Tanjungpinang, (MK) – Aksi brutal para napi teroris terhadap polisi dalam kerusuhan di Rumah Tahanan (Rutan) Mako Brimob Kelapa Dua, Depok, Jawa Barat belum lama, juga menjadi perhatian Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Provinsi Kepri.
Ketua FKPT Kepri, Dra. Hj. Reni Yusneli MTP mengatakan pencegahan dan antisipasi aksi radikal harus dilakukan secara bersama – sama dan berkesinambungan. Karena dampak dari aksi teroris sangat menganggu kenyamanan dan keamanan.
“Setelah ditangkap dan ditahan saja, napi teroris masih tetap membahayakan. Ini yang harus kita antisipasi dan mencegah secara dini agar sama – sama memerangi teroris. Teroris adalah musuh bersama,” papar Reni Yusneli, Jumat (11/5/2018).
Reni yang menjabat Kadispenda Provinsi Kepri ini juga menyampaikan FKPT Kepri sudah melakukan berbagai program sosialisasi pencegahan aksi terorisme di Kepri kepada para pelajar, mahasiswa dan para pemuda dan tokoh – tokoh agama.
“FKPT tugasnya lebih pada pencegahan dengan melakukan sosialisasi dan pelatihan. Saat ini, sudah ada 32 FKPT yang tersebar di 32 provinsi yang dibentuk oleh Badan Nasonal Penanggulangan Teroris (BNPT),” ujar Reni.
Menurutnya, Kepri yang berbatasan dengan tiga negara tetangga, serta kondisi wilayahnya yang mayoritas perairan, juga menjadi daerah yang rentan terhadap aksi – aksi radikalisme.
“Untuk mencegah kemungkinan terjadi, kita bersama elemen penegak hukum terus melakukan sosialisasi dan pelatihan. Termasuk pada bulan lalu, FKPT mengelar pelatihan literasi digital di Batam, karena aksi teror dan hoaks di jejaring sosial sudah semakin memprihatinkan,” ucapnya.
Selain itu, masih kata Reni, akhir bulan ini FKPT juga akan menggelar sosialisasi untuk pelajar dan perempuan.
“Kita bekali anak – anak tentang bahayanya aksi teroris serta kita arahkan mereka untuk mengisi waktunya dengan melakukan hal – hal yang bermanfaat bagi diri mereka serta bagi orang disekitarnya,” tutur Reni.
Reni mengutarakan, BNPT sebagai lembaga pemerintah nonkementerian juga diamanatkan menangani terorisme, juga memandang penting aspek pencegahan yang bersifat lunak dalam upaya mewaspadai berkembangnya radikalisme dan terorisme yang membajak kepercayaan tertentu di masyarakat.
“Pelatihan – pelatihan yang kita gelar ini sebagai upaya untuk meningkatkan daya tangkal masyarakat, khususnya generasi muda dalam menolak ajaran dan ajakan kekerasan yang diinisiasi kelompok radikal terorisme,” katanya.
Dia mengemukakan, BNPT dan FKPT se – Indonesia akan terus melakukan sosialisasi yang tujuannya memberikan gambaran secara jelas kepada masyarakat khususnya generasi muda mengenai terorisme di Indonesia meliputi ancaman, kerawanan, hingga pertumbuhannya, sebagai bagian dari kewaspadaan bersama dalam upaya pencegahan terorisme. (Red/ Rls)
