Ditulis Oleh: Mahasiswa Semester I Teknik Informatika UMRAH
Opini, (MK) – Kata perbedaan, berasal dari kata dasar beda, sesuatu yang menjadikan berlainan (tidak sama) antara benda yang satu dan benda yang lain sumber: (http://kbbi.web.id/beda). Sedangkan perbedaan mempunyai arti beda/ selisih, perihal yang berbeda; perihal yang membuat bebeda (KKBI online http://kkbi.web.id/beda).
Secara umum dapat diartikan bahwa perbedaan itu merupakan suatu keadaan dimana ada sesuatu atau perihal yang berbeda (tidak sama) antara benda yang satu dan benda yang lain.
Kata benda disini dapat juga diartikan sebagai seseorang, sekelompok orang, agama, budaya, suku, adat bahkan kebiasaan.
Zambrudnya khatulistiwa, itulah julukan yang dikalungkan seantero langit kepada tanah air kita, tanah air yang terkenal dengan keanekaragaman agama, suku, budaya, adat, dan kebiasaan.
Tidak bisa kita pungkiri memang dengan banyaknya pulau – pulau tanah air ini menuntut lahirnya berbagai macam perbedaan, baik perbedaan secara material maupun secara sosial. Terdapat perbedaan yang jelas antara masyarakat yang mendiami Riau Kepulauan dan Riau Daratan, walaupun masyarakat ini masih termasuk didalam satu Ras Bangsa.
Memang sebuah kebangaan bagi kita, putra putri tanah air nan kaya ini, dengan semua keanekaragaman tadi. Tapi kita juga harus ingat disetiap kelebihan pasti ada kekurangan, semua kekayaan dan keanekaragaman bangsa kita ini juga bisa menjadi bomerang yang akan menghantam negara kita habis – habisan. Bagaimana tidak, masyarakt akan mulai berkerja hanya dalam kelompok, suku, dan ras nya saja, akan timbul rasa kecenderungan terhadap kelompoknya, hingga lahir rasa diskriminasi antar sesama dan akan timbul kesenjangan sosial dan pada akhirnya fenomena ini akan melahirkan generasi – generasi yang cinta pada golongannya saja, rasa cinta akan Indonesia nya hilang. Bukankah pelangi itu berbeda – beda warna?, namun lihatlah pelangi bisa menjadi sangat indah didalam perbedaannya. Sebenarnya bangsa kita ini juga mempunyai potensi yang besar untuk bersatu dan saling berpadu didalam perbedaan – perbedaan tadi layaknya pelangi.
Dewasa ini, banyak ditemui putra – putri bangsa kita kurang atau bahkan tidak sama sekali mempunyai rasa cinta akan tanah air ini. Banyak dari kita memandang perbedaan yang hadir ditengah – tengah kita sebagai alat pembatas antara sesama. Jika fenomena ini terus berkelanjutan, lantas dimana kedudukan Sumpah Pemuda yang sempat diikrarkan tepat 89 tahun yang lalu.
Pertama, kami Poetra dan Poetri Indonesia mengakoe bertoempah darah jang satoe, tanah Indonesia.
Kedoea, kami Poetra dan Poetri Indonesia mengakoe berbangsa jang satoe, bangsa Indonesia.
Ketiga, kami Poetra dan Poetri Indonesia mendjoendjoeng bahasa persatoean, bahasa Indonesia.
Tulisan teks Sumpah Pemuda ini sengaja dikutip dan dicantumkan, hal ini hanya sekedar ingin mengajak pembaca flash – back dan mengetuk kembali nurani pembaca sambil bertanya, siapa kita?.
Delapan puluh sembilan tahun lalu tepatnya pada 27 dan 28 Oktober 1928 di Jakarta, pemuda – pemuda Indonesia mengadakan rapat besar – besaran, dimana agendanya adalah mendengar pidato pidato dan pendapat – pendapat pemuda seluruh Indonesia.
Pada akhirnya, tanggal 28 Oktober 1928 pemuda – pemuda Indonesia memutuskan untuk mengangkat sumpah dan sumpah ini dikenal dengan Sumpah Pemuda. Memang pada saat itu kita belum lahir ke tanah nan subur ini, tetapi coba kembali tanyakan kepada diri kita sendiri, jika saat itu kita berada diposisi pemuda – pemuda tadi apa yang akan kita lakukan saat itu?.
Namun hal ini akan menimbulkan pertanyaan, jika begitu dimana letak kedudukan perbedaan ras, suku, bangsa, adat, kebiasaan tadi? Apakah akan kita hapuskan? Sehingga tidak ada lagi perbedaan diantara bangsa kita, bukankah keanekaragaman perbedaan tadi merupakan suatu kebanggaan dan kekayaan bagi kita?. Kita kembali lagi belajar kepada pelangi, kedudukan Indonesia adalah sebagai pelangi-nya bukan sebagai warna – warna pembentuk pelangi tadi, dan kedudukan keanekaragaman perbedaan yang ada diantara kita adalah sebagai warna – warna pembentuk pelangi tadi.
