Pemilu 2019, Masyarakat Harus Cerdas dan Jangan Mudah Terima Hoax

by -85 views
ANITA FRANSISKA, Mahasiswi Administrasi Publik STISIPOL Raja Haji Tanjungpinang
ANITA FRANSISKA, Mahasiswi Administrasi Publik STISIPOL Raja Haji Tanjungpinang

Oleh : ANITA FRANSISKA
Mahasisw
i Administrasi Publik STISIPOL Raja Haji Tanjungpinang

Opini, (MetroKepri) – Disaat ini, kita telah masuk dalam revolusi yang menyebabkan dunia tanpa batas dalam teknologi. Masyarakat dengan mudah mendapatkan informasi yang mereka inginkan di media sosial. Namun sangat disayangkan banyaknya informasi yang diterima masyarakat sehingga sulit membedakan mana yang benar mana yang salah.

Salah satu yang dihadapi masyarakat besar Indonesia adalah tentang berita hoax. Hoax menjadi hobi baru untuk segelincir orang Indonesia. Berita bohong ini sangat tidak jelas sumbernya dari mana sudah menjadi makanan nikmat di media social. Hoax juga menjadi ancaman nyata dalam berkehidupan sosial dan berbangsa.

Tahun 2019, mungkin ini menjadi tahun dimana akan diadakan pesta demokrasi. Masyarakat Indonesia akan memilih pemimpin yang akan menduduki kursi DPD, DPRD, DPR dan juga presiden. Dalam hal ini, banyak calon-calon legislatif yang melakukan kampanye dengan berbagai cara. Hal ini sudah sangat lazim didunia politik.

Selain itu, ada juga sekolompok orang yang menyebarkan berita – berita hoax yang bertujuan agar menimbulkan pandangan yang tidak baik. Dan juga masyarakat lebih mudah menerima tanpa mencari tahu kebenaran yang ada, sebab sosial media disorot masyarakat sebagai perannya dalam mempengaruhi opini publik.

Karena sifat orang yang menyebarkan hoax ini adalah non partai, maka tidak terkontrol. Mereka bisa berkembang tidak hanya di level masyarakat, tetapi dilevel lain seperti kalangan politikus dan memungkinkan memobilisasi massa.

Menjelang Pilpres yang dilakukan pada 17 April 2019, masih banyak berita – berita hoax yang menyerang kedua pasangan calon presiden dan wakil presiden. Misalnya yang pernah menargetkan Jokowi sebuah tautan berita dengan judul “Astaghfirullah, para pejabat diera Jokowi sosialisasi manfaat miras” marak beredar dimedia sosial. Dalam berita tersebut, terpampang Joko Widodo bersama beberapa menteri dan tamu lainnya bersulang mengangkat gelas masing-masing. Berita tersebut bertuliskan di Istana Negara dan kantor-kantor menteri sudah bebas menyajikan minuman beralkohol yang disuplai dari minimarket terdekat.

Dicantumkan juga kutipan yang berasal dari Ketua Progres 98 Faizal Assegraf yang mengatakan ada tradisi baru di lingkungan pemerintahan yaitu tradisi minum miras. Berita ini sudah terkonfirmsi hoax. Ketua Progres 98 Faizal Assegraf yang namanya dicantum membantah kalau dirinya tidak pernah memberikan pernyataan seperti tertulis diartikel tersebut.

Ada pun kasus lainnya mengatasnamakan Jokowi ialah kasus isu-isu PKI, polisi pun berhasil menangkap penyebar berita hoax tersebut. Pelakunya ditangkap di daerah Aceh. Sumber: (merdeka.com).

Tak cuma Jokowi, Calon Presiden yang juga Ketua Umum Partai Gerindra, Prabowo Subianto sering juga menjadi sasaran berita-berita hoax dan ujaran kebencian. Salah satu pelaku berhasil ditangkap polisi akibat ulahnya itu, ternyata bukan cuma Prabowo, banyak tokoh lainnya juga turut menjadi korban.

Sementara itu, Wasekjen Gerindra, Andre Rosiade mengatakan, untuk menyikapi haters dan penyebaran hoax, pasangan Calon Presiden dan Calon Wakil Presiden, Prabowo Subianto – Sandiaga Uno terus bekerja meyakinkan rakyat. Keduanya memaklumi adanya heters pada saat Pemilu 2019 ini.

