Jelang Pilkada, Bawaslu Kepri Gelar Diskusi Publik Tangkal Hoax

by -59 views
Salah satu narasumber, Dit Reksrimsus Polda Kepri yang dihadiri Kanit Subdit V Kompol I Putu Bayu Pati saat memaparkan
Salah satu narasumber, Dit Reksrimsus Polda Kepri yang dihadiri Kanit Subdit V Kompol I Putu Bayu Pati saat memaparkan
Iklan Banner

Tanjungpinang, (MetroKepri) – Jelang pesta demokrasi Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) tahun 2020, Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) menggelar ‘Diskusi Publik Tangkal Hoax dan Politisasi SARA di Pilkada 2020 di CK Hotel jalan R H Fisabilillah km 8 atas Tanjungpinang, Rabu (19/02/2020).

Diskusi ini dilaksanakan Bawaslu Kepri bertujuan untuk memberikan pemahaman ke masyarakat tentang berita hoax atau SARA dan cara menangkalnya.

Bawaslu Kepri juga mengundang tiga narasumber yakni, Ketua Presidium Mafindo Septiaji Eko Nugroho, Dit Reksrimsus Polda Kepri yang dihadiri Kanit Subdit V Kompol I Putu Bayu Pati dan KIPP Indonesia Kaka Suminta.

Dikesempatan pertama, Kaka Suminta mengatakan, hoax di pemilihan pasti ada tujuan jahat, bukan hanya sekedar salah ketik karena hoax menurut definisi KBBI berita bohong. Sayangnya, hoax di netizen diartikan berita yang tidak disukai.

“Dalam hal inilah yang harus kita luruskan, bahwa hoax harus kita perangi. Sehingga inilah jadi tantangan kita untuk menangkal berita hoax,” ujarnya.

Kemudian, Septiaji menjelaskan, ada ataupun tanpa niat jahat, media sosial (medsos) pada khususnya mampu membuat masyarakat terpecah belah. Karena, Mafindo telah memeriksa dari Juli 2018 – Maret 2019 ada sekitar 826 topik hoax.

“Jadi, kami telah memeriksa kanal penyebar hoax dan politisasi sara terjadi terbanyak di medsos Facebook (FB), sisanya whatsapp dan twitter,” sebutnya.

“Ini yang membuat masyarakat kita saling bermusuhan. Makanya kita harus bijak memilah informasi yang didapatkan,” tambah Aji sapaan akrabnya Ketua Presedium Mafindo ini.

Terakhir, Kompol I Putu Bayu Pati mengutarakan, kenapa hoax ini dahsyat di Indonesia, karena murah dan susah di lacak.

Sebab, lanjut Dia, cukup dimana ada internet atau wifi, membuat akun anonim serta membuat konten negatif terus menyebarkannya.

“Hoax ini bisa membuat orang percaya, apalagi ada propaganda. Jadi hoax itu tersebar melalui bisa teks, video dan gambar. Penyebarannya bisa di email, medsos, radio, televisi dan situs web,” terang Kompol Putu.

Sementara itu, setelah pemaparan yang diberikan oleh tiga narasumber tersebut, dilaksanakan tanya jawab oleh Komisioner Bawaslu Provinsi Kepri kepada tamu undangan yang hadir dari perwakilan PWI, AJI, IJTI, IWO, Ormas dan mahasiswa. (*)

Penulis: Novendra

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.