Diantara mereka tidak ada rasa keinginan untuk mengeser warna – warna lain dan mendominasi warna sang pelangi karena warna – warna itu sadar jika mereka bebuat demikian maka tidak ada lagi sebutan pelangi yang indah, dan buruknya lagi tindakan tersebut akan menjadi titik awal perebutan kekuasaan diantara warna – warna tadi dengan dasar, jika dia boleh kenapa kita tidak?.
Sama dengan negara kita, Ayo kita belajar dari pelangi, bersatu tidak semestinya karena sama tapi kita bersatu karena kita berbeda.
Namun sayangnya, pelangi tidak akan hadir menghiasi langit tanpa didahului oleh hujan. Kita sadar bahwa untuk membawa semua perubahan itu, tidak semudah membalikkan telapak tangan, sudah berapa banyak tragedi yang terjadi di tengah – tengah bangsa kita dengan alasan berbeda, sudah berapa banyak perselisihan diantara orang – orang besar negara kita hanya karena alasan kita berbeda, yang lebih menyakitkan lagi tak sedikit dari tragedi tadi menumpahkan darah kebumi pertiwi.
Ini menjadi bukti besar sudah berapa jauh kita melangkah membelakangi Sumpah Pemuda? dan sudah berapa jauh kita meninggalkan Pancasila? Memang tidak disadari bahwa kita perlahan – lahan mulai jauh dari patokan awal kita di tanah nan subur ini.
Kita pun mengakui itu, terus hadir kembali pertanyaan. Jika memang itu yang terbaik, apa yang harus kita lakukan?. Ayo, kembali kita putar cuplikan – cuplikan sejarah bangsa kita, bagaimana masyarakat dan pemuda – pemuda yang pada awalnya hanya memperjuangkan daerah dan tempat tinggalnya saja dari belenggu rantai penjajahan, bersatu memperjuangkan kemerdekaan Indonesia tercinta ini? Bukankah mereka berbeda? Bukankah diantara mereka berasal dari berbagai daerah di Indonesia ini?, tetapi bagaimana mereka mampu bersatu didalam perbedaan itu sehingga membentuk satu wajah baru, wajah dengan pengakuan bertumpah darah, berbangsa dan berbahasa satu yaitu Indonesia.
Dan sejarahpun dengan bangganya membuktikan bahwa hal yang menjadi pengikat antara perbedaan satu dan perbedaan lainnya adalah rasa bahwa kita ini sama, sama – sama se Indonesia, sama – sama satu tumpah darah, sama satu bangsa dan sama – sama satu bahasa yaitu Indonesia.
Jadi apa solusi yang tepat untuk menyikapi keadaan saat ini?, apakah kita harus dijajah lagi oleh bangsa asing sehingga akan timbul kembali rasa bahwa kita ini sama?.
Jawabannya adalah “ayo kita kembali bercermin dengan kaca sumpah pemuda, ayo kita kembali ke pelukan Pancasila, sudahkah kita menjadi seorang warga Indonesia atau kita ini hanya seorang warga Indonesia karena kita lahir ditanah nan subur ini saja? “(Bpk Teguh Setiandika Igiasi, Dosen Universitas Maritim Raja Ali Haji).
Pada akhirnya kita hanya ingin mengajak pembaca kembali lagi bercermin dengan Pancasila, dan ayo kita pulang kepangkuan sumpah pemuda. Memang sakit melihat bangsa kita pada saat ini, berapa banyak konflik – konflik yang lahir hanya karena perbedaan daerah, adat, bangsa, dan kepercayaan sekalipun, dan tidak sedikit dari konflik – konflik tadi menyisakan luka yang sangat menyakitkan terhadap bangsa ini.
Ayo kita bersatu karena berbeda bukan berbeda karena bersatu. Ayo kembali kita teriakkan dengan lantang “Bhineka Tunggal Ika” dalam menghadapi krisis persatuan di bangsa ini. Kita ini pelangi yang bersatu karena berbeda. Dari ujung Sabang sampai keujung Merauke, kita ini satu, satu tumpah darah, satu bangsa, dan satu bahasa, yaitu INDONESIA. (*)
Artikel Ini Ditulis Dan Dikirim Oleh;
Mahasiswa Semester I Teknik Informatika UMRAH,
- Raja Azian
- Meiseilena Sundari
- Ezzel Chriatansyah
- Kristinus Vincent Ananda
- Nazimuddin
- Agus Raja Simamora