Tanjungpinang, (MetroKepri) – Hampir seluruh peserta dari berbagai elemen masyarakat mulai dari Kepala OPD seluruh kabupaten dan kota serta Provinsi Kepulauan Riau, yang menghadir acara Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) Provinsi Kepulauan Riau tahun 2019 di salah satu hotel di Tanjungpinang, Sabtu (30/3/2019) terdiam dan tidak menjawab pertanyaan salah seorang utusan Lembaga Adat Melayu (LAM) Kepri.
Pertanyaan yang dilayangkan Bidang Hal Ihwal, Pentakbiran dan Politik LAM Kepri, Dato Jumadi ini merupakan sebuah pertanyaan sederhana.
“Tuan tuan dan puan puan yang terhormat, tolong tuan dan puan sebutkan nama tempat yang berada di pulau pulau besar di seluruh Provinsi Kepri ini. Baik itu di Pulau Bintan, Pulau Batam, Pulau Karimun, Pulau Moro dan pulau besar lainnya yang pada hari ini belum dapat ditempuh dengan akses jalan darat?,” tanya Jumadi.
Jumadi kembali melontarkan pertanyaan yang sama, namun tidak satu pun peserta yang hadir menjawab. Berselang lima detik, dan tidak ada jawaban dari peserta saat itu, ahkirnya empu dari pemilik pertanyaan tersebut bergumam dan berkata “Meeeeentuuudaaaaaa!”.
Sementara pada pembukaan Musrenbang dengan tegas Ketua DPRD Provinsi Kepulauan Riau, Jumaga Nadeak membentangkan pokok pokok pikiran DPRD yang pertama yaitu meningkatkan sarana dan prasarana mobilitas dan aksebikitas laut, adalah sebuah hal yang miris bagi mereka masyarakat di Desa Mentuda ketika orang lain di Kepulauan Riau sudah membahas bagaimana strategi untuk memperlancar arus barang dan orang dengan mendapat dorongan serta sokongan dari lembaga Legislatif di Negeri Bunda Tanah Melayu dengan pokok pikiran meningkatkan sarana dan prasarana tranportasi laut guna memperlancar aksebilitas.
“Sementara mereka masyarakat Desa Mentuda sampai hari ini untuk pergi ke pusat kecamatan atau pusat kabupaten harus melintasi gelombang laut dengan jarak tempuh sampai beberapa jam. Padahal desa mereka adalah sebuah wilayah yang berada pada pulau yang sama dengan ibu kota kecamatan dan kabupaten yaitu sama sama di daratan Pulau Lingga,” ujarnya.
Masih kata Jumadi, coba tuan dan puan berfikir sejenak. Ketika salah seorang dari mereka pada situasi tertentu dan tidak bisa ditunda tunda lagi harus pergi ke rumah sakit pada saat musim angin utara atau angin selatan.
“Miris sangat miris dan hampir mencapai ke zalim bagi kita yang hari ini duduk disini guna membuat sebuah perencanaan yang tujuan akhir adalah demi kemaslahan dan kesejahteraan masyarakat,” ucapnya.
Dia mengemukakan, sudah lebih dari 5 tahun masyarakat adat dan masyarakat Mentuda menjerit dan berteriak dalam setiap ada proses penampungan aspirasi pada Musrenbang di tingkat kecamatan, tingkat kabupaten bahkan tingkat provinsi.
“Hari ini, saya Jumadi utusan dari Lembaga Adat Melayu bertabek kepada tuan dan puan segenap majelis yang terhormat ini. Menadahkan sepuluh jari meminta dan menghaturkan harapan yang besar kepada tuan dan puan agar dalam majelis ini berkenan membuat kegiatan membuka akses jalan dari Desa Mentuda menuju Sereteh 12 Km atau dari Desa Mentuda menuju Simpang Mentengah jalan ke Sungai Tenam. Dengan harapan masyarakat di Desa Mentuda tidak berburuk sangka dan dapat menikmati azas berkeadilan dalam proses serta menikmati pembangunan di Provinsi Kepulauan Riau yang mereka cintai ini,” katanya.
Jumadi juga meminta izin dan menyampaikan bahwa di Desa Mentuda terdapat sebuah sumber air yang berasal dari pegunungan yaitu Gunung Daik.
“Terdapat air terjun yang dinamai dengan Air Terjun Jelutung, 75 meter dan bertingkat tingkat serta menurut hasil sebuah kajian bahwa Jelutung memiliki debet air sekitar 4000 liter pada musim kemarau dan 6000 liter pada musim penghujan tanpa rekayasa pembangunan infrastruktur,” ucapnya. (*)
Penulis : BUSTAMI
