Lingga, (MetroKepri) – Pengolahan sagu di Desa Pekaka Kecamatan Lingga Timur, Kabupaten Lingga sudah menjadi kegiatan turun temurun sejak dari zaman kerajaan Riau Lingga sampai sekarang.
Tanaman sagu juga bisa dijadikan makanan pokok bagi masyarakat tempatan bahkan masyarakat Melayu di sekitaranya.
Salah seorang warga Desa Pekaka yang aktif dalam usaha pengelolahan sagu, Agustian merasa senang mengolah tanaman tersebut. Selain itu, perawatan tanaman sagu itu juga sangat mudah.
“Kami sangat senang dengan mengolah dari batang sagu sehingga menjadi saripati sagu ini. Perawatan tanamanya pun sangat mudah sekali. Karena, tanaman sagu beranak pinak seperti pohon pisang. Tak susah susah nak dipupuk lagi dan tiap tahun kite tinggal panen saja,” ucap Pak Bagas sapaan akrab Agustian ini, Sabtu (5/1/2019).
Dia mengutarakan, tanaman sagu ini juga hidup di lahan rawa paya yang sebagian besar terletak di Desa Pekaka dan desa desa sekitaran di wilayah Kabupaten Lingga khususnya di wliayah Kecamatan Lingga, Lingga Timur dan Lingga Utara. Karena, rata rata tanahnya rawa datar dan asam.
Kemudian, proses penebangan dan pengolahan sagu tersebut setelah tanamannya dinyatakan sudah besar dan tinggi dan berisi yaitu lebih kurang pohonnya berusia dua tahun dengan ciri ciri hujung pohonnya sudah tinggi dan mengecil serta memutih di pelepahnya.
“Kalau batangnya sudah mulai meninggi dan sudah memutih, baru bisa kita tebang dan diolah untuk diambil saripatinya,” kata Pak Bagas.
Tanaman sagu yang telah diolah menjadi saripati, bisa dijadikan makanan khas Melayu Lingga yang sudah cukup populer keseluruh penjuru tanah air. Seperti laksa, lempeng, sagon, gubal, kempurun dan masih banyak lagi.
Selain itu, tepung sagu juga bisa dijadikan bahan campuran untuk membuat kerupuk ikan/ udang dan kue seperti kue bangkit dan lain lain.
Oleh karena itu, pengolahan tanaman sagu/ rumbia yang sangat menjanjikan ini diharapkan pemerintah daerah dapat membantu masyarakat petani sagu. Baik itu memberikan pembinaan dan sekaligus mengangkat harga pasaran sagu mengingat tanaman sagu sudah merata di wilayah Bunda tanah Melayu ini.
Maka, hanya perlu sedikit bimbingan untuk pengembangan dan pemasaran yang memadai. Karena dari hasil sagu, sudah cukup banyak melahirkan sarjana dan generasi yang potensial di Kabupaten Lingga ini. (*)
Penulis : BUSTAMI
