Oleh : Yulia
Mahasiswi Program Studi Ilmu Pemerintahan Stisipol Raja Haji
Opini, (MetroKepri) – Corona (Covid-19) virus baru yang ditemukan pada akhir Desember 2019 di kota Wuhan menjadi perbincangan hangat. Virus yang menyerang sistem pernafasan ini dapat menyebabkan gangguan pada sistem pernafasan, pneumonia akut, serta kematian.
Virus ini dengan cepat menyebar kewilayah lain di Cina dan ke beberapa negara. Serta virus ini dapat menyerang siapa saja dan tidak memandang umur baik itu bayi, anak – anak, dewasa, lansia, bahkan ibu hamil maupun ibu menyusui.
Indonesia salah satunya, berdasarkan data terdapat 2 WNI yang positif terkena virus corona baru-baru ini. Kedua warga negara Indonesia itu diketahui sempat melakukan kontak dengan warga negara jepang berusia 41 tahun. Orang jepang tersebut dinyatakan terjangkit virus Corona ketika di Malaysia.
Hal ini tentu menjadi momok bagi setiap masyarakat di Indonesia. Dengan hal ini masyarakat tentunya menjadi resah terhadap virus ini. Dengan dinyatakan virus corona telah memasuki Indonesia, tentunya banyak yang mengambil langkah awal yaitu mencegah.
Banyak kita mendengar istilah atau pepatah “lebih baik mencegah daripada mengobati” mungkin hal itu lah yang dilakukan setiap orang saat ini.
Sementara Presiden Indonesia Joko Widodo menuliskan di laman instagramnya pada (08 Maret 2020) meminta masyarakat tidak perlu panic buying berlebihan “kita boleh khawatir atas virus corona, tapi tidak perlu panik. Kita bisa melewatinya dengan bersatu, bekerja sama, dan tidak kehilangan rasa kemanusiaan.
Salah satu acuan masyarakat untuk mencegah virus ini adalah masker. Masker merupakan alat pencegahan yang sekarang diminati oleh banyak orang untuk melakukan pencegahan terhadap virus yang membahayakan pernafasan ini.
Masker yang efektif melindungi dari polusi, kini menjadi efektif juga melindungi dari virus atau bakteri dan menjadi barang primadona oleh konsumen.
Masker kini telah banyak diminati oleh masyarakat, karena itu lah masker pun menjadi langka. Jikalau ada dijual pun harga masker melonjak dari harga sebelumnya bahkan bisa meroket 10x lipat.
Dibeberapa apotek di Kota Tanjungpinang, masker tiga lapis sekarang sulit ditemukan. Masker yang awalnya sangat membantu untuk pencegahan virus yang bisa menyebabkan kematian ini, kini terasa seperti mencekik leher masyarakat di kalangan bawah yang tidak mampu membeli masker dengan harga tinggi. Tentu dengan adanya hal ini ada beberapa penyebab kelangkaan masker.
Ketua Indonesian Nonwoven Association (INWA) Billy Hidjaja yang juga owner PT. Hadtex mengatakan peredaran masker dalam negeri memang kian langka sejalan wabah corona.
Kebutuhan masker untuk dalam negeri saat ini lebih banyak diisi dari pasokan import. Apalagi, produksi dalam negeri juga sedang dalam kondisi yang tidak mendukung saat ini alias tak bisa memenuhi kebutuhan. “produksi (masker) Indonesia terbatas. Selama ini banyak barang impor” (Sumber: CBNC Indonesia).
Penyebab lain juga dari banyaknya oknum yang memanfaatkan momen wabah virus corona dengan mencari keuntungan. Tapi, dengan cara yang curang. Yaitu menimbun masker. Menimbun masker kini menjadi hal yang paling disayangkan dari berbagai pihak. Karena dengan cara begitu oknum tersebut dinilai tidak memiliki rasa empati terhadap virus ini. Serta memanfaatkan kekhawatiran atau kepanikan masyarakat atas ancaman penyebaran virus corona ini.
Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) Tulus Abadi mengingatkan bahwa terdapat sanksi bagi pihak-pihak yang terbukti sengaja menimbun masker. Bahkan sanksi bisa berujung pidana. Dalam konteks tersebut, pelaku usaha wajib memperhatikan Pasal 107 UU NO.7 Tahun 2014 tentang perdagangan.
Pasal ini berisi ancaman sanksi pidana penjara maksimal 5 tahun, dan/ atau pidana denda Rp.50 miliar bagi pelaku usaha yang melanggar larangan menyimpan barang kebutuhan pokok atau barang penting dalam jumlah dan waktu tertentu pada saat terjadi kelangkaan barang, gejolak harga, atau hambatan lalu lintas perdagangan (Resa, 2020 Hukum Online).
Penyebab selanjutnya adalah panic buying berlebihan. Mereka akan menyerbu apotek untuk memborong dan menjadi alasan untuk persediaan/safety dirumah mereka saja. Kenyataannya masker yang awalnya diperuntukkan untuk orang sakit serta tenaga medis, kini disalahgunakan.
Antara masker dan corona keduanya tentu kini menjadi seperti dua sejoli yang tengah naik daun dimata masyarakat. Ada tiga kriteria membuat seseorang wajib memakai masker. Pertama, memiliki dengan gejala batuk atau pilek. Kedua, petugas kesehatan yang merawat pasien dengan gangguan pernafasan. Kriteria terakhir, orang sehat yang merawat individu dengan gangguan pernafasan. Karena itulah masker tidak perlu digunakan oleh orang sakit.
Dengan hal tersebut, masker tidak melonjak dan langka. Karena bukan hanya terhindar dari virus corona kita harus menggunakan masker. Namun, masih ada cara pencegahan virus corona seperti mencuci tangan dengan benar, mencuci tangan merupakan hal yang sederhana namun efektif mencegah virus corona.
Menjaga daya tahan tubuh seperti mengonsumsi vitamin. Menghindari kontak langsung dengan hewan yang berpotensi menularkan virus corona serta masih banyak hal lain perlu kita lakukan dalam pencegahan virus corona ini.
Virus corona memang sangatlah berbahaya dan perlu adanya pencegahan, namun masyarakat melakukan pencegahan tidak perlu berlebihan ataupun tidak perlu panik. Pecegahan virus corona memang sangatlah penting. Masyarakat sejak sekarang harus mempersiapkan diri untuk melawan adanya virus corona.
Pemerintah juga diharapkan memperkuat pencegahan virus yang berbahaya ini dan menjelaskan kepada masyarakat bahwa corona harus dilawan, bukan menjadi salah satu hal yang dapat diambil keuntungan bagi oknum yang tidak bertanggungjawab. (*)
