Natuna, (MetroKepri) – Jalan tanah yang terletak di Jalan Katif Hasyim RT 004/ RW 001 Kelurahan Ranai Darat Kecamatan Bunguran Timur kini telah berubah. Perubahan itu terjadi setelah di kanan dan kiri jalan berdiri batu miring.
Berjarak sekitar seratus meter dari jalan masuk, sebuah plang proyek berdiri tegak. Pada plang proyek tersebut tertulis, Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau Dinas Perumahan dan Kawasan Pemukiman.
Pada plang tersebut tercantum program penataan bangunan dan lingkungan serta kegiatan penyediaan penyelenggaraan PSU permukiman kawasan kumuh perkotaan.
Kemudian, pekerjaan pembangunan batu miring dengan nilai kontrak Rp170.795.000 ini masa pelaksanaannya selama 30 hari kalender dengan kontraktor CV Air Bunga, sedangkan untuk konsultan pengawasnya tidak tercantum.
Pelaksanaan pembangunan batu miring itu juga menimbulkan kecurigaan, pasalnya proyek tersebut diduga tidak tepat sasaran karena bukan usulan dari masyarakat sekitar.
“Proyek batu miring ini bukan usulan dari masyarakat disini. Entah kenapa tiba – tiba ada. Kami usulkan jalan beton bertulang dan drainase, tidak cocok dibuat batu miring disini,” papar pria paruh baya yang tidak ingin namanya disebutkan di media ini, Selasa (04/09/2018).
Sepengetahuannya, sebuah proyek harus melalui musrenbangcam. Jadi dia tidak tahu permainan apa yang sedang terjadi pada proyek ini.
Lebih lanjut pria paruh baya ini menceritakan, selama proses pelaksanaan pekerjaan, kedalaman pondasi digambar perencanaan 40 cm, setelah dilihat dilapangan, pekerja hanya menggali kedalaman 20 cm saja.
“Digali sekiitar 20 cm, saya tegaskan kepada pengawasnya harus kedalaman 40 cm. Saya jelaskan, daerah sini kalau musim hujan air cepat dan laju. Tidak bisa sembarangan, nanti batu miringnya bisa ambruk. Kalau sudah ambruk masyarakat disini yang repot. Pengawas jawabannya, iya pak – iya pak, tapi teori kerjanya masih seperti itu juga dan tidak peduli,”, katanya sambil menggelengkan kepalanya.
Dia sangat menyayangkan, pengawasan pada proyek ini kurang maksimal, sehingga pihak kontraktor seperti bisa bermain pada volume pekerjaan.
“Selain tidak tepat sasaran, pekerjaan proyek inipun kurang maksimal,” imbuhnya. (MANALU)