Serangan hoax dan heters pada Prabowo dan Sandiaga lebih banyak ditunjukkan mengenai pribadi calon yang didukung beberapa partai. Calon Presiden dan Wakil Presiden Jokowi – Ma’ruf Amin maupun Prabowo – Sandiaga harus menghimbau kepada pendukungnya untuk tidak dengan mudahnya menyebar hate speech, fitnah, hoax dan hal – hal lainnya yang dapat mengakibatkan pecahnya persatuan bangsa.

Dengan demikian masyarakat disuguhkan kelebihan-kelebihan bukan kekurangan, kekurangan juga perlu ditampilkan. Akan tetapi jangan sampai menjadi hipperrealitas dan munculnya fitnah, hoax dan sebagainya.

Wasisto Raharjo Jati, staf peneliti di Puslit Politik LIPI menilai fenomena hoax akan terus-menerus meningkat menjelang Pilpres 2019. Salah satu alasan karena berkaitan pada naiknya elektabilitas Jokowi sebagai calon presiden dan sikap politik terhadap Prabowo Subianto. Karena para pembenci ini loyalis, maka kemungkinan besar pasangan-pasangan calon legislatif menjadi sasaran kebencian.

“Namun, intesitas lebih mengarah ke petahana daripada competitor. Karena elektabilitas, figure, ekspektasi public ke pertahana lebih tinggi,” ujarnya.

Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya berita hoax timbul akibat mudah tersulutnya emosi masyarakat, dimana mereka lebih mudahnya mempercayai isu-isu yang tersebar sehingga menimbulkan kerugian untuk orang lain yang dianggap objek dari isu tersebut.

Beberapa juga contoh diatas kita bisa melihat bahwa berita hoax sudah semakin marak dan membawa pengaruh negatif dalam pemikiran masyarakat.

Hal ini harus menjadi perhatian khusus kepada pemerintah untuk menangani tersebarnya berita – berita bohong saat ini. Masyarakat juga harus memiliki pemikiran yang cerdas sebelum menerima dengan mudahnya hoax, penanganan kasus ini tidak hanya dilakukan oleh pemerintah saja akan tetapi bisa dilakukan oleh lembaga pendidikan maupun secara individual.

Lembaga pendidikan juga dapat berperan dalam memberikan edukasi mengenal bagaimana ciri-ciri berita hoax dan bagaimana cara menyikapi hal tersebut. Sedangkan secara personal masyarakat dapat membantu dalam meminimalisir tersebarnya berita hoax yakni dengan tidak mudah mempercayai dan menyebarkan berita yang judulnya berupa tuduhan-tuduhan pada pihak tertentu.

Kita sendiri sebagai individu, juga harus memiliki sifat tanggungjawab terhadap informasi yang diterima. Pencegahan informasi yang salah dan berita hoax juga harus dimulai dari diri sendiri agar dengan tidak mudahnya menyebarkan atau membagikan informasi-informasi palsu. Oleh karena itu, pencegahan berita hoax ini harus dilakukan oleh pembekalan pengetahuan terhadap masyarakat tentang teknologi yang mencakup media sosial dan literasi digital.

Selain itu pencegahan pun juga dapat dilakukan dengan mengembangkan alat anti – berita hoax. Diharapkan nantinya setelah dilaksanakan upaya pencegahan tersebut, masyarakat lebih dapat mengenali ciri-ciri berita hoax dan melakukan pola internet yang baik dan sehat agar dapat terhindar dan tidak terjerumus dalam maraknya hoax di Indonesia.

Terdapat beberapa langkah sederhana agar kita atau masyarakat sekitar dapat mengidentifikasi mana berita asli mana berita palsu atau hoax yang diuraikan oleh Ketua Masyarakat Indonesia Anti Hoax, Septiaji Eko Nugroho yaitu sebagai berikut;

Yaitu harus berhati-hati dengan judul-judul provokatif, berita hoax seringkali menggunakan judul yang langsung menuding pihak tertentu, cermati situs maksudnya apakah sumber sudah terverifikasi atau belum, yang selanjutnya periksalah fakta darimanakah asal berita dan sumbernya.

Sebaiknya jangan cepat percaya apabila informasi berasal dari pegiat ormas, tokoh politik, atau pengamat, dan cek keaslian foto caranya dengan mesin pencarian google dan yang terakhir masyarakat bisa ikut serta dalam kegiatan anti hoax yang diadakan didaerah masing-masing.

Dengan langkah-langkah sederhana ini semoga masyarakat dapat memilah mana saja informasi-informasi yang benar atau yang salah dan dapat melaksanakan Pemilu 2019 yang aman damai tanpa hoax. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

No More Posts Available.

No more pages to load.