapan KEK sebenarnya memberikan banyak nilai tambah bagi daerah, diantaranya mampu menarik para investor, terutama investor asing untuk berinvestasi dan menciptakan lapangan kerja.
“Hal itu tak lain karena kemudahan yang didapat para investor, kemudahan itu berbentuk kemudahan di bidang fiskal, perpajakan dan kepabeanan,” ucapnya.
Gita memaparkan, kemudahan bidang non – fiscal seperti kemudahan birokrasi, pengaturan khusus di bidang ketenagakerjaan dan keimigrasian, serta pelayanan yang efisien dan ketertiban di dalam kawasan adalah keunggulan kawasan KEK.
“Namun, KEK akan berhasil jika ditopang beberapa hal yaitu lokasi yang strategis, dekat dengan jalur perdagangan atau pelayaran internasional, memiliki infrastruktur yang memadai, serta menggunakan mekanisme kerjasama pemerintah – swasta dalam pengembangan KEK,” katanya.
Menurut dia, tidak sedikit wilayah KEK yang gagal diimplementasikan karena minimnya infrastruktur serta kesiapan Sumber Daya Manusia yang lemah.
“Selain itu belum tertatanya sistem kelembagaan dan manajemen yang baik untuk pengelolaan pengembangan kawasan yang terpadu, belum berkembangnya sistem informasi yang dapat memberikan akses pada informasi produk unggulan, pasar, dan teknologi serta koordinasi dan kerjasama lintas sektor dan lintas pelaku yang belum optimal,” ucapnya. (ALPIAN TANJUNG)